
Sejak peristiwa di siang jahana* itu, Vivian menjadi pribadi yang tertutup. Hanya pada Kayana lah Vivian mau bercerita tentang masalahnya, tentang peristiwa yang hampir membuatnya gila. Jika tidak ada Kayana mungkin Vivian sudah bunu* di** di rumah Pakdenya, menyusul orang tuanya. Karena Kayana, yang bisa membuatnya tetap harus bertahan.
"Lu kuat, lu harus tetap kuat Vi. Demi mimpi lu buat jadi orang kaya seperti yang lu impikan selama ini"
"Tapi masa depan gw udah hancur Kay" isak Vivian.
"Enggak Vi, gak ada yang tahu masa depan itu kayak apa, yang penting sekarang lu harus kuat. Eh, Gimana kalau lu kost aja Vi?" usul Kayana.
"Iya kost, bilang aja pengen mandiri gitu. Siapa tahu dibolehin" usul Kayana.
"Tapi, apa boleh ya?" Vivian Ragu-ragu.
"Ya dicoba aja lah Vi, siapa tahu boleh. Apalagi bude lu kan sebel banget sama lu. Kalik aja kalau lu pindah dari rumah durja** bude lu malah seneng"
Vivian menarik napas panjang.
"Kost? kenapa gak kepikiran dari dulu y? " gumam Vivian.
Malam harinya, Vivian menyampaikan keinginannya untuk Kost pada Pakdenya yang sedang duduk di beranda rumah.
"Pakde, Vian mau ngomong sesuatu boleh?" tanya Vivian pelan.
"Ada apa nduk? kok kayaknya penting sekali?" Pakde heran karena tidak biasanya Vivian begitu.
"Uhm.. anu Pakde, Vian boleh gak kost? di dekat sekolah saja gak perlu jauh-jauh.. Biar Vian mandiri" ujar Vian sambil memainkan ujung baju tidurnya.
"Kost? kenapa? kamu gak betah tinggal disini sama Pakde? Kamu masih SMP Vi, masih terlalu kecil untuk hidup mandiri seperti itu.Lagipula Kalau kamu kost nanti siapa yang bantu Pakde? Nanti sajalah ya Vi, kalau kamu sudah lulus SMP, kalau kamu jadi melanjutkan ke SMA Cahaya Nusantara, kamu bisa kost. Kalau sekarang sepertinya Pakde belum bisa melepas kamu" Pakde menolak keinginan Vivian.
"Lhooo.. ada angin apa kamu mau kost segala Vian? Sudah merasa bisa cari duit sendiri gitu? Sudah merasa mampu mengurus diri kamu sendiri???? Masih kecil sok-sok an mau mandiri. Yang ada nanti malah merepotkan kami lagi" Bude tiba-tiba menyahut dari dalam rumah.
"Nanti saja kalau mau kost kalau kamu sudah masuk SMA. Tapi kamu harus ingat, sekali kamu keluar dari rumah ini, berarti bude anggap kamu sudah bisa membiayai hidup kamu sendiri. Jangan pernah minta kesini lagi. Jadi sudah bebas tugas kami" lanjut bude.
"Bu... ya tidak seperti itu. Selama Vian masih sekolah, Vian tetap menjadi tanggung jawab bapak. Bapak sekarang ini walinya bu" Tegas Pakde.
"Halaaahh... merepotkan saja bapak ini. Sudah bagus dia mau keluar dari sini, kita sudah bebas tanggungan, sudah gak ada beban lagi. Hhhh!!" kesal bude.
__ADS_1
"Bapak benar bu, seumur Vian ini masih belum bisa untuk mandiri seperti itu. Nanti sajalah Vian, kalau kamu sudah SMA. Lagipula tinggal setahun lagi. Kamu sabar saja dulu" Bima ikut berkomentar dan menyeringai licik pada Vivian.
Vivian yang jijik Melihat Bima dan segera memalingkan wajahnya dari Bima.
"Menjijikkan pengen mu**** rasanya liat mukanya" Batin Vivian.
"Kamu kok malah dukung bapakmu. Harusnya kamu itu dukung ibu" omel bude.
"Baik Pakde kalau begitu, Vian menurut saja. Pemisi Pakde, Bude, mas Bima, Vian ke kamar dulu" pamit Vian.
Di kamar Vivian hanya bisa menangis. Dia sadar selama ini hanya menjadi beban orang lain saja. Seharusnya dia ikut Papa dan Mama meninggal saja, jadi tidak perlu jadi beban siapa-siapa. Sewaktu di kampung setelah pemakaman Papa dan Mamanya, para saudara saling tunjuk siapa yang mau mengasuh Vivian. Tidak ada satupun keluarganya yang mau mengasuhnya, beruntung Pakdenya datang dan berniat mengasuhnya.
Sejak saat itu Vivian ikut Pakdenya, Walapun budenya tidak suka dengan Vivian karena dinilai hanya akan merepotkan, tapi tidak bisa membantah keinginan Pakdenya yang ingin merawat Vivian.
Vivian memeluk foto Papa dan Mamanya dan berdoa agar secepatnya dijemput saja. Tidak lama kemudian Vivian tertidur sambil memeluk Foto Papa dan Mamanya.
Setahun kemudian, Vivian lulus SMP dan mendapat beasiswa ke SMA cahaya Nusantara.Sesuai kesepakatan dulu, kalau Vivian lulus SMP dan masuk Ke SMA Cahaya Nusantara, maka Pakde akan mengijinkan Vivian kost. Setelah Vivian keliling mencari Kostan, akhirnya Vivian mendapat kostan dekat sekolah. Beruntungnya, Kayana juga diterima di sekolah yang sama.
"Vi, lu tinggal di rumah gw aja gimana? Kan lumayan bisa ngirit duit bayar kostan? lagian Mama juga udah setuju kok" usul Kayana.
"Ya ampun Vi, siapa yang bilang lu beban. Lu tuh sahabat gw, sama sekali gak ngebebanin gw sama mama. Udah deh, tinggal dirumah aja ya?" Pinta Kayana lagi.
"Makasih deh Kay, gw lebih nyaman kost. Walaupun cuma sepetak kecil kayak gini tapi gw seneng"
"Terus buat sehari-hari gimana? Bude lu kan udah gak mau bantu Vi?"
"Gw bakal cari kerja lah Kay, yang part time kan pasti ada. Untuk sementara ini gw masih ada tabungan, kan dulu gw juga kerja".
"Ya ampun Vi, lu gak capek apa sekolah sambil kerja kayak gitu? "
"Ya capek lah Kay, tapi gw ya harus bisa bertahan. Karena gak ada yang menghidupi gw selain diri gw sendiri. Kalau gw gak bisa bertahan ya gimana Kay. Kerja apa aja yang penting gw bisa dapet duit, bisa sekolah, bisa makan. Udah cukup. Syukur2 masih bisa nabung".
"Gw kagum sama lu Vi" Kayana memeluk Vivian. Namun kekaguman Kayana tidak bertahan lama, karena menginjak tahun kedua di SMA, Vivian mulai berubah.
Semenjak Vivian mengenal dan dekat dengan Amber, anak kelas sebelah yang terkenal sebagai sugar baby, Vivian menjadi berubah, bukan Vivian yang Kayana kenal lagi.
__ADS_1
"Kay, gw pulang duluan ya? udah dijemput soalnya" ujar Vivian saat bel pulang berbunyi.
"Lu kerja apa sih Vi, gw perhatiin kok beberapa minggu ini kok dijemput mobil mewah terus? hari ini bareng Amber lagi? Hati-hati loh Vi, Amber itu kaaaannn..... "
"Iya iya gw tahu Kay, udah jangan khawatir. Gw bisa jaga diri" Vivian memotong kalimat Kayana yang belum selesai dan berlari keluar kelas. Di depan kelas sudah ada Amber yang menunggunya.
Beberapa minggu sebelumnya, Vivian bercerita kalau dia mendapat pekerjaan baru di sebuah karauke berkat bantuan Amber, teman kelas sebelah.
"Kay, gw udah dapet kerjaan baru. Kali ini duitny lebih gede" ujar Vivian senang.
"Oh ya? alhamdulillah.. dimana Vi? gw ikut seneng deh" sahut Kayana dengan senang.
"Di karaoke Ceria, gw nemenin minum pengunjung aja sih, tapi tip ny lumayan Kay, lu gw traktir yuk? " ucap Vivian sambil memamerkan Uang di dompetnya.
"Lu beneran cuma nemenin minum kan Vi? gak ngapa-ngapain?" Tanya Kayana curiga.
"Enggak Kay, lu tenang aja deh. Gw traktir di kantin yuk" ajak Vivian.
"Hai Vi, ntar malem berangkat kan? bareng gw atau sendiri?" Vivian dan Kayana bertemu Amber di depan kelas.
"Sendiri aja gak apa-apa deh. Gw udah berani" jawab Vivian.
" sip, jangan sampe telat yaaaa" Amber mengingatkan.
Vivian hanya mengacungkan jempolnya.
Kayana semakin curiga dengan pekerjaan baru Vivian. Apalagi menurut informasi dari teman-temannya, Vivian sering dijemput mobil mewah yang didalamnya ada om-om. Awalnya Kayana tak percaya, namun minggu kemarin Kayana melihatnya sendiri saat Vivian djemput mobil mewah.
Sejak kerja di Karaoke juga Vivian berubah, walapun nilai-nilai pelajarannya tetap tinggi dan Vivian tetap menjadi juara kelas, namun sikap Vivian yang mulai berubah. Vivian mulai sombong, tidak segan membentak dan menghina temannya yang dinilai tidak seperti dirinya. Penampilan Vivian pun berubah, dari Vivian yang sederhana, menjadi Vivian yang glamour. Tas, sepatu pun mulai bermerk mahal, begitupun bajunya. Rambut Vivian yang biasanya hanya tergerai saja, sekarang mulai keriting dan kadang bergelombang. Wajahnya pun terlihat menggunakan perawatan mahal. Sungguh bukan Vivian yang Kayana kenal.
Setiap manusia memang berhak berubah, Tapi Vivian sangat drastis perubahannya..
Sejak saat itu lambat laun Vivian dan Kayana mulai berjarak. Tidak lagi seperti dulu...
Apalagi semenjak kejadian di malam minggu yang....
__ADS_1