
Keenar mengetuk kamar Cindy beberapa kali. Sampai akhirnya Cindy membuka pintu. Keenar yang melihat kondisi Cindy saat itu terkejut.
"Mbak Cindy...." belum sempat Keenar menyelesaikan kalimatnya Cindy sudah memeluknya.'
"Kee.. sekarang mbak tahu rasanya jadi kamu seperti apa. Perempuan ja**** itu sudah merusak rumah tangga mbak juga" isak Cindy dalam pelukan Keenar.
"Iya mbak, mbak yang sabar ya. jangan seperti ini. Kee sedih melihat mbak seperti ini" Keenar mengusap bahu Cindy.
Cindy melepaskan pelukannya dan kembali duduk di tepi ranjang.
"Kee, semua sudah hancur. Rumah tangga mbak Hancur Kee.." Cindy kembali terisak.
"Tidak mbak, semua masih bisa diperbaiki".
"Apa yang diperbaiki Kee? semua hancur. Mbak sudah tidak mau melihat Harlan lagi, dia sudah sangat mengecewakan dan menyakiti mbak"
"Jadi apa keputusan mbak?" tanya Keenar.
"Mbak akan menggugat cerai Harlan"
"Mbak sudah memikirkan masak-masak?"
Cindy diam.
"Mbak.. maaf kalau Kee lancang, mbak sudah bicarakan pelan-pelan dengan mas Harlan? mbak sudah tanya alasan mas Harlan selingkuh? Maaf mbak, perbuatan mas Harlan memang tidak bisa dibenarkan tapi mbak pernah tidak instropeksi diri kenapa ini bisa terjadi?" tanya Keenar hati-hati.
"Mbak pernah bertanya pada hati Mbak? apakah masih ada cinta dihati mbak? sisa-sisa cinta mungkin? " Lanjutnya.
Cindy terdiam kemudian mengangguk.
"Sebenarnya awal mulanya aku yang salah Kee, aku selalu menolak saat Harlan mengajakku berhubungan, bahkan terkadang aku terlalu cuek, aku tidak mengurusnya dengan baik. Mungkin itu alasan Harlan selingkuh. Atau mungkin juga, dia ingin memiliki anak dan sampai sekarang aku belum bisa memberinya anak. Atau Mungkin juga Harlan nyaman dengan perempuan itu. Kalau sudah tidak nyaman dengan kita kenapa harus dipertahankan?" tutur Cindy.
"Kalau masalah cinta, sampai detik ini pun aku masih cinta dia Kee. Tapi apa dia juga mencintaiku?" lanjut Cindy.
"Mas Harlan masih Cinta mbak Cindy, katanya".
"Kalau dia cinta tidak akan selingkuh Kee. Kalau dia merasa tidak nyaman sama mbak atau mbak punya salah ya dibicarakan buka malah selingkuh. Perselingkuhan tidak akan terjadi kalau si lelaki tidak memberi celah. Membayangkan dia menyentuh wanita lain selain aku, rasanya menjijikka" sahut Cindy.
"Jadi? mbak tetap menggugat cerai? tidak dipikir-pikir lagi?"
"Mau mikir apalagi Kee? apa yang mbak beratkan? anak? mbak saja belum punya anak. Tidak ada yang bisa mbak beratkan disini". Cindy mengusap airmatanya.
"Tapi mama tidak setuju mbak bercerai dengan mas Harlan"
__ADS_1
"Kalau begitu mama saja yang menikah dengan Harlan. Dari dulu mama selalu saja membela kesalahan Harlan. Padahal aku anak kandungnya bukan Harlan. Entah apa yang ada dalam pikiran mama" tutur Cindy.
Keenar tertawa dalam hati mendengar penuturan Cindy tentang mamanya.
"Keenar gak bisa bilang apa-apa mbak, Keenar pernah ada di posisi mbak. Kee tahu apa yang mbak rasakan. Kee tidak menyalahkan mbak kalau mbak tetap kekeuh menceraikan mas Harlan. Tapi Kee cuma minta mbak pikir sekali lagi. Kee gak mau mbak menyesal dengan keputusan mbak" Nasihat Keenar.
Cindy memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing.
"Kenapa mbak?" tanya Keenar khawatir.
"Tidak tahu Kee, akhir-akhir ini mbak sering sekali sakit kepala, mencium bau masakan mama saja rasanya mbak mual dan sakit kepala, mbak juga malas mau bangun dari tempat tidur, pengennya tidur saja. Bahkan mandi pun malas rasanya" Cindy memijat keningnya yang terasa pusing.
Keenar yang mencurigai sesuatu segera bertanya.
"Mbak, terakhir kali mbak halangan kapan ya? Jangan-jangan..... "
"Kapan ya? mbak lupa Kee karena mbak halangan memang tidak teratur"
"Mbak punya tespack?"
"Tespack untuk apa? apa kamu berpikir kalau????" Cindy langsung membulatkan matanya dan berjalan cepat menuju lemari, diambilnya tespack dan diberikannya pada Keenar.
"Itu tespcak tahun kemarin, aku sampai malas tes lagi. Rasanya sudah putus asa Kee, mbak takut kecewa lagi. Lagipula sekarang mbak tidak lagi mengharapkan anak"
"Dicoba saja mbak, siapa tahu kali ini garisnya dua. Soalnya dari ciri-cirinya sepertinya mbak sedang hamil" ujar Keenar senang.
Keenar menunggu Cindy yang sedang di kamar mandi dengan harap-harap cemas. Berharap Cindy benar-benar hamil sesuai perkiraannya dan membatalkan niatnya menggugat cerai Harlan. Biar bagaimanapun Harlan juga berhak mendapatkan kesempatan kedua. Bukankah setiap orang berhak mendapat pemaafan dan kesempatan kedua? terlepas dia pernah sangat menyakiti, semoga Harlan bisa memanfaatkan kesempatan keduanya dengan baik. Seperti Raihan yang juga mendapat kesempatan kedua dari Keenar.
Cindy keluar dari kamar mandi Dengan wajah bingung.
"Kee.. ini hasilnya begini" Cindy menunjukkan hasil tespacknya pada Keenar.
Keenar mengambil tespack di tangan Cindy dengan gemetar, dilihatnya hasilnya yang....
"Mbak ini positif" seru Keenar.
"Masa sih? tapi masih samar ini garisnya" Cindy masih ragu.
"Kita ke dokter saja Mbak untuk memastikan, tapi biasanya itu sudah positif" Keenar tersenyum senang.
"Jangan senang dulu lah Kee, mbak takut kecewa lagi" ujar Cindy lirih.
"Insya Allah kali ini enggak mbak. Yuk kita keluar, kita beritahukan berita baik ini pada semuanya" Keenae menggandeng tangan Cindy, mengajaknya keluar.
__ADS_1
" Jangan dulu Kee, kita rahasiakan saja dulu. mbak takut mengecewakan mereka" Cindy masih ragu.
"Percaya Keenar mbak, tidak akan ada yang akan kecewa" Keenar menatap Cindy penuh percaya diri.
Akhirnya Cindy menurut ketika Keenar mengajaknya keluar kamar.
Di ruang tamu ada Raihan, mama, papa, Zafran dan Harlan yang baru saja datang.
Ketika mereka berjalan mendekati ruang tamu, semua orang yang disana serentak melihat ke arah mereka. Keenar menggandeng Cindy dengan senyum terkembang.
"Ada apa ini kok kelihatannya senang sekali?" tanya Raihan.
"Kami ada berita baik" jawab Keenar masih dengan senyum.
"Oh ya? ada apa? sepertinya beritanya sangat baik" ujar Papa yang sedang memangku Zafran.
"Beritanyaaaa... Mbak Cindy positif hamil" seru Keenar senang.
Mereka semua terkejut dan diam beberapa saat. Namun kemudian, Harlan mendekati Cindy dan memeluknya sambil menangis terharu.
"Alhamdulillah... terima kasih sayang" Ucap Harlan yang masih menangis haru.
Cindy yang terkejut mendapat pelukan Harlan juga ikut menangis.
"Iya mas, ini anak kita. Aku hamil sekarang" ucap Cindy yang ikut terisak.
Setelah Harlan melepaskan pelukannya, barulah mama dan papa ikut memeluknya dan mengucapkan selamat.
"Selamat ya nak, kami bahagia sekali" ucap mama dan papa.
Sedangkan Raihan hanya tersenyum dan mengacak rambut Cindy, kebiasaan yang selalu Mereka lakukan sedari kecil saat mengucapkan selamat.
"Selamat mbak, akhirnya kamu jadi ibu juga. jangan ngambek mulu, kasian ntar baby nya" ujar Raihan sambil mengacak Rambut Cindy dan dibalas injakan kaki oleh Cindy.
"Jangan pada seneng dulu lah, aku takut kalian kecewa" Cindy masih ragu.
"Kenapa kecewa?" tanya Raihan.
"Ini loh, garis yang satunya masih agak samar. Mbak Cindy ragu-ragu" Keenar yang menjawab.
"Oohh kalau gitu sekarang kita periksa saja biar gak ragu lagi, jadi jelas" ajak Harlan yang langsung menggandeng Cindy mengajaknya keluar.
"Nanti dulu mas, aku ganti baju dulu" tolak Cindy yang langsung berlari ke kamarnya.
__ADS_1
Sepertinya Cindy lupa dengan permasalahannya dengan Harlan.
Sementara itu... Vivian....