Keenar, Ketika Hati Dipaksa Untuk Berbagi

Keenar, Ketika Hati Dipaksa Untuk Berbagi
Rahasia Raihan


__ADS_3

Cindy membolak-balik buku catatan yang tadi ditemukannya di gudang. Tidak ada hal lain yang aneh selain kata-kata yang ditunjukkan untuk Keenar dan ada pula foto Keenar disebelahnya.


"Akhirnya aku menikahi Keenar, si gadis sombong. Tak ada cinta untuknya, aku menikahinya hanya untuk pelarian dari rasa cintaku pada Vivian yang meninggalkanku. Rasa cintaku sudah habis dibawa Vivian. Untuk Keenar mungkin hanya tersisa rasa kasihan. Sama sekali tak ada cinta untuknya. Aku hanya suka melihat wajahnya yang manis, senyumnya yang indah tapi itu bukan cinta kan??"


Tulisan dibuku catatan Raihan membuat Cindy kaget dan tak habis pikir. Bisa-bisanya Raihan menikahi Keenar hanya untuk pelarian. Dipikirnya pernikahan hanya sebuah permainan? Pantas saja dia kembali bersama Vivian, karena masih mencintainya.


"Gila" desis Cindy


"Apa Non? Non Cindy bilang apa?" tanya mbak Aminah.


"Ah gak apa-apa mbak. Gimana mbak? Sudah selesai pilih-pilih barang yang mau kita bawa ke ruang tamu?" Cindy mengalihkan pembicaraan.


"Iya Non, ini saja. Meja, Guci-guci ini sama vas bunga yang ini" mbak Aminah menunjukkan hasil pilihannya.


"Masih bagus-bagus begitu kenapa ditaruh di gudang mbak?" tanya Cindy Heran.


"Mas Raihan Non yang meminta saya menaruh barang-barang ini di gudang dan diganti yang baru"


"Kalau tidak suka kenapa dibeli kan ya? sayang harus ganti-ganti barang baru sedangkan yang lama saja masih bagus begini"


"Saya sendiri kurang tahu Non, saya kan dulu kerja di rumah ini saat pak Raihan baru beberapa hari menikah tapi belum membawa bu Keenar ke rumah" terang mbak Aminah.


"Oh iya ya, rumah ini kan dibeli Raihan jauh sebelum Raihan menikah"


"Yuk Non, nanti keburu sore" ajak mbak Aminah.


Setelah Cindy dan mbak Aminah beres-beres ruang tamu yang porak poranda. Raihan tiba-tiba pulang. Dengan cueknya Raihan langsung menuju kamarnya tanpa menyapa Cindy.


"Itu orang gak ada sopan santunnya sama sekali, udah masuk gak ngucap salam, nyapa penghuni rumah juga enggak padahal ada di depannya". Cindy menggerutu sendiri melihat tingkah laku Raihan yang dinilainya semakin tidak sopan.


"Non, sudah selesai saya tinggal ke belakang dulu ya? saya mau masak menyambut bu Keenar dan bayinya" pamit mbak Aminah.


"Iya mbak, saya juga mau balik ke Klinik lagi jemput mereka. Mungkin nanti bapak dan ibu Keenar akan menginap disini beberapa hari mbak"


"Waduh Non, semoga pak Raihan bisa menjaga sikapnya di depan orang tuan bu Keenar ya Non" mbak Aminah terlihat khawatir.

__ADS_1


"Iya mbak, semoga saja" Cindy lalu berpamitan dan langsung ke klinik.


Di perjalanan, pikirannya dipenuhi oleh masalah rumah tangga adiknya.


"Apa aku harus menemui Vivian ya? tapi nanti dikira ikut campur, malah Raihan marah sama aku. Tapi kalau gak begini gimana mau selesai masalah mereka" gumam Cindy.


Cindy bertekad akan menemui Vivian dan mencoba bicara dari hati ke hati dengan Vivian.


Kebetulan Cindy masih menyimpan nomor ponsel Vivian.


"Hai Vi, apa kabar? ini aku Cindy, kakak Raihan. Bisa kita bertemu?" tanpa basa-basi Cindy langsung mengajak Vivian bertemu.


Tidak butuh waktu lama untuk mendapat balasan Vivian.


"Hai juga kak. Kangen nih. Ok yuk, mah ketemu dimana?" balas Vivian.


"Cafe Lapergila jam 8 malam ini" balas Cindy.


Cindy lalu menghubungi orang tuanya, mengabarkan kalau malam ini sepertinya dia tidak pulang dan kembali menginap di rumah Raihan.


Ibu dan bapak Keenar ikut mengantar Keenar pulang dan berencana menginap beberapa hari disana. Awalnya Keenar keberatan karena takut ibu dan bapaknya melihat perlakuan Raihan padanya namun, Cindy yang meyakinkan Keenar kalau tidak akan terjadi apa-apa selama bapak dan ibu menginap di rumah.


Sesampainya di rumah, ternyata Raihan yang menyambut mereka. Berpura-pura ramah saat melihat mertuanya.


"drama dimulai" gumam Cindy yang melihat adiknya beramah tamah dengan mertua dan perhatian pada Keenar membuatnya muak.


"Loh bapak dan ibu ikut mengantar? maaf tadi saya tidak bisa menjemput karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal, saya pikir malam nanti Keenar baru bisa pulang. Tahu sore sudah bisa pulang tadi dari kantor saya langsung ke klinik menjemput kalian" Raihan berbasa-basi.


"Tidak apa-apa nak Raihan, kalo mengerti" jawab Bapak smbil memelul pundak Raihan.


"Mari masuk pak, bu, menginap disini kan? nanti kamarnya disiapkan mbak Aminah, mbak Aminaah.. " lanjut Raihan.


"Iya pak" mbak Aminah pun datang menghampiri Raihan yang memanggilnya.


"Ini tas bapak dan ibu tolong ditaruh di kamar tamu" titah Raihan.

__ADS_1


"Baik pak" mbak Aminah langsung membawa tas mertua Raihan dan menaruhnya di kamar tamu sekalian membereskan kamar itu yang tadinya dipakai Raihan. Tanpa disuruh pun, mbak Aminah mengerti kalau jangan sampai mertua majikannya tahu kalau Raihan tidur disitu bukan di kamar utama bersama Keenar.


Keenar langsung membawa bayinya masuk ke kamar, ditemani Cindy. Raihan menemani mertuanya mengobrol. Seperti biasa, seperti tidak ada masalah diantara dirinya dan Keenar.


"Muak banget liat drama Raihan sama bapak ibu" ujar Cindy.


"Lah kirain aku doank yang muak, ternyata mbak Cindy juga" Keenar tertawa.


"Jadi apa rencana selanjutnya Kee?" tanya Cindy.


"Belum tahu mbak, yang aku pikirin gimana caranya jangan sampai ibu dan bapak tahu masalahku dengan Raihan. Gak tega mau ceritanya, sama aja nambahin beban ke mereka. Aku belum siap cerita ke mereka". jawab Keenar lirih.


"Tenang saja, kali ini mbak rasa Raihan bisa diajak kerjasama. Lihat kan tadi gimana totalitasnya dia drama pura-pura di depan bapak ibu kamu?" Cindy tersenyum geli.


"Iya mbak semoga saja".


Saat Cindy dan Keenar sedang berbincang, Raihan tiba-tiba masuk ke kamar. Melihat Raihan yang masuk ke kamar, Cindy dengan tahu diri pun pamit keluar.


"Kee, mbak ke dapur dulu ya bantuin mbak Aminah nyiapin makanan"


"Iya mbak, maaf kalau merepotkan"


"Enggaklah, sudah seharusnya mbak membantu kamu"


Setelah kepergian Cindy, Raihan menatap Keenar yang sedang menyusui bayinya. Ada rasa membuncah rasa bahagia dari dada Raihan, hati kecilnya berkata kalau itu anaknya. Tapi pikirannya dan gengsinya menolak mengakuinya.


"Sudah di adzanin belum anak itu?" tanya Raihan.


"Sudah tadi sama bapak"


"Tapi aku belum adzanin, tadi lupa. Sini aku adzanin dulu" pinta Raihan.


Keenar memberikan bayinya ke tangan Raihan, ada rasa bahagia di hatinya karena Raihan mau mengadzani anaknya. Dilihatnya Raihan menangis saat mengadzani anaknya.


"Semoga mas Raihan mau menerima anaknya ya Allah, bukalah pintu hatinya" Doa lirih Keenar.

__ADS_1


__ADS_2