Keenar, Ketika Hati Dipaksa Untuk Berbagi

Keenar, Ketika Hati Dipaksa Untuk Berbagi
Kamu Kenapa Mas?


__ADS_3

Raihan membereskan baju-bajunya di kamar utama dan menaruhnya dalam koper. Hatinya sangat panas melihat Doni keluar dari rumahnya. Apalagi teringat ucapan Vivian di mobil. Semakin menjadi kemarahannya. Tidak disadarinya kalau tadi Kayana juga keluar dari rumahnya. Hatinya sudah diliputi kemarahan jadi Raihan sudah tidak bisa berpikir dengan jernih.


Setelah baju-bajunya selesai ditaruh dalam koper, Raihan keluar kamar dan pindah ke kamar tamu. Dilihatnya Keenar masih menangis di ruang tamu. Hatinya sedikit nyeri melihat Keenar menangis seperti itu, tapi saat ingat kejadian tadi, amarahnya kembali memuncak. Dibantingnya pintu kamar tamu yang membuat Keenar terlonjak karena kaget.


"Kamu benar-benar pindah kamar mas? Aku salah apa sama kamu mas?" gumam Keenar frustasi. Dilangkahkan kakinya menuju kamar utama, dan dilihatnya lemarinya terbuka. Sudah tidak ada lagi baju Raihan disitu, barang-barang Raihan pun sudah tidak ada. Keenar kembali menangis di kasur sampai tertidur.


Tengah malam, Keenar terbangun dan merasa haus. Keenar pun bangun dan berencana mengambil minum ke dapur. Namun saat melewati kamar tamu tempat Raihan tidur, di dengarnya Raihan seperti mengobrol di telpon.


"Tumben mas Raihan telponan malem-malem, biasanya langsung tidur sampai pagi" gumam Keenar curiga dan berusaha menguping. Didengarnya berkali-kali Raihan berkata: sayang, i love you dan kata-kata manis lain.


Keenar benar-benar shock, tak terasa air matanya kembali jatuh namun cepat-cepat dihapusnya. Dia tidak ingin Raihan mendengarnya menguping. Keenar lekas kembali berjalan ke dapur dan mengambil minum. Saat akan kembali ke kamar, dilihatnya Raihan keluar kamar. Tidak sengaja mereka bertemu pandang, namun Raihan cepat mengalihkan pandangannya dan berjalan keluar.


Keenar hanya memperhatikan punggung tegap Raihan tanpa berani untuk memanggilnya.


"Mas, ternyata kamu yang bermain dibelakangku, tapi dengan kejinya kamu menuduhku selingkuh. Jangan panggil aku Keenar kalau aku tidak membongkar kelakuan busukmu itu" geram Keenar sambil mengepalkan tangannya.


"Cukup sudah air mata ini, tidak akan kuhabiskan air mataku untuk pec**ang sepertimu. Bangkit Keenar, lupakan pec**ang seperti itu yang beraninya hanya menyakiti perempuan" tekad Keenar.


Keesokan harinya, Keenar tetap melakukan pekerjaan seperti biasa. Seperti tidak ada yang terjadi kemarin.


Keenar tetap menyiapkan sarapan dan jus untuk Raihan.


"Mas sarapan sudah siap, ayo sarapan dulu" Panggil Keenar dari depan pintu kamar Raihan.


Keenar tidak berani langsung membuka pintu, khawatir Raihan semakin marah padanya.


Tidak ada jawaban.

__ADS_1


"tok tok tok.. mas sarapan sudah siap" Keenar lebih keras sambil mengetok Pintu kamar Raihan


Tidak lama kemudian


"Iya saya denger, gak perlu teriak-teriak. Kamu pikir ini di hutan. Dasar norak!!" hardik Raihan. dilewatinya begitu saja Keenar.


Saat duduk dimeja makan


"Kamu cuma bisa masak kayak gini? yang lain dong, setiap pagi cuma nasi goreng, telor ceplok, dadar, atau roti panggang. Kreatif sedikit, belajar masak yang bener" Nyinyir Raihan. Padahal menu itulah yang biasanya selalu direquest Raihan untuk menu sarapannya.


"Kan biasanya kamu yang minta mas sarapan kayak gini" Jawab Keenar


"Berani ngebantah ya kamu sekarang, udah ngerasa hebat? oohb iya kan bapak bayi kamu itu sudah balik ke indo lagi ya? jadi kamu mulai berani sama saya" ucap Raihan dengan sinis.


"Cukup ya mas, aku lagi gak mau ribut sama kamu. Jangan rusak pagi kita dengan keributan kecil kayak gini" Pinta Keenar menahan marah.


"Ah, jadi males mau makan. Kamu makan aja sendiri, saya sudah gak mood sarapan apalagi liat muka kamu" hina Raihan sambil mengambil tas dan berjalan keluar rumah.


"Mas, uang belanjanya abis" Panggil keenar


"Makanya kerja. Jangan bisanya cuma nyusahin suami. Sekali-kali bantu suami cari uang. Kamu pikir gampang sekarang dapetin uang???!!! Nih buat seminggu" dilemparkannya 2 lembar seratus ribuan kehadapan Keenar.


Keenar hanya mengelus dada melihat polah suaminya yang benar-benar berubah.


"Bu, maaf kalo saya lancang. Kok bapak berubah sekali ya bu? sepertinya minggu kemarin masih baik-baik saja bapak?" Tanya Mbak Aminah hati-hati.


"Saya juga gak tahu mbak kenapa mas Raihan seperti itu. Mungkin ada masalah di kantornya" Keenar berusaha menutupi penyebab Raihan berubah.

__ADS_1


"Kayaknya enggak deh bu, apa bapak kena guna-guna ya bu? aneh banget keliatannya. kayak bukan pak Raihan yang saya kenal. Sekarang keliatan lebih bengisnya. Maaf loh bu" terang mbak Aminah


"Jangan menduga-duga ah mbak. Tapi nanti pelan-pelan saya cari tahu ya mbak. o iya, nanti saya mau ke rumah mama, nanti tolong siapkan puding yang saya buat tadi untuk dibawa kesana ya mbak?" Keenar berusaha mengalihkan pembicaraan mengenai suaminya.


"Baik bu, saya siapkan sekarang" mbak Aminah kembali ke dapur menyiapkan pesanan Keenar.


"Sepertinya memang ada yang tidak beres dengan mas Raihan, aku coba bicara dengan mamanya. Mungkin mama tahu sesuatu" Gumam Keenar.


Keenar berangkat sendiri ke rumah mamanya, dengan menaiki taxi online. Kandungannya sudah memasuki usia 8 bulan. Namun tak menyurutkan kegesitannya.


"Mas, satu bulan lagi anak kamu lahir, anak yang kamu tunggu-tunggu kelahirannya selama ini, tapi kenapa menjelang kelahirannya kamu justru tidak mengakuinya?" Batin Keenar sambil mengelus perut yang membesar.


Sesampainya di rumah Raihan dan bertemu papa dan mamanya, Keenar langsung mencium tangan mereka. Awalnya mereka biasa saja, namun saat Keenar menceritakan perlakuan Raihan padanya beberapa hari ini. Mamanya justru menyalahkannya.


"Makanya Keenar, kalau dirumah itu buluk amat. Dandan. Jadi suami gak berpaling cari yang lain. Mungkin Raihan sebel liat kamu buluk kayak gitu. Jadi cari yang lebih seger di luar sana" ujar mama Raihan tetap membela anaknya.


"Iya, Keenar. Wajar laki-laki selingkuh kalau istrinya gak bisa memuaskannya" sahut papanya Raihan.


" Tapi Pa, itu gak bisa dijadikan alasan untuk selingkuh. Mas Raihan tetap salah pa, Keenar sedang mengandung anaknya" isak Keenar kecewa karena ternyata orang tua Raihan tidak bisa bersikap bijak.


"Gak mungkin Raihan bisa bilang kayak gitu kalau gak ada buktinya Keenar. Raihan bukan tipe orang yang suka nuduh-nuduh tanpa bukti. Jangan-jangan benar tuduhan Raihan kalau itu memang bukan anaknya. Mama lebih percaya anak mama sendiri daripada kamu yang cuma menantu, yang mama kenal saja belum lama" ujar Mama Raihan kesal.


"Astaghfirullah Maa.. kok mama bisa bilang kayak gitu, mama juga perempuan. Dimana perasaan mama. Ini benar-benar anak mas Raihan" tangis Keenar semakin kencang.


"Sudahlah Keenar, lebih baik kamu pulang. Gak enak di dengar tetangga kamu nangis-nangis seperti itu. Nanti dikira kenapa. Masalah bayi itu nanti kita buktikan kalau sudah lahir. Tapi kami tetap percaya anak kami" ujar Papanya Raihan.


Keenar langsung mengambil tasnya dan bergegas pulang setelah mencium tangan mertuanya.

__ADS_1


"Ya Allah, Astaghfirullah.. " ucap Keenar lemas menghadapi kenyataan di depannya. Keenar berjalan dari rumah mertuanya dan baru berhenti di depan minimarket untuk istirahat dan membeli minum.


Saat tiba-tiba...


__ADS_2