
"Kee, aku tahu kalau kesalahan aku sama kamu sulit untuk dimaafkan. Tapi aku mohon sama kamu Kee, kasih aku kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya, demi pernikahan kita, demi anak kita" pinta Raihan pada Keenar yang masih juga diam.
"Anak kita? kamu sudah mengakuinya mas kalau itu anak kamu?" Sinis Keenar.
"Maafkan aku Kee" Raihan terus saja meminta maaf pada Keenar.
"Mas, kamu sudah sadar apa yang kamu perbuat sama aku itu udah kelewatan, sebenarnya aku berat maafin kamu, kalau boleh jujur, aku jijik lihat kamu mas. Tapi demi anak kita, aku akan coba memaafkan kamu. Mari kita tutup masalah kemarin dan jangan kita ungkit-ungkit lagi. Lupakan kalau kita pernah bermasalah. Aku pegang janji kamu mas kalau kamu akan berubah" Jelas Keenar panjang lebar.
"Terima kasih sayang. Terima kasih. Aku gak akan sia-siakan kalian lagi " Raihan langsung menciumi Keenar.
Keenar masih saja merasa asing Walapun suaminya sudah meminta maaf dan berjanji padanya. Hati kecilnya berkata, tidak akan semudah itu masalah ini selesai. Keenar yakin akan ada masalah baru setelah ini akibat dari tobatnya Raihan. Siapa lagi kalau bukan ulah dari Vivian, wanita penggoda rumah tangganya.
"Mas, aku boleh minta sesuatu?" pinta Keenar.
"Apa? kamu pengen apa? pasti mas kabulkan kalau mas sanggup" ujar Raihan cepat tanpa berpikir lebih lanjut. Mungkin dipikirnya Keenar ingin belanja atau apalah urusan wanita.
"Bisa gak kalau mas tidak perlu lagi berhubungan dengan perempuan itu? Blokir semua nomornya" Keenar malas menyebutkan namanya. Jijik rasanya bibirnya kalau menyebut nama itu.
Raihan terdiam. Seperti Ragu dengan permintaan Keenar.
"Kalau mas tidak sanggup ya gak apa-apa aku gak maksa. Kalau gak sanggup langsung berpisah mungkin pelan-pelan mas lupakan dia" keenar mencoba memberi solusi.
"Enggak, mas sanggup. Mas blokir sekarang ya nomornya" Raihan langsung mengambil ponsel dikantongnya dan Memblokir nomor ponsel Vivian di depan Keenar.
"Lihat, langsung mas blokir nomornya. Sekarang kamu percaya kan sama mas?" Raihan menatap Keenar penuh harap.
'
Walaupun otak Keenar menolak tapi hati kecil Keenar menerima dan berusaha percaya lagi.
Keenar mengangguk dan tersenyum.
Raihan pun langsung memeluk Keenar dan menciumi wajahnya.
__ADS_1
Apakah kisah ini akan Happy ending sampai disini saja? Tentu tidak kawan.. Kebahagiaan mereka hanya sampai tiga bulan saja, karena setelahnya badai kembali datang, siapa lagi Kalau bukan wanita penggoda, Vivian.
Setelah terakhir kali Vivian dan Raihan berhubungan di apartemen, Raihan sama sekali tidak menghubungi Vivian. Vivian yang tadinya merasa di atas angin karena sudah menaklukkan Raihan, merasa bingung karena Raihan menghilang. Tidak bisa dihubungi, Vivian datang ke kantornya pun, staf kantornya menghalangi untuk bertemu Raihan. Selalu bilang meeting di luar atau sedang ada tamu dan tidak bisa diganggu.
Karena tidak bisa menghubungi Raihan dan kehilangan akses untuk bertemu Raihan, akhirnya Vivian nekat datang ke rumah Raihan dan Keenar.
Dengan gayanya yang sok elegan tapi terlihat sombong, Vivian datang ke rumah Raihan. Kebetulan di rumah ada Keenar, Cindy yang sedang datang berkunjung untuk menjenguk keponakannya, dan mbak Aminah.
Saat masuk ke dalam rumah, Vivian mengedarkan pandangannya dan dengan seenaknya berkomentar yang menyakiti Keenar.
"Waaahh ternyata suasana di rumahini masih sama seperti dulu sebelum Raihan menikah. Barang-barangnya pun masih selera saya, kebetulan kami berdua yang membeli barang-barang ini" Vivian berkomentar sembari mengusap guci, vas bunga, lemari kecil di sudut kursi.
Mbak Aminah dan Cindy saling berpandangan, karena mereka yang mengganti barang-barang di rumah yang hancur akibat amukan Raihan dengan barang-barang yang ada di gudang.
"Oh ya? pantas bagus-bagus sekali barang di rumah ini. Ternyata pilihan mbak toh?" Ujar Keenar santai. walaupun dalam hatinya membara tapi dia tidak ingin menampakkannya di depan Vivian.
"Iya pilihan saya semua, kalau pilihan kamu saya yakin rumah ini tidak akan seperti ini. Kampungan beda sih ya?" sindir Vivian.
" Saya berterima kasih loh yaaaa sudah repot-repot memilihkan isi rumah yang sebagus ini tapi malah saya yang menikmatinya. Jadi saya tidak perlu repot untuk membeli lagi" Sahut Keenar santai.
"Oh iya sampai lupa, mbaknya ada perlu apa ya? tiba-tiba datang kemari? mungkin ada yang bisa dibantu" ujar Keenar.
"Ah iya saya mencari Raihan, apa dia di rumah?"
"Raihan sedang tidak ada di rumah, ada kepentingan apa kamu kemari Vi?". Cindy menjawab pertanyaan Vivian. Cindy mengenal Vivian karena beberapa kali Vivian datang ke rumah saat masih berpacaran dengan Raihan.
"Hai kak Cindy, apa kabar? lama gak ketemu ya? masih gini-gini aja kayaknya ya? gak ada perubahan. Udah hamil belum? kayaknya belum ya? Udah periksa ke dokter? jangan-jangan mandul" Vivian berkata sinis sambil 8tersenyum mengejek.
"Kamu ... ......... ajar ya" Cindy mengangkat tangan hendak menam*** Vivian tapi dihalangi oleh Keenar.
"Jangan kotori tangan mbak, sayang kena kuman" ujar Keenar tak kalah sinis.
"Baiklaaahh saya malas basa-basi ya, tolong sampaikan pada Raihan segera hubungi saya"
__ADS_1
"Ada urusan apa Raihan harus menghubungi kamu, tidak penting sekali" geram Keenar.
"Tidak penting??? ini bahkan lebih penting dari berita apapun. Kalian tahu?? saya sedang mengandung anak Raihan. Anak Ra i han. Kalian dengar?" ucap Vivian penuh kemenangan.
"Apa? gak mungkin Raihan berbuat sejauh itu apalagi sampai memiliki anak dari pelakor seperti kamu!!!!" teriak Keenar, habis sudah kesabarannya.
"Terserah sih kalau kalian gak percaya. Silahkan tanya sendiri dengan Raihan sudah melakukan apa saja dengan saya" Dengan bangganya Vivian mengatakan itu pada Keenar dan yang lainnya.
" Oh iya tambahan, bahkan tanda lahir di pangkal pahanya pun saya tahu" Bisik Vivian penuh kemenangan dan melenggang santai keluar dari rumah Keenar.
"Dasar pel****, pela***, perempuan gak tahu malu!!!!!" Teriak Keenar penuh kemarahan dan dendam.
Keenar ditenangkan Cindy yang hatinya pun sedang diliputi amarah pada Vivian karena ucapan Vivian yang menyebutnya mand**.
"Sudah Keenar, sudah. Kamu tenang dulu, kita belum tahu kebenarannya dari Raihan. Bisa jadi wanita itu hanya memfitnah Raihan agar bisa dinikahi Raihan. Bisa jadi juga itu bukan anaknya Raihan. Masih banyak kemungkinan-kemungkinan lain, kamu jangan sedih dulu" Cindy mencoba menghibur Keenar yang histeris.
"Dia benar mbak, pela*** itu benar. Dia gak bohong, masa dia sampai tahu tanda lahir dipangkal paha Raihan? tidak mungkin dia tahu mbak kalau dia tidak melihatnya secara langsung. Apalagi artinya mbak? mereka pasti sudah sering tidur bersama" Keenar histeris.
"Astagfirullah.. Raihan" Cindy menutup mulutnya seakan tak percaya apa yang diperbuat adiknya.
Sementara itu Raihan sedang dalam perjalanan ke rumahnya saat tiba-tiba Ponselnya bergetar, telpon dari mbak Aminah.
"Iya mbak Aminah? ada apa?" tanya Raihan.
"Pak, bapak lagi dimana? cepet pulang pak" sahut mbak Aminah.
"Ada apa mbak?"
"pokoknya bapak cepat pulang, kondisi rumah sedang kacaaauu. Ibu Histeris, tapi sekarang sedang ditenangkan oleh Non Cindy" terang Mbak Aminah.
"Histeris kenapa mbak? cecar Raihan panik.
"Anu, tadi ada perempuan yang mengaku namanya Vivian, datang ke rumah dan membuat masalah. Pokoknya bapak cepat pulang dulu. Sudah ya pak, Zafran nangis. Assalamualaikum".
__ADS_1
"Vivian, kurang ajar. berani-beraninya dia datang ke rumah!!! " geram Raihan.
Apa reaksi Keenar saat suaminya pulang??? Yuk ikutin terus kelanjutannya ya kak... Jangan lupa Votenya. thank u.. 😘😘😘😘