Keenar, Ketika Hati Dipaksa Untuk Berbagi

Keenar, Ketika Hati Dipaksa Untuk Berbagi
Rumah Sakit


__ADS_3

Vivian telah sampai di hotel yang diberitahukan Alex tadi. Dengan langkah pasti dan percay diri, Vivian memencet bel pintu kamar Alex.


Tidak lama kemudian, seorang laki-laki bule yang tampan dan gagah membukanya.


"Hai sayang apa kabar? kapan datang?" salam Vivian dengan ceria.


Lelaki yang tak lain adalah Alex tersebut hanya tersenyum tipis dan menarik Vivian ke dalam kamar. Tanpa banyak bicara, Alex mencium bibir Vivian dengan penuh nafsu. Vivian sudah tidak terkejut mendapat ciuman mendadak Alex. Dibalasnya ciuman Alex juga dengan penuh nafsu. tidak butuh waktu lama, Alex dan Vivian telah bergumul di tempat tidur.


Setelah selesai, Vivian berkata:


"Sayang, aku punye berita baik untukmu"


"Apa itu?" tanya Alex cuek.


"Aku hamil anak kita" Vivian berseru senang.


Alex yang mendengar penuturan Vivian hanya melirik sekilas dan dengan entengnya berkata: "Gugurkan"


"Apa?!!?" Vivuan memekik kaget, terkejut dengan jawaban Alex yanh dluar prediksinya selama ini.


"Kubilang gugurkan" Ulang Alex santai.


"Kenapa? Kamu tidak mengiginkan anak?" tanya Vivian hampir menangis.


"Berapa kali harus kubilang, aku tidak menyukai anak kecil. Kau tidak mengerti??!" sentak Alex.


"Tapi Lex, ini anak kita. Buah cinta kita? " Vivian meneteskan air mata. Bukan karena sedih Alex menolak anaknya tetapi bingung, harua dengan siapa lagi dirinya mencari orang yang mau bertanggung jawab atas anak yang dikandungnya.


"Cinta? buah cinta? tapi aku tidak mencintaimu. Kau lupa hubungan kita selama ini hanya sebatas apa" ucap Alex sinis.


" Tapi Lex. Aku tidak bisa menggugurkannya, kamu harus bertanggung jawab, kamu harus menikahiku" seru Vivian.


"Harus? kenapa harus? ayolah Vivian.. kamu tahu tidak pernah ada cinta diantara kita selama ini. Hubungan kita hanya sebatas ranjang dan teman tidur, jadi sejak kapan ada cinta disitu? Kalaupun aku harus menikah, itu bukan denganmu. Pasti dengan perempuan baik-baik" Ujar Alex dengan santai. Alex bangun dari tempat tidur dan mengambil minuman di atas meja.


Vivian mencengkram kuat selimutnya dan bangkit memakai pakaiannya dan menghampiri Alex.


"Apa maksudmu? Kau pikir aku bukan perempuan baik-baik?" seru Vivian di hadapan Alex.


"Apakah kau menganggap dirimu perempuan baik Vivian? Ayolah Vi, perempuan baik mana yang mau tidur dengan pria sebelum menikah dan menjual dirinya dengan banyak pria?" sinis Alex.

__ADS_1


"Maksudmu?" Vivian mulai pucat.


Alex mencengkram pipi Vivian dan berkata:


"Kau pikir selama ini aku bodoh? Tak tahu pekerjaanmu diluar sana? sudah berapa pria yang menidurimu? jangan pernah berharap aku bertanggung jawab atas kehamilanmu" Alex mendorong Vivian dan mengambil dompet di atas meja.


"Sebaiknya kau pergi sekarang, jangan pernah datang menemuiku lagi. Ini bayaranmu malam ini!! " Alex melemparkan uang ke wajah Vivian.


Vivian yang mendapat perlakuan seperti itu tentu tidak terima. Ditamparnya Alex.


"Brengsek!! Laki-laki brengsek!! " teriaknya dan segera keluar kamar Alex.


Alex awalnya terkejut namun dibiarkannya Vivian pergi.


"Untung kau sedang hamil, jika tidak habislah kau" desis Alex sambil menatap punggung Vivian yang keluar dari kamarnya.


Di luar, Vivian menangis. Apakah sehina itu dirinya sampai tidak ada laki-laki yang mau bertanggung jawab atas kehamilannya? Sebenarnya Vivian bingung, anak ini adalah anak siapa. Harla, Raihan atau Alex? Atau malah lak-laki lain pelanggganya entah yang mana. Bagimana ini, bagaimana dia bisa menjalani hidup selama kehamilannya. Vivian juga ingin dimanja seperti wanita lain yang sedang hamil.


Vivian terus berjalan menyusuri jalanan kota. Vivian sengaja tidak memesan taxi online ataupun ojek online. Vivian hanya ingin sendiri memikirkan langkah selanjutnya yang harus dia lakukan.


Tiba-tiba hujan turun dengan deras dan Vivian tidak menperdulikannya. Vivian terus berjalan dalam hujan dan sampai dirinya merasa tidak kuat lagi berjalan. Vivian merasa lemas dan pusing, lalu terjatuh.


Hal terakhir yang dilihatnya adalah Raihan yang panik melihatnya terjatuh, lalu Vivian tidak ingat apa-apa lagi.


Vivian membuka matanya, dan melihat Raihan tertidur sambil memegang tangannya. Vivian mencoba mengingat dirinya sedang berada dimana dan apa yang terjadi padanya.


"Vi.. sudah sadar? " Raihan terbangun karena merasa ada gerakan pada tangan Vivian yang digenggamnya.


"Aku dimana Han?" tanya Vivian dengan suara serak.


"Kamu ada di rumah sakit Vi, semalam kamu tergeletak di pinggir jalan, mana dalam keadaan hujan deras" jawab Raihan.


"Aku haus Han" Vivian mencoba mengingat kejadian semalam sampai dirinya lemas dan terjatuh lalu melihat Raihan.


Raihan mengambilkan Vivian minum dan memberikannya pada Vivian.


"Kamu semalaman disini Han? terima kasih sudah menyelamatkanku, jika kamu tidak...... "


"Santai saja, setiap orang berhak saling membantu.Siapapun dia kalau ada disana pasti juga membantu." potong Raihan.

__ADS_1


Vivian terdiam dan meraaa canggung bersama Raihan.


"Vi, maaf aku gak bisa lama-lama. Semalaman aku gak pulang, aku gak mau Keenar Khawatir. Siapa yang bisa kamu hubungi untuk menemani kamu disini?


Vivian tersenyum tipis mendengar penuturan Raihan.


" Tolong ambilkan ponselku Han, aku ingin menelpon Kayana". pinta Vivian.


Raihan segera mengambilkan ponsel Vivian dan memberikannya. Setelah mendengar kalau Kayana bisa menemani Vivian, Raihan pun pamit pulang.


"Vi, maaf aku harus segera pulang. Jaga diri kamu baik-baik. Janin kamu menurut dokter baik-baik saja, hanya kamu yang kelelahan dan harus istirahat sejenak disini" Pamit Raihan.


"Han, kita gak bisa seperti dulu? kamu gak bisa berubah pikiran Han?" Vivian mulai terisak.


Raihan mengernyit.


"Berubah pikiran bagaimana maksud kamu Vi? " Raihan bingung dengan maksud ucapan Vivian.


"Nikahi aku. Aku ikhlas jadi yang kedua Han, asal kamu menikahiku. Bayi ini bagaimana han? dia hanya punya aku". isak Vivian yang memilukan. Tangisan putus asa dan sakit hati berbaur jadi satu.


Raihan menarik napas panjang.


"Sudah berapa kali kubilang Vi? Aku tidak bisa. Aku memilih Keenar. Lagipula itu bukan anakku, bagaimana bisa aku bertanggung jawab atas anak yang bukan darah dagingku?"


"Darimana kamu yakin ini bukan anakmu Han? Kalau memang ternyata ini anakmu bagaimana??"


"Kamu masih saja keras kepala Vi. Kamu ada main dengan Harlan, dan kamu juga meminta Harlan bertanggung jawab atas anak itu. Jadi sebenarnya ada berapa pria yang kamu mintai pertanggung jawaban Vi?" sinis Raihan.


Vivian terkesiap dan pucat pasi mendengar perkataan Raihan yang menyebut Harlan.


" Terus terang aku kecewa Vi. Kupikir kamu memang mencintaiku, ternyata...."


"Aku mencintaimu Han, sangat" Vivian memotong perkataan Raihan.


"Cinta seperti apa Vi? Kalau kamu memang mencintaiku, kamu tidak akan bermain dengan banyak pria. Untuk apa Vi? untuk apa?? masih kurang semua yang kuberikan padamu? Aku menyakiti istriku sendiri dan lebih mempercayai kamu. Tapi ternyata.. " seru Raihan frustasi.


"Untuk apa???? kamu tidak akan mengerti Han, tidak akan" Sinis Vivian.


"Apa yang tidak aku mengerti?? bagian mana yang tidak aku mengerti????!!!" bentak Raihan.

__ADS_1


Sebelum Vivian menjawab terdengar ketukan di pintu....


dan...


__ADS_2