Keenar, Ketika Hati Dipaksa Untuk Berbagi

Keenar, Ketika Hati Dipaksa Untuk Berbagi
Kayana Memohon


__ADS_3

"Apa yang tidak aku mengerti? bagian mana yang tidak aku mengerti???!!!! Bentak Raihan.


Sebelum Vivian menjawab terdengar ketukan di pintu, dan ternyata suster yang masuk untuk memeriksa Vivian. Tidak lama kemudian Kayana datang dengan wajah panik. Namun setelah dilihatnya ada Raihan, Kayana mulai tenang.


"Gimana bisa sih Vi sampai kayak gini? Kan lu bisa telpon gue buat jemput!!" omel Kayana.


Vivian hanya diam dan tak menjawab omelan Kayana. Vivian masih shock dengan apa yang terjadi di hidupnya.


"Kay, nitip Vivian. Gue masih ada urusan penting" Raihan segera mengambil jaketnya dan keluar dari kamar tanpa berpamitan pada Vivian.


Vivian yang melihat tingkah Raihan seketika menangis.


"Vi, sudah.. lupakan Raihan. Dia bukan milik kamu lagi, lepaskan" saran Kayana.


"Enggak Kay, Raihan itu milik gue. Dia gak bakal bisa pergi dari gue. Gue akan bertahan, sampai dimana dia bisa berlaku sok cuek sama gue" Vivian tetap keras hati.


"Vi, Sekuat apapun kamu bertahan, pada akhirnya kamu akan menyerah pada sesuatu yang memang bukan milikmu" nasihat Kayana.


"Enggak, Raihan tetap milik gue dari dulu dan sampe sekarang".


Kayana menghela napas dan menyerah.


"Terserah lu Vi, gue cuma ngasih tahu aja sebagai sahabat. Gue cuma gak pengen lu lebih hancur daripada sekarang".


"Gue udah ancur dari umur 14 tahun Vi, lu lupa??" Sinis Kayana.


"Jadi kenapa lu bisa disini? jelasin sama gue. Lu berangkat baik-baik aja terus sekarang udah di rumah sakit" tanya Kayana.


"Ceritanya panjang dan gue lagi males ngedongeng"


" Ya lu singkat aja, kayak cerpen" Kayana masih memaksa.


Akhirnya Vivian bercerita tentang apa yang dialaminya dan tentang siapa Alex. Kayana yang awal mula biasa saja, lalu saat mendengar siapa alex dan apa yang sudah dilakukannya pada Vivian, darahnya pun mendidih. Vivian memang salah, namun tidak seharusnya diperlakukan seperti itu.

__ADS_1


"Kurang a***!! laki-laki breng**!!" maki Kayana.


"Gue juga breng*** Kay" Vivian tertawa miris.


"Udah sekarang yang penting lu istirahat aja dulu, masalah yang kemarin biar kita selesaikan nanti setelah lu sembuh"


"Setelah gue pulang dari sini, anterin gue ke rumah pakde Gimo" Pinta Vivian.


"Ngapain? masih pengen Raihan yang tanggung jawab? apa pengen nyantet Alex?" kepo Kayana.


"enggak, gue pengen nyantet Keenar"


"Kenapa? Apa salah Keenar?"


"Dia penyebab Raihan gak mau balik sama gue. gara-gara dia Raihan benci sama gue. Gue gak terima. Sampai kapanpun Raihan tetap milik gue, gak ada yang boleh milikin dia selain gue" tekad Vivian dengan mata penuh amarah dan dendam.


Kayana yang melihat Rencana Vivan untuk menyantet Keenar jelas terkejut. Tidak disangkanya Vivian akan melakukan hal diluar batas kewajaran.


"Enggak Vi, gue udah gak mau. Lu udah gak waras menurut gue, udah kelewatan. Itu udha bukan cinta lagi Vi, tapi obsesi. Udah deh sekarang lebih baik, lu istirahat biar cepet sembuh" Nasihat Kayana.


Kayana hanya menatap Vivian dengan prihatin. Kayana tidak bisa berbuat banyak, karena di tahu sifat Vivian. Semakin dilarang, semakin dia penasaran.


"btw, gue telponin pakde lu ya? biar keluarga lu tahu kalau lu sakit. Kalik aja bude lu udah berubah?"


Vivian hanya mencebik dan menggeleng.


"Enggak usah, gue males ketemu mak lampir sama jin ifrit itu" Tolak Vivian.


"Kay, mau sampai kapan lu gak mau ketemu mereka? biar gimana juga mereka itu keluarga lu satu-satunya. Semenjak lu mutusin keluar dari rumah pakde lu, sampai sekarang lu gak pernah datang ke Rumah mereka"


"Terlalu sakit Kay, lu gak ngerasain apa yang udah gue alamin disana. Kalau lihat rumah itu lagi atau melihat mereka gue takut bayangan-bayangan masalalu itu datang. Rasanya menyakitkan Kay, jauh lebih menyakitkan dibanding apa yang gue alamin sekarang. Kalau aja orang tua gue masih ada, gue gak bakalan sampai kayak gini" isak Vivian.


"Lu gak boleh ngomong gitu Vi, sama aja lu nyalahin Tuhan. Tuhan gak akan kasih kita ujian diluar batas kemampuan kita. Tuhan percaya lu kuat, makanya lu dikasih ujian kayak gini" Nasihat Kayana.

__ADS_1


"Hahaa... lu ceramah mulu daritadi Kay, mau gantiin mamah dedeh lu? yang jelaa Kay, jangan sekali-kali lu hubungin mereka atau gue selamanya gak mau ketemu lu" Ancam Vivian.


Kayana hanya mengendikkan bahu dan menyuruh Vivian beristirahat agar cepat bisa pulang.


Sedangkan Raihan sedari tadi masih berada di depan rumah sakit. Hatinya tidak tega meninggalkan Vivian di rumah sakit tapi disisi lain hatinya membenci Vivian. Walaupun rasa kecewanya begitu besar pada Vivian namun rasa cintanya yang ternyata kembali muncul mengalahkan rasa kecewa dan bencinnya


Ditahannya Perasaannya yang ingin kembali masuk dan memeluk Vivian yang sedang bersedih seperti itu, namun sisi hatiny yang lain tidak mengijinkan dan mengingat janjinya pada Keenar, istri sahnya. Istri yang selalu disakitinya dan tidak pernah dibahagiakannya selama ini.


Raihan memukul keningnya sendiri dan tidak disadarinya disamping mobilny ada Kayana , sahabat Vivian yang mengetuk pintu mobilnya.


"Hai.. apa kabar? bisa kita bicara?" Ajak Kayana.


Raihan mengangguk dan Kayana segera masuk ke mobil Raihan.


"Gimana Vivian?" tanya Raihan setelah Kayana baru duduk dan meminum Air yang dibawanya.


"Udah tenang, dan bisa di ajak komunikasi sih tadi Walapun mungkin tadi agak banyak melamun dan halu tapi mendingan lah daripada diem-diem aja" Jawab Kayana.


"Alhamdulillah" ucap Raihan.


"Han, gue boleh tanya sesuatu?" izin Kayana.


"Apa? tentang hubungan gue sama Vivian akhir-akhir ini?"


Kayana mengangguk.


"Sebenernya udah males ngebahas sih tapi biar lu tahu ya Kay, gue udah gak ada hubungan apa-apa lagi sama dia. terlanjur sakit mungkin yaaaaa.. gue yang tulus bahkan lebih milih dia dibanding Istri sah gue sendiri malah dibalas kayaak gini sama dia, bisa-bisanya dia main dengan banyak laki-laki apalagi salah satunya ipar gue. Dan dia tahu itu Kay. bang*** gak tuh?!!? apa salah gue? apa kurangnya Gue?? kurang bucin apa gue??!! semua gue kasih buat dia, tapi apa balasannya???!!! " Geram Raihan sambil menghidupkan rokoknya. Entah kenapa kalau bicara masalah Vivian, emosinya langsing naik.


"Tapi dia menyesal Han..dia mau balik sama lu lagi" ucap Kayana pelan. Entah kenapa Kayana mesti repot-repot bicara ke Raihan tentang Vivian. Mungkin agak Vivian tidak perlu menemui pakds Gimo dan tersesat lebih jauh lagi.


"Menyesal??? halah. omong kosong. dia menyesal karena tidak ada laki-laki yang mau mengakui anaknya. Iya kan?? " Raihan mengerling.


Kayana tidak bisa menjawab karena Raihan benar.

__ADS_1


"Tapi Han.. kasihan Vivian apalagi dia sedang mengandung. Walaupun kita tahu itu entah anak siapa. Tapi setidaknya tolonglah berikan dia perhatian selama di hamil Han. " Pinta Kayana.


Raihan menghela napas dan menggeleng sambil tersenyum sinis menatap Kayana...


__ADS_2