
Tepat saat mobil Harlan keluar halaman, Keenar muncul dari dalam rumah.
"Loh... mas Harlan udah pulang? aku belum ketemu udah pulang duluan" tanya Keenar pada suaminya.
"Iya katanya ada meeting tadi. Yuk masuk ada yang mau aku bicarakan" jawab Raihan menggandeng tangan istrinya.
Di dalam kamar, Raihan membicarakan masalah Cindy dan Harlan. Keenar awalnya terkejut mengetahui kalau Cindy akan menggugat cerai Harlan. Namun setelah mengetahui masalahnya, Keenar mengerti. Karena dia pun kemarin sempat diposisi Cindy. Bisikan-bisikan untuk meminta cerai hampir setiap saat di dengarnya. Bahkan Keenar hampir gelap mata untuk bun** diri.
"Wajar mbak Cindy minta cerai" ucap Keenar.
"Tapi mas Harlan tidak mau menceraikan mbak Cindy, katanya masih cinta"
"Heleeehh.. kalau cinta gak bakalan selingkuh. Bisa-bisaan laki-laki aja itu mah" Keenar mencibir.
Raihan hanya diam, tidak bisa menjawab ucapan Keenar.
"Lalu apa yang bisa kita bantu?" Tanya Keenar kemudian.
"Mungkin kamu bisa bicara dari hati ke hati dengan mbak Cindy, kalian kan cukup dekat" saran Raihan.
"Bicara untuk?"
"Ya agar mbak Cindy tidak jadi menuntut cerai mas Harlan"
"Mas, kamu ini aneh loh. mbak Cindy itu kan saudara kandung kamu ya mas, masa kakak kamu disakiti suaminya, kamu malah membela orang yang nyakitin dia sih? harusnya kan kamu bela mbak Cindy, mendukung mbak Cindy untuk bercerai dari suaminya. Atau minimal tadi pas mas Harlan kemari, kamu hajar mas Harlan. Begitu baru guna saudara laki-laki. Kok kamu malah hahahihi sama mas Harlan" omel Keenar.
Raihan hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena mendengar omelan istrinya.
"Oh iya aku paham, kalian kan sama-sama buaya, pantas kalau saling membela" Cibir Keenar.
"Ayolah sayang.. jangan bahas-bahas yang lalu lagi. Sekarang aku tanya, kamu mau bantu gak? minimal gini deh, kamu beri semangat mbak Cindy yang lagi terpuruk. Kalau urusan yang lain biar aku yang ngomong sama mbak Cindy" Rayu Raihan.
Keenar menarik napas.
"Iya mas, aku pernah diposisi mbak Cindy, dan saat aku terpuruk kemarin, mbak Cindy lah yang ada di dekatku dan memberiku semangat. Aku gak nyangka kalau mbak Cindy akan mengalami apa yang aku alami bahkan dengan perempuan yang sama". Tutur Keenar dengan geram. Baginya mengingat Vivian sama saja membangkitkan emosi terpendamnya.
"Ya sudah begini saja, nanti sore kita ke rumah mama sekalian silaturahmi, sudah lama kan kita gak ke rumah mama?" ajak Raihan sambil menggenggam tangan Keenar.
__ADS_1
Keenar sedikit trauma jika mengingat mertuanya. Terbayang sudah ucapan-ucapan menyakitkan mertuanya yang dilayangkan padanya setiap mereka bertemu. Apalagi saat Keenar hamil dan mengadukan perbuatan suaminya yang selingkuh, bukannya merangkul Keenar tapi Mereka malah memakinya dan membela anaknya mati-matian, bahkan mereka tahu jika anak mereka yang salah.
Jadi Keenar merasa sakit hati dan trauma dengan mertuanya. Terutama ibu mertuanya.
Jika tidak ingat kebaikan mbak Cindy selama Keenar terpuruk kemarin, tak sudi Keenar menginjakkan kakinya kesana.
Keenar akhirnya mengangguk dan setuju untuk pergi ke rumah mertuanya.
"Baiklah mas, kalau begitu aku mau menyiapkan cake untuk dibawa kesana" ucap Keenar sambil menuju dapur.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
Sore harinya, Raihan, Keenar dan Zafran berangkat menuju rumah orang tua Raihan.
Selama perjalanan, Keenar hanya bisa terdiam sambil memangku Zafran. Dirinya gugup bertemu mertuanya, bayangan-bayangan makian dan hinaan mertuanya datang silih berganti, membuat tubuhnya berkeringat dingin. Raihan yang melihat perubahan istrinya selama dimobil juga cukup heran, karena tidaklml biasanya Keenar diam saja di mobil.
"Kee kamu kenapa? sakit?" tanya Raihan. Raihan menyentuh dahi Keenar untuk merasakan demam atau tidak.
"Enggak mas, gak apa-apa kok" jawab Keenar tapi pandangnnya tetap keluar jendela mobil.
"Masa sih mas? enggak lah gak apa-apa ini, mungkin agak kecapaean aja" keenar menutupi kegugupannya.
Sesampainya di rumah orang tua Raihan, Keenar di sambut mertuanya. Zafran langsung digendong kakeknya, dan Keenar dipeluk mertuanya. Keenar yang terkejut mendapat pelukan mertuanya sempat bingung namun Keenar cepat menguasai keadaan, dibalasnya pelukan mertuanya.
Mamanya Raihan menangis memeluk menantunya.
"Ma.. ada apa? mama kenapa menangis?" Tanya Keenar bingung.
"Mama minta maaf Kee, dulu mama pernah menyakiti kamu, memaki kamu, dan tidak mempercayaimu. Sekarang mama merasakan bagaimana rasanya orang tua yang anaknya disakiti oleh suaminya. Rasanya mama ikut sakit Kee" isak mama yang masih memeluk Keenar.
"Iya ma.. Keenar mengerti. Keenar juga minta maaf ya ma.."
"Nah kaaann.. sakit hati juga kaann.. kena karma kan.. duh, kok antara seneng dan sedih ya kayak gini. Maafin Keenar ma.. Keenar mau ketawa dalem hati dulu, eh durhaka gak ya? enggak lah ya kan udah minta maaf" batin Keenar.
"Udah ma, ajak Keenar masuk dulu, malu kalau dilihat orang mama nangis di depan rumah gitu" Tegur Raihan.
"Semua gara-gara kamu Raihan" Mama memukul lengan Raihan sambil masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
" Kok gara-gara Raihan sih ma?" Raihan memegangi lengannya yang kena pukul mamanya.
"Iya, coba kalau kamu kenal sama perempuan ja**** itu. Gak bakal keluarga kita kayak gini" mama memarahi Raihan.
"Sudah ma.. nanti lagi marahnya, disimpan dulu, ajak Raihan dan Keenar duduk. Jangan dimarahi di depan pintu begitu" tegur Papa yang sedang memangku Zafran.
Keenar menyalami papa dan duduk di sofa dekat Raihan.
"Mbak Cindy bagaimana keadaannya ma?" tanya Raihan langsung.
"Kok kamu malah tanya kabar Cindy sih gak tanya kabar mama dulu? " mama cemberut.
"Mamaaa...mulai deh.. " Raihan memeluk mamanya yang berada di sebelahnya. Keenar yang melihatnya hanya tersenyum.
"Pantesan dibela mulu, benar-benar anak mama". batin Keenar yang melihat keakraban mereka.
"Cindy ya bagaimana yaaa.. semenjak kejadian kemarin itu, dia masih sering mengurung diri di kamar. Bahkan kemarin itu Cindy hendak menggugat cerai Harlan" ujar Papa.
"Sekarang mbak Cindy dimana?" sahut Keenar.
"Dikamar, dia sekarang jarang keluar kamar. Mama minta tolong nasihati Cindy untuk memikirkan masak-masak keputusannya itu" jawab Mama.
"Kenapa ma? mbak Cindy itu sudah diselingkuhi loh ma.. wajar jika mbak Cindy minta cerai" ucap Keenar heran.
"Kamu kenapa dulu gak minta cerai Raihan?" balas mama.
"Siapa bilang? aku sudah minta cerai tapi mas Raihan yang gak mau, lagipula aku masih mikirin anak aku ma.. kasian Zafran kalau mama dan papanya berpisah. Zafran masih butuh papanya" terang Keenar.
"ini juga Harlan gak mau menceraikan Cindy"
"Terus kenapa mama masih membela mas Harlan padahal mbak Cindy itu anak mama" sengit Keenar.
"Kee... sudah, jangan lupa tujuan kita kemari untuk apa? bukankah untuk membujuk mbak Cindy untuk mengurungkan niatnya menggugat cerai mas Harlan? kenapa kamu sekarang jadi mendukung untuk cerai??" Ucap Raihan.
"Loohh. kan tadi perjanjiannya gak gitu mas, aku kan cumaaaaa.....ah Baiklah, sekarang aku mau ke kamar mbak Cindy" Keenar bangkit dan menuju kamar Cindy saat dilihatnya Raihan mulai memelototi dirinya.
"Kee.. ingat tujuan kita kemari" teriak Raihan yang dibalas lambaian tangan dari Keenar.
__ADS_1