
Panjang umur. Raihan yang baru saja ditanyakan oleh Keenar, langsung muncul dari balik pintu.
"Mas... " Panggil Keenar.
"Iya ke, kamu sudah sadar ya? Maafin mas ya Kee, mas terlalu sibuk mikirin masalah mas, sampai lupa sama kamu" Raihan mengecup lama kening Keenar.
Bapak dan ibu yang melihat adegan itu tentu saja merasa tidak enak dan tidak ingin mengganggu, akhirnya mereka beranjak keluar kamar, memberikan waktu untuk mereka bicara dari hati ke hati.
"Kee.. mas mau bicara sama kamu"
"Aku ikhlas mas, aku ikhlas mas menikahi perempuan itu" Keenar menangis.
"Apa maksud kamu Kee?"
"Kee mencintai mas, Kee ingin mas bahagia. Jika mas lebih bahagia bersama perempuan yang mas cintai sejak dulu, aku ikhlas. Aku ikhlas dimadu, lagipula dia sedang hamil. Aku tahu rasanya saat hamil tapi bayinya tidak diakui ayahnya, aku tahi rasanya, sakit sekali. Jadi aku ikhlas mas madu". Keenar terisak dalam pelukan Raihan.
"Kee dengar mas, bukan seperti itu maksud mas, dengar mas dulu" Raihan berusaha menjelaskan pada Keenar.
"Kee tidak mau dengar apa-apa lagi mas. yang jelas aku sudah memberi izin pada mas untuk menikahi dia. Tapi mas harus berjanji untuk adil" Keenar mendorong Raihan.
Raihan kembali memeluk Keenar.
"Kee.. dengar mas, tolong dengar mas sekali ini saja" Raihan menarik napas dan menunggu reaksi Keenar. Setelah Keenar tidak lagi meronta dalam pelukannya, Raihan melanjutkan penjelasannya.
"Kee, mas tidak akan menikahi Vivian. Tidak akan pernah. Kenapa? Karena mas yakin itu bukan anak mas tapi anak mas Harlan, suami mbak Cindy, Vivian sudah berselingkuh dengan mas Harlan dan mas juga baru tahu kalau Vivian ternyata tidak hanya main dengan satu orang. Tapi dengan beberapa lainnya." tutur Raihan.
"Maksud mas? Dia????"
"Iya, Vivian menjual diri" lirih Raihan. Terlihat jelas luka dimatanya saat mengatakan itu.
"Astaghfirullah.. bagaimana bisa?? mas tahu darimana?"
"Mas tahu darimana kamu tidak perlu tahu. Yang harus kamu tahu, mas tidak akan menceraikan kamu. Kita akan selalu bersama, mengasuh dan mendidik anak-anak kita. Berhenti bilang kamu rela dimadu. Mas tidak suka mendengarnya" Raihan menyentil hidung Keenar.
Keenar yang tahu suaminya sudah kembali padanya merasa bahagia. Tapi dia tidak serta merta percaya begitu saja.
"Mas yakin itu bukan anak mas? dulu juga mas bilang Zafran bukan anak mas" cibir Keenar.
__ADS_1
"Dulu mas dalam pengaruh Vivian, dia selalu bilang itu anak Doni bukan anak mas. Kalau kamu tidak percaya dan agar kamu tambah yakin, nanti setelah anak itu lahir, kita tes DNA. mungkin mas Harlan juga akan ikut tes dna agar lebih jelas itu anak siapa".
"Mas, kalaupun itu anak mas. Aku gak keberatan merawat anak itu. Itupun kalau ibunya tidak ingin merawatnya. Kalau ibunya ingin merawatnya dan mas ingin menikahinya ya silahkan. Aku mundur". Ujar Keenar.
"Loh kok mundur? katanya tadi rela dimadu??" goda Raihan.
"ih mas nyebelin! " Keenar melepaskan pelukannya dan menutup wajahnya dengan bantal.
"Hahaahaaa mas suka nih kalau kamu ngambek kayak gini" Raihan semakin menggoda Keenar.
Sementara itu Cindy dan Harlan masih perang dingin. Di rumahnya, Cindy tidak bertegur sapa dengan Harlan. Orang tua Cindy pun tidak bisa berbuat apa-apa, mereka merasa tidak berhak ikut campur rumah tangga anaknya meskipun mereka tinggal serumah.
Harlan sudah berusaha meminta maaf pada Cindy namun Cindy masih bergeming. Tak habis akal, malam ini Harlan akan mengajak Cindy bicara dari hati ke hati.
"Sayang.. udah donk marahnya, aku kan sudah minta maaf. Aku tahu kalau aku salah" Harlan memohon.
Cindy masih diam.
"Kamu percaya sama aku, itu bukan anak aku"
"Percaya kamu? percaya sama orang yang sudah selingkuh dan menghamili wanita lain? hhh tidak akan" sinis Cindy.
mendengar Harlan bicara, Cindy sama sekali tidak tersentuh. Sebaliknya dia muak mendengar permohonan Harlan. Basi. Pikirnya.
"Ceraikan aku" Ujar Cindy pelan.
"Apa? tidak. Sampai matipun aku tidak akan menceraikan kamu".
"Aku tidak peduli, yang jelas aku minta cerai. Tidak ada maaf untuk pengkhianatan" Ucap Cindy tajam.
"Kamu sudah tidak mencintai aku?"
"Cinta? aku gak tahu. Cinta aku udah hilang sejak aku tahu kamu selingkuh!!"
"Aku masih mencintaimu kamu sayang".
"Cinta? Bohong. Omong kosong kalau kamu cinta sama aku, kamu tidak akan pernah selingkuh!!!"
__ADS_1
"Sayang.. tidak seperti itu akuu..... "
"Berhenti panggil aku sayang, terdengar menjijikkan di telingaku!!" Cindy beranjak pergi meninggalkan Harlan yang mematung di kamar.
Harlan menarik napas panjang, penyesalan Harlan sangat besar. Sadar sudah sangat menyakiti istrinya, Harlan menerima tuntutan cerai Cindy. Mungkin Cindy lebih bahagia tanpa dirinya.
"*Baiklah, mungkin aku memang sudah sangat menyakitinya, apa jika kami bercerai, dia akan bahagia?" batin Harlan.
"Tidak, aku tidak akan menceraikan Cindy, aku tahu kalau aku salah. Tapi setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua kan? aku akan mempertahankan pernikahan ini. Bagaimanapun caranya. Meski aku harus berlutut dihadapannya, akan aku lakukan" Tekad Harlan.
"Sepertinya aku harus meminta bantuan orang lain untuk membantuku, tapi siapa*?"
Tiba-tiba Harlan teringat saudara iparnya Raihan dan Keenar. Mereka yang sangat dekat dengan Cindy. Mungkin mereka bisa membantu meredam Cindy.
"Ah, Raihan dan Keenar, aku harus meminta bantuan mereka. Bukankah mereka yang sangat dekat dengan Cindy? Tapi Rumah tangga mereka pun sama saja, mana mau mereka membantuku. Apalagi Raihan. Tapi Kalauntidak dicoba mana bisa tahu kan? Baiklah sebaiknya aku coba saja dulu" batin Harlan.
Harlan segera mengganti bajuny dan bersiap-siap ke rumah Raihan. Tidak peduli bagaimana tanggapan Raihan, yang penting Cindy memaafkannya dan mereka bisa kembali seperti dulu.
Harlan keluar kamar dan saar melewati ruang tamu, Harlan melihat mertuanya sedang mengobrol di sofa. Mau tidak mau Harlan harus menyapanya.
"Mau kemana Lan?" Tegur Mama. Mama tetap memperlakukan Harlan seperti biasa saja. seperti tidak ada masalah.
"Mau keluar sebentar Ma, ada urusan sedikit" jawab Harlan.
"Mau keluar atau mau ketemu mony**nya?" sahut Cindy dari dapur.
"Cindy" Tegur mama.
"Harlan keluar dulu ma" Harlan mencium tangan mama dan memilih tidak meladeni Cindy.
"Mama kenapa membela Harlan sih? Cindy anak mama loh" ujar Cindy
"Mama tidak membela Harlan, mama hanya tidak suka kamu bersikap seperti tadi" mama menasehati Cindy.
"Mama tahu apa tentang perasaan Cindy? mama tidak pernah berada di posisi Cindy" Cindy mulai terisak dan mama memeluknya.
Sementara Harlan sudah sampai di depan rumah Raihan. Dilihatnya mobil Raihan di garasi yang berarti hari ini Raihan ada di rumah. Harlan berjalan mendekati pintu rumah Raihan dan mengetuknya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan......