Keenar, Ketika Hati Dipaksa Untuk Berbagi

Keenar, Ketika Hati Dipaksa Untuk Berbagi
Lelaki tampan itu....


__ADS_3

"Tapi Han.. kasihan Vivian, apalagi dia sedang mengandung. Walaupun kita tahu itu entah anak siapa. Tapi setidaknya tolonglah berikan dia perhatian selama dia hamil Han.. " Pinta Kayana.


Raihan menghela napas dan menggeleng sambil tersenyum sinis pada Kayana.


"Tujuan kamu ngomong kayak gini apa Kay? Kamu wanita Kay, seharusnya kamu tidak berpihak pada Vivian sekalipun dia sahabatmu. Kamu tahu aku sudah menikah, bagaimana kalau seandainya kamu ada diposisi istriku?"


"Aku hanya tidak ingin ada hal yang lebih besar lagi terjadi Han.. " ucap Kayana menerawang.


"Maksud kamu??" tanya Raihan tak mengerti.


Kayana hanya mengendikkan bahu dan keluar dari mobil Raihan.


Sebelum pergi, Kayana sempat berpesan:


"Kamu pikir-pikir lagi Han, permintaanku tadi. Karena menyesal hanya ada dibelakang" Kayana berjalan meninggalkan Raihan yang termangu.


"Kenapa jadi gue yang seolah harus bertanggung jawab" gumam Raihan.


Raihan akhirnya meninggalkan Rumah Sakit dan kembali pulang.


Sesampainya di rumah ternyata sudah ada mbak Cindy yang berkunjung dan sedang menggendong Zafran.


"Assalamualaikum.. loh mbak kapan datang? sudah sehat?? dianter siapa?" tanya Raihan saat melihat tidak ada mobil Cindy di halaman.


"Belum lama sih.. udah mendingan lah, kalau dibawa tiduran aja nanti malah manja akunya. Jadi mendingan aku kesini aja, cari temen ngobrol. Tadi diantar Mas Harlan terus mas Harlan langsung berangkat ke kantor. kamu kok baru pulang? semalam gak pulang ya?"


"Iya mbak, ada kerjaan penting. Jadi lembur dulu" jawab Raihan asal dan segera pergi sebelum banyak pertanyaan. Tidak mungkin dia bilang kalau habis menemani Vivian si Rumah Sakit.


"Loh mas.. kenapa baru pulang? semalam tidur dimana? Kenapa gak ngabarin? bikin khawatir" omel Keenar saat melihat Raihan masuk ke kamar.


"Maaf sayang, semalam mas lembur, mas juga lupa telpon kamu. Maaf ya?" pinta Raihan sambil menggenggam tangan Keenar.


Keenar berusaha mencari kejujuran di mata suaminya. Walaupun sempat curiga namun Akhirnya Keenar mengangguk walaupun hati kecilnya berkata kalau Raihan berbohong. Malas sekali rasanya kalau harus berdebat sekarang saat dirinya sedang menikmati masa indah setelah badai melanda.


"Yasudah, mas mandi dulu saja. Bajunya aku siapkan" ucap Keenar akhirnya.


"Terima kasih sayang" Raihan mengecup keningnya.


Entah kenapa, sekarang Keenar setelah permasalahan yang mereka hadapi kemarin, rasanya hati Keenar sudah membeku. Apapun hal manis yang dulu selalu membuatnya bahagia, sekarang rasanya hanya pemanis buatan belaka. Hambar. Entah masih ada cinta atau tidak dihatinya untuk Raihan. Satu-satunya alasan dirinya bertahan hanya Zafran.


Keenar menemui mbak Cindy di beranda.


"Mbak sudah ketemu mas Raihan?" tanya Keenar.


"Sudah, kok kelihatan kucel sekali ya? apa karena lembur? biasanya seperti itu Kee?" cecar Cindy.


"Akhir-akhir ini sih enggak mbak, selalu pulang awal. Kalau beberapa bulan lalu iya, seperti ini, cuma lebih cuek. Kalau ini biasa saja, seperti hari biasa. Aku gak mau suudzon, semoga mas Raihan sudah tidak mengulangi kesalahannya lagi" ucap Keenar.

__ADS_1


"Semoga saja ya Kee, tapi kita harus selalu waspada. Masalahnya ular betina itu masih berkeliaran cari bapak buat anaknya"


"Iya mbak itu yang aku takutkan. Tapi aku mencoba percaya sama Mas Raihan. lelah, sedih, dan macam-macam rasanya mbak kalau ingat saat-saat kemarin itu. Jangan sampai kejadian lagi lah... "


"Aamiin. kita sama-sama berdoa saja Kee, semoga ular betina itu dapat mangsa lain jadi dia melupakan suami kita" doa Mbak Cindy.


Keenar mengangguk dan mengaminkan. Lalu mereka membahas kehamilan Cindy yang sudah masuk minggu ke 8.


"Aku sekarang maunya ngemil terus Kee, rasanya aneh kalau gak ada camilan atau makanan apalah gitu yang bisa kumakan"


"Iya biasa mbak itu mah, gak apa-apa. Wajar saja. mas Harlan bagaimana? tambah sayang pastinya kan yaaaaa" Ledek Keenar.


"Iya Kee, apa aja yang aku minta pasti diturutin, rasanya semakin disayang aja sih"


"Alhamdulillah kalau gitu mah mbak, semoga mas Harlan semakin sayang sama mbak Cindy"


Saat mereka masih bercengkerama di beranda. Raihan menerima telpon dari Kayana kalau Vivian memaksa pulang sore ini saja kalau Raihan tidak menemaninya malam ini.


"Ditahan dulu lah Kay, apa susahnya sih dia nunggu besok" omel Raihan.


"Udah aku bujuk ya Han, tapi dia kan memang keras kepala. Tahu sendiri lah.. " keluh Kayana.


"Yasudah bilang sama dia, nanti malam aku kesana" ujar Raihan akhirnya.


Di Rumah Sakit, Vivian tersenyum penuh kemenangan saat mendengar Raihan akan menemuinya malam ini.


Kayana yang mendengar ucapan Vivian hanya bisa mencibir. Apalagi saat nama pakde Gimo disebutnya.


"Percaya banget sama dukun" Cibir Kayana.


"Loh memang kerjaan pakde Gimo itu keren loh Kay. Susuk yang dia pasang memang ampuh".


"Lu pasang berapa susuk? dimana aja?" tanya Kayana.


"Rahasia dong yaaaa.. ahahahaa pasang dimana lagi ya abis ini" Vivian tertawa senang.


"Gak usah gila Vi, banyak amat mau pasang lagi. Itu konsekuensinya loh. Gak main-main" nasihat Kayana.


"Halaah gue gak peduli. apapun resikonya kan gue yang nanggung, lu cuma anterin gue aja. jadi jangan banyak omong"


Kayana hanya menarik napas panjang. Percuma, menurutnya. Vivian tidak akan mendengar nasihat siapapun saat sudah ada keinginan. Apapun resikonya, dia tidak akan peduli.


"Gue pengen jalan-jalan keluar sih, bentar loh Kay, temenin yuk. Kalik aja lu dapet jodoh disini ntar" ucap Vivian asal.


"mulut lu Vi!!" Kayana menyentil mulut Vivian.


Kayana mendorong kursi roda Vivian untuk berjalan-jalan di sekitar lorong rumah sakit.

__ADS_1


"Harusnya gak perlu pakai kursi roda loh Kay, gue juga bisa jalan kaki. Kayak orang sakit aja pake kursi roda" keluh Vivian.


"Kan lu emank sakit Vi, kalau lu gak sakit ya gak mungkin lu dirawat di sini".


Saat mereka sedang berjalan-jalan, terlihat seorang pria tampan sedang memperhatikan mereka dari jauh.


"Cantik, tapi sepertinya sedang hamil" gumamnya serasa menghela napas tapi matanya terus memperhatikan mereka berdua. Hingga tak lama kemudian, Kayana dan Vivian duduk di dekat laki-laki tersebut.


"Istirahat dulu lah Vi, capek gue" keluh Kayana.


"Yaudah duduk disana aja" tunjuk Vivian ke arah tempat laki-laki tadi yang kebetulan ada kursi kosong di dekatnya.


Kayana mengarahkan kursi roda yang dinaiki Vivian kesana.


"Akhirnya bisa duduk jugaaa" Kayana langsung duduk disebelah laki-laki tadi.


Vivian memperhatikan laki-laki tampan disebelah Kayana yang sedang sibuk dengan ponselnya.


"Tampan" batin Vivian.


"Vi, jadi rencana lu setelah ini gimana?" tanya Kayana tiba-tiba.


"Ya yang gue bilang tadi pagi" jawab Vivian tapi matanya tak lepas dari laki-laki tampan itu.


"Kalau gak berhasil juga?"


Vivian terdiam dan menghela napas.


"Ya bakal gue hadapi sendiri. Biar gimana juga anak ini gak salah Kay. Entah kenapa gue terlanjur sayang sama anak ini. Walaupun gak ayahnya juga gue masih bisa gedein dia kok" lirih Vivian.


"Bagus Vi, gue tahu lu kuat. Lu pasti bisa hadapin ini. Gue selalu ada buat lu" Kayana menggenggam tangan Vivian.


"oh, ternyata hamil gak ada ayahnya" batin laki-laki tampan tersebut yang ternyata diam-diam menyimal pembicaraan mereka berdua.


Saat Vivian dan Kayana masih berbicara, laki-laki itu tiba-tiba menjatuhkan ponselnya ke bawah dan membuat mereka berdua kaget.


"Eh maaf kaget ya? maaf.. saya tidak sengaja" ujar Laki-laki itu.


"Iya gak apa-apa mas. Santai saja" ucap Kayana. Vivian masih terdiam memperhatikan.


"Saya Vano" Lelaki itu mengulurkan tangab pada Vivian. Vivian masih terdiam.


"Vi!!" tegur Kayana agak keras dan membuat Vivian kaget.


"Eh iya,Vivian" Vivian memperkenalkan diri.


"Kayana" Kayana menyebutkan namanya.

__ADS_1


Apakah ada sesuatu antara Vivian dan Vano???? ikuti terus kelanjutannya yaaa....


__ADS_2