Keenar, Ketika Hati Dipaksa Untuk Berbagi

Keenar, Ketika Hati Dipaksa Untuk Berbagi
Mulai Berubah 2


__ADS_3

Keenar kembali ke meja makan dan mulai makan sendiri. Dengan diliputi kebingungan kenapa Raihan berubah.


Sampai Keenar selesai makan dan membereskan rumah, Raihan belum juga turun. Keenar berinisiatif membangunkannya lagi, karena tidak biasanya Raihan seperti ini.


Sesampainya di kamar, Keenar mendengar suara tawa Raihan. Sepertinya Raihan sedang menelpon seseorang. Tapi siapa? Dengan rasa penasaran, Keenar membuka pintu kamar.


Raihan yang melihat Keenar tiba-tiba masuk kamar tentu saja terkejut dan langsung mematikan ponselnya.


"Telponan sama siapa mas? asik bener sampe lupa sarapan" Sindir Keenar


"Sama temen lama" jawab Raihan sambil beranjak ke kamar mandi


"Tumben ada temen nelpon pagi-pagi?" tanya Keenar curiga


"Iya bener, namanya Vino. Gak percaya ya cek aja sendiri" jawab Raihan sambil lalu.


"Mencurigakan" desis Keenar dan mengambil ponsel Raihan di meja. Di lihatnya panggilan masuk dan keluar, ternyata benar namanya Vino. Lalu keenar mengecek Chat Raihan satu-satu. Tidak ada yang mencurigakan sama sekali, semua biasa-biasa saja.


"Apa aku yang terlalu lebay ya?" batin Keenar.


Keenar turun ke bawah dan dilihatnya Raihan sedang merokok di beranda samping.


"Tumben mas Raihan bangun tidur langsung ngerokok gitu?" gumam Keenar aneh, karena tidak biasanya Raihan seperti itu.


" Mas, mau sarapan sekarang? tapi nasi gorengnya udah dingin, aku masakin yang baru ya?" tanya keenar dengan hati-hati


"Gak usah, nanti aku makan di luar aja. Udah siang juga" Jawab Raihan datar.


"Mas mau kemana? ini kan hari libur, minggu kemarin kita sepakat kalau hari ini kita ke rumah ibu?"


"Ada urusan sama teman. Kamu berangkat sendiri ke rumah ibu ya?" sahutnya tanpa melihatku.


"Tapi mas..."


"udahlah aku gak mau banyak tuntutan ini itu. kamu bukan anak-anak lagi. Bisa lah pergi sendiri gak ngandelin aku!!" Bentak Raihan sambil berlalu ke kamar


"Tuntutan apa sih maksudnya? makin aneh deh" gumam Keenar.


Tak lama kemudian Raihan turun dengan pakaian kasualnya. Tampak segar, gagah, tampan dan wangi.

__ADS_1


"Mas, gak diminum dulu jusnya?" tawar Keenar


"Gak sempet, buru-buru" tolak Raihan


Raihan segera keluar rumah sebelum mendapat banyak pertanyaan dari Keenar.


Di luar rumah, Raihan menelpon Vivian. Memastikan tempat kencan pertama mereka setelah berpisah lama.


"Mas Raihan berubah banget sih? Biasanya sebelum pergi pasti sempat cium aku dulu, kayak ada yang aneh. Apa mas Raihan punya selingkuhan ya? ah gak mungkin, jangan mikir macem-macem Keenar" gumam Keenar di balik jendela, memperhatikan tingkah Raihan di halaman rumah sebelum pergi.


Sementara itu Vivian


"Ihhhhh.. Kayanaaaa.. G**a sih sumpah deh. Pakde lu keren banget" Teriak Vivian senang. Vivian langsung menelpon Kayana, mengabarkan keberhasilan Pakdenya Kayana dalam mengguna-gunai Rumah Tangga Keenar dan Raihan.


" Masa sih cepet banget? baru kemaren deh kayaknya?" Vivian ragu tapi ikut senang karena Pakdenya berhasil, kalau gak berhasil kan bisa malu Vivian.


"Iya, ntar sore anterin gw ke rumah Pakde Jarwo ya? mau ngasih tips sekalian ngabarin kalau beliau berhasil, pagi ini gw mau ketemuan dulu sama Raihan" ajak Vivian


"Oke, lu atur aja. Gw mah tinggal ikut aja. Asal lu traktir makan ntar" sahut Kayana


"Beress. udah ya kalo gitu, Gw siap-siap dulu. bye Kayana.. mmuuaacchh"


Di Hotel Modesta, Raihan menunggu Vivian datang. Raihan tahu yang dia lakukan ini salah, namun perasaannya tidak dapat dibohongi. Raihan masih sangat mencintai Vivian. Cinta yang jauh lebih besar dibandingkan dengan cintanya pada Keenar. Bahkan mungkin tak ada cinta lagi untuk Keenar. Secepat itu hatinya terbolak-balik. Minggu kemarin dirinya masih memuja Keenar, tapi sekarang hatinya berpaling pada Vivian. Wanita masa lalunya.


Tidak lama menunggu, Vivian datang dengan pakaian yang sangat sexy dan Vivian terlihat sangat cantik dimata Raihan.


"Sayaang..maaf aku terlambat, udah lama nunggu ya?" tanya Vivian sambil memeluk Raihan.


Aroma parfum Vivian langsung membuat Raihan mabuk kepayang dan pelukan Vivian juga membangunkan adik kecilnya.


"Belum lama, yuk masuk" sahut Raihan dengan suara serak


Vivian berjalan dikamar dan langsung duduk di sofa dengan pose menggoda. Raihan tentu saja tidak tahan melihatnya. Raihan baru saja duduk di sebelah Vivian dan Vivian tidak menunggu lama langsung menciun bibir Raihan. Raihan yang sedari tadi sudah terangsang oleh wangi parfum Vivian jelas langsung membalas ciuman penuh gairah Vivian.


Tidak menunggu lama, pakaian mereka pun terlepas sudah. Vivian yang memimpin permainan, membuat Raihan benar-benar di atas awan. Vivian sangat lihai menyentuh titik-titik syaraf Raihan yang semakin membangkitkan gairah Raihan. Vivian sangat terlatih seperti sudah terbiasa memimpin permainan sampai Raihan kewalahan menghadapi Vivian. Karena selama ini saat bersama Keenar, selalu Raihan yang memimpin. Keenar kurang begitu lihai. Jadi bisa dibilang, kehidupan S** mereka. membosankan.


Sementara di rumah Keenar.


keenar masih bingung dengan perubahan sikap Raihan yang dilihatnya sangat berubah dengan cepat. Namun Keenar menepis segala curiga kalau Raihan punya selingkuhan. Keenar benar-benar percaya pada Raihan.

__ADS_1


"Kenapa mas Raihan berubah ya? apa ada yang salah dengan ucapan atau perbuatanku tapi tidak mungkin, apa mungkin hanya perasaanku saja?" batin Keenar.


Keenar terus berfikir sampai tidak sadar kalau pintu kamarnya diketuk.


TOK.. TOK.. TOK..


"bu Keenar, ada tamu" panggil mbak Aminah, ART Keenar.


"iya mbak, sebentar lagi saya turun" sahut Keenar


"siapa mbak tamunya?" Tanya Keenar saat membuka pintu.


"Gak tahu bu, laki-laki. Katanya teman ibu" jawab Mbak Aminah


Keenar langsung menuju ruang tamu dan melihat tamu yang tiba-tiba datang ke rumahnya.


"Waaahhg surprise, Mas Doni apa kabar?" Keenar gembira karena ternyata mas Doni dirgantara, sahabatnya saat kuliah dulu. Sebenarnya Doni kakak tingkat Keenar, namun karena sering ada kegiatan kampus bersama jadi merka akrab dan sampai menjadi gosip kalau mereka berpacaran. Namun, baik doni maupun Keenar sepakat kalau mereka hanya teman baik, dan selalu jadi teman baik. Walaupun sebenernya Keenar tahu kalau Doni menyukainya, tapi Keenar tidak ingin merusak persahabatan mereka, jadi Keenar memilih pura-pura tidak tahu.


"Mas Doni kapan sampai Jakarta lagi? kemarin aku dengar mas Doni di Kalimantan?" tanya Keenar kepo


"Iya, baru kemaren sampai Jakarta dan langsung inget kamu" jawab Doni dengan senyum penuh arti.


"Heleehh bisa aja, masih aja demen ngegombal. btw, mami sama papi apa kabar? aku lama loh gak ketemu mami sama papi" ujar Keenar mengalihkan pembicaraan, karena kalau diteruskan bakal makin parah Doni menggombali Keenar.


"Mami papi sehat, mereka titip salam buat kamu. disuruh sekali-kali datang ke rumah. Katanya kangen dengan masakan Keenar" jawab Doni


"Pengen banget tapi waktunya yang gak ada" sahut Keenar sedih


"Loh ini si Kucluk Raihan kemana? hari libur masa ngantor?" tanya Doni


"Lagi ketemuan sama teman lamanya, tadi pagi berangkat" jawab Keenar dengan pandangan sedih


"Kawan lama? siapa namanya?" selidik Doni


"Vino kalau gak salah namanya. Mas Doni kenal?


"Vino? kalau teman SMA dan kuliah gak ada yang namanya Vino, entah kalau teman sekolah" ingat Doni


"Mungkin teman kerja di perusahaan lama ya mas, ngomong-ngomong mas Doni minep dimana?"

__ADS_1


" Hotel Modesta" jawab Doni singkat


__ADS_2