
Ibu Keenar berpikir, pastilah masalah yang dihadapi putrinya pastilah sangat berat.
Sebenarnya Bu fatimah, ibu Keenar sudah merasa kalau ada sesuatu yang terjadi dikeluarga kecil anaknya. Feeling ibu selalu benar, namun beliau tidak ingin bertanya pada anaknya sebelum Keenar sendiri yang bercerita.
"Bu, ada apa sebenarnya ya? anak kita bisa sampai seperti ini" Pak Dibyo menatap wajah Keenar dengan pandangan sedih.
"Ibu juga tidak tahu pak, tapi ibu sudah ada Feeling kalau rumah tangga anak kita sedang tidak baik-baik saja" bu Fatimah menjawab dengan lirih.
"Coba bapak telpon Raihan, suruh pulang, kita bicarakan baik-baik. Ini sudah tidak bisa dibiarkan pak, anak kita sampai seperti ini" lanjut bu Fatimah menahan emosi.
"Iya bu, sebentar bapak telpon" Pak Dibyo mengambil ponsel dikantongnya dan beranjak keluar kamar untuk menelpon Raihan.
Raihan yang sedang dalam perjalanan menuju apartemen Vivian, terkejut melihat mertuanya menelpon dirinya.
"Assalamualaikum? iya pak? Apa????? iya pak saya segera pulang" Raihan mendengar kabar dari mertuanya Kalau Keenar pingsan., langsung memutar balik mobilnya menuju rumah.
Sesampainya di rumah, Raihan menyalami mertuanya dan melihat Keenar.
"Bagaimana kejadiannya bu?" tanya Raihan.
"Keenar kami temukan dalam kamar mandi dengan keadaan basah kuyup dibawah Shower" pak Dibyo menjelaskan.
Raihan menatap Keenar dan mencium keningnya lama, seolah meminta maaf sudah sangat menyakiti Keenar, hal yang tak seharusnya di lakukan.
Pak Dibyo mengajak Raihan keluar kamar dan berbicara di ruang tamu.
"Ada apa sebenarnya nak? Kami tahu, kalau kami tidak bisa ikut campur masalah kalian, tapi jika keadaannya seperti ini, kami berhal tahu. Keenar anak kami". Tanya Pak Dibyo dengan Tegas.
"Dari sejak Zafran lahir, sebenarnya ibu sudah mencium gelagat kurang baik dari kalian. Begitu pandainya kalian berpura-pura tetap tidak bisa membohongi hati seorang ibu. Jelaskan pada kami, ada apa sebenarnya"Ibu pun ikut bertanya.
Raihan hanya bisa menunduk, pikirannya kalut. Antara bicara jujur pada orang tuan Keenar atau tidak. Tapi kalau tidak jujur juga lama-lama pasti tahu. Bangkai pasti akan tercium.
__ADS_1
akhirnya Raihan memutuskan bicara jujur dan apa adanya. Pasrah. Pun jika orang tua Keenar membunuhnya, dia sudah pasrah. Karena memang Raihan bersalah.
Orang tua Keenar yang mendengar cerita jujur dari sang menantu, sangat marah. Bu fatimah sampai menangis tak percaya kalau putrinya mengalami hal seperti ini, yang sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh mereka kalau Raihan tega berbuat seperti itu pada anak kesayangan mereka.
"Sudah bapak bilang dari awal kamu menikahi Keenar, jika kamu sudah tidak mencintai anak bapak, silahkan kamu kembalikan Keenar pada bapak" ujar Pak Dibyo menahan amarah.
"Ibu tidak ikhlas dunia akhirat ya Raihan, kamu perlakukan putri kami seperti itu. Keenar kami besarkan dengan penuh kasih sayang, kami selalu berharap tidak ada yang menyakitinya, tapi kamu malah sangat menyakitinya. Dimaan hatimu Raihan!!!" Bu Fatimah marah.
"Maafkan saya bu, pak, saya tahu kalau saya salah. Tapi saya mohon, beri saya kesempatan kedua untuk membahagiakan Keenar. Saya mencintai Keenar dan Zafran" tutur Raihan lirih.
"Maaf?? segampang itu kamu minta maaf??? Sekarang begini saja Raihan, kamu ceraikan Keenar, dan kembalikan pada kami. Saya masih sanggup membiayai hidup anak dan cucu saya" Pak Dibyo menyuruh mereka bercerai.
"Tidak Pak, saya tidak akan menceraikan Keenar sampai kapanpun. Saya akan mempertahankan Keenar sampai kapanpun.dan saya akan menyelesaikan masalah ini. Tidak akan ada perceraian!! Raihan ikut emosi.
"Dengan cara apa? dengan kamu menduakannya? bukankah kamu akan menikahi perempuan itu? dengar ya Raihan saya tidak pernah ikhlas anak saya dimadu!! Lebih baik kamu dan Keenar bercerai saja. Saya tidak bisa melihat anak saya menderita seperti ini!" marah Pak Dibyo.
"Saya tidak akan pernah menikahi Vivian Pak. Saya yakin anak itu bukan anak saya"
"Tolong beri saya waktu untuk membuktikannya Pak. Saya yakin itu bukan anak saya"
"Kamu yakin? bukankah kamu juga pernah meragukan Zafran sebagai anak kamu? tapi nyatanya Zafran memang anak kamu. Nah sekarang kamu bilang anak itu bukan anak kamu. Darimana kamu yakin? saat itu saja kamu salah kan? Yakin saja tidak cukup Raihan!!!"Ucap bapak sambil beranjak pergi ke kamar Keenar.
setelah bapak pergi, di ruang tamu hanya ada Raihan dan bu Fatimah yang sedang menangis. Raihan melihat ke arah bu Fatimah, saat Raihan mencoba memegang tangan bu Fatimah, tiba-tiba bu Fatimah menepisnya.
"Bu.. maafkan saya. Saya khilaf, saya tidak pernah berniat menyakiti Keenar. Ibu tahu kan kalau saya sangat mencintai Keenar?" mohon Raihan.
"Jika kamu memang mencintai Keenar, kamu tidak akan pernah tega menyakitinya atas nama Khilaf. Kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan? Kamu membuat anak ibu depresi, Keenar hampir membunuh dirinya sendiri. Kalau kami tidak cepat datang, entah apa jadinya Keenar, entah bagaimana nasib cucu kami. Untung saja ada mbak Aminah di rumah" Ibu menghapus air matanya.
"Iya bu, saya bersalah, saya minta maaf" Raihan benar-benar menyesal.
"Simpan maafmu pada Keenar. Dia yang sangat tersakiti disini. Ibu setuju dengan bapak, jika kamj sudah tidak mencintainya, pulangkan di ke rumah, jangan kamu sakiti dia seperti ini Raihan!! Pikirkan perceraian kalian, menurut ibu itu jalan terbaik. " ibu beranjak pergi ke kamar menyusul bapak.
__ADS_1
Raihan terpekur sendirian di ruang tamu.
Cerai. Satu kata itu yang bisa memporak porandakan hatinya. Jauh lebih hancur daripada saat dirinya mendengar kehamilan Vivian.
Satu persatu ingatannya melintas. Dia ingat semua yang dia lakukan pada istrinya, Ucapan-ucapannya yang menyakitkan hati, perlakuannya pada istrinya, semua Raihan ingat.
"Astaghfirullah... Sejahat itu aku pada istriku" Raihan mengusap wajahnya.
Keenar mulai sadar dari pingsannya. Yang pertama dilihatnya adalah ibunya yang menangis disebelahnya. Keenar mengingat dirinya terakhir kali di kamr mandi, namun setelah itu dia tak ingat apa-apa.
"Bu... " ucap Keenar pelan dan berusaha bangun.
"Keenar.. kamu sudah sadar nak?" Ibu membantu Keenar bangun.
"Bapak dan Ibu ada disini? Keenar kok bisa dikasur bu? sepertinya tadi Keenar masih dikamar mandi" Keenar memegangi kepalanya yang pusing.
"Iya, tadi kamu pingsan di kamar mandi. Mbak Aminah mengetuk kamar mandi tapi tidak ada respon dari kamu, hanya ada suara shower saja. Untung ada mbak Aminah, Kalau tidak bagaimana kamu?"
"Bapak dan ibu kok bisa disini?"
" Hari ini memang kami berniat kesini, tapi baru sampai depan pintu mbak Aminah sambil menggendonG Zafran, teriak-teriak katanya kamu di kamar mandi gak keluar-keluar" Lanjut bapak.
"Mas Raihan mana Pak? sudah pulang?"
Demi mendengar nama Raihan, bapak langsung melengos, tidak sudi menjawab pertanyaan anaknya.
Tapi panjang umur, baru saja ditanyakan istrinya, Raihan muncul dari balik pintu.
Keenar yang melihat Raihan, langsung tersenyum senang.
"Mas....
__ADS_1