Keenar, Ketika Hati Dipaksa Untuk Berbagi

Keenar, Ketika Hati Dipaksa Untuk Berbagi
Pertanda


__ADS_3

Sepulang dari apartemen Vivian, Raihan terdiam di kafe Randy, sahabatnya.


"Kenapa lagi lu? kusut amat? masih masalah yang sama?" tanya Randy.


Raihan mengangguk.


"Belum selesai juga? apalagi sekarang masalahnya? Vivian masih nuntut tanggung jawab?" lanjut Randy.


"Enggak" jawab Raihan singkat.


"Nah bagus dong? Terus apalagi?"


"Masalahnya gue gak bisa lupain Vivian. Gue marah sama dia, benci malahan. Tapi rasa benci sama cinta gue ke dia tuh tipis banget. Lebih tipis dari rambut mungkin. Jadi yaaa gue bingung. Ada apa sama gue". keluh Raihan frustasi.


Randy menatap Raihan dengan prihatin.


"Tapi gue juga cinta sama Keenar. Gue gak sanggup lihat dia sakit hati lagi karena gue. Gue harus apa??!!"


"Lu pilih salah satu. Keenar atau Vivian. kalau mau keduany ya gak apa-apa asal lu bisa adil. Tapi menurut gue tetap Keenar yang nantinya bakal tersakiti" saran Randy.


"Gue gak bisa pilih salah satu. Gue cinta mereka. Gue pengen milikin mereka seutuhnya"


"Waah.. maruk lu. Tapi ya coba aja lu ngomong baik-baik sama Keenar. Btw, Vivian mau jadi yang kedua emangnya?" Randy sangsi.


"Dulu dia pernah bilang mau jadi yang kedua"


"Dulu kan? sekarang belum tentu. Apalagi lu sempat memaki-maki dia"


Raihan semakin frustasi..


Di rumah, Keenar menunggu kedatangan Raihan. Berkali-kali ditelponnya ponsel Raihan tapi tidak aktif. Berbagai pikiran buruk mulai muncul dikepala Keenar.


"Sudah malam tapi kok mas Raihan belum pulang juga mana ponselnya gak aktif" gumam Keenar khawatir.


Sudah satu jam Keenar mondar-mandir di ruang tamu tapi Raihan tak kunjung pulang. Bolak-balik menengok jendela berharap Raihan datang. Semakin malam, Keenar semakin gelisah. Berkali-kali mengecek ponselnya dan memghubungi Raihan namun tak juga aktif.


Selintas curiga sempat hadir dipikirannya. Mungkinkah?? namun cepat di usirnya rasa curiga yang sempat hinggap.

__ADS_1


"Semoga tidak.. jangan lagi.. ku mohon jangan" Keenar terus saja berguman dan berharap agak Raihan tidak lagi menemui perempuan itu.


"Mas Raihan sudah berubah. Sekarang kamilah prioritasnya. Mungkin saja mas Raihan sedang ada meeting atau apa. Dia sebentar lagi pulang" Keenar terua aja berusaha berpikir positif tentang Raihan.


Tidak lama kemudian? deru suara mobil Raihan terdengar. Keenar berkali-kali mengucap doa syukur, Raihan sudah pulang.


"Assalamualaikum..." Raihan mengucap salam.


Keenar segera menyambut dan membuka pintu.


"Waalaikumsalam.. mas.. malam sekali. Tumben" Ucap Keenar sambil mencium tangan Raihan.


"Iya, ada meeting mendadak karena ada masalah di lapangan" jawab Raihan.


"Mas sudah makan? mau makan malam? sayur dan laukny aku panasin ya?"


"Gak usah, aku ngantuk. Capek banget juga. Pengen istirahat" Jawab Raihan datar dan berlalu ke kamar


Keenar agak terkejut melihat sikap Raihan malam ini. Namun segera ditepisnya pikiran buruk tentang Raihan hari ini.


Keenar mengikuti Raihan ke kamar menyusul Raihan.


"Air dingin aja. Nanti. masih keringetan" jawab Raihan yang langsung menjatuhkan diri ke kasur dan memainkan ponselnya tanpa memperdulikan Keenar.


Keenar hanya bisa menghela napas. Persis. Persis seperti dulu saat Raihan mulai menggila. Apakah ini juga? Tapi dengan siapa? dengan orang lain atau dengan orang yang sama? Ja**** itu lagi kah?


Keenar merapatkan giginya dengan geram. Baru sebentar, belum lama keadaan rumah tangga mereka membaik, haruskah menjadi neraka lagi? Tak sanggup. Keenar tak sanggup membayangkannya.


"Kenapa?" tanya Raihan.


Keenar terkesiap mendengar suara Raihan yang menegurnya.


"Apanya?" Keenar bingung menatap Raihan.


"Kamu ngapain berdiri disitu?" tanya Raihan dengan tatapan heran.


"Eh.. gak apa-apa. Cuma lagi berpikir aja" Jawab Keenar sambil keluar kamar.

__ADS_1


Raihan mengernyit bingung melihat tingkah istrinya.


"Dia kenapa sih" gumam Raihan bingung.


Keenar duduk di meja makan dan berpikir tentang sikap Raihan malam ini. Sisi hatinya berkata Raihan sedang lelah, wajar bersikap seperti itu. Dirinya saja yang baper karena mungkin trauma dengan masa lalu. Tapi sisi hatinya yang lain juga berkata kalau Raihan memang menggila lagi. Belum lama Raihan bersikap manis padanya, dan sekarang langsung berubah cuek. Pasti ada sesuatu dibaliknya.


Keenar yang pusing dengan pertengkaran antara hatinya sendiri akhirnya memilih ke kamar Zafran dan tidur dengan bayi tampannya itu.


Keenar membuka pintu kamar Zafran dan mendapati Zafran yang sedang bermain bersama Mbak Aminah.


"Loh.. anak mama bangun lagi? tadi lagi bobo?" ucap Keenar.


"Iya bu, tadi sewaktu saya mau mencuci piring, saya mendengar Zafran menangis. Sudah saya beri susu tapi gak mau tidur lagi, malah ngajak mainan ini" Mbak Aminah memangku Zafran.


"Yasudah mbak, Zafran biar sama saya saja malam ini. Mbak Aminah istirahat saja dikamar" ucap Keenar.


"Iya bu, saya permisi" Mbak Aminah keluar kamar.


Setelah mbak Aminah keluar, Keenar mencoba menidurkan Zafran kembali. Tidak lama Keenar pun ikut tertidur. Dalam tidurnya, Keenar bermimpi Vivian datang dan mengajak Raihan pergi. Keenar berteriak-teriak memanggil Raihan sambil menggendong Zafra tapi Raihan tetap berjalan bersama Vivian dan tidak memperdulikannya sama sekali.


Keenar terbangun karena tangisan Zafran. Keenar pun memikirkan mimpinya barusan, apakah perempuan itu kembali lagi mengusik mereka? Tapi kenapa Raihan tidak peduli dengannya? seperti tidak mengenalinya sama sekali? bahkan saat Keenar memohon pun, wajah Raihan datar saja dan matanya terlihat kosong. Ada apa? Keenar bertekad mencari tahu semuanya apapun hasilnya nanti, walaupun ternyata akan menyakitina, dia sudah siap.


Keenar melihat jam diponselnya, ternyata sudah subuh. Setelah menidurkan Zafran kembali, Keenar bangun dan keluar kamar untuk shalat subuh. Dilihatnya pintu kamar Raihan, masih tertutup rapat.


"Mas Raihan sudah bangun belum ya? sudah shalat subuh atau belum? Ah mungkin belum, semalam kan pulang tengah malam" Gumam Keenar dan berjalan ke arah kamar. Diketuknya pintu kamar, tidak ada sahutan, dibukanya pelan pintunya dan benar, Raihan masih tertidur memeluk guling.


"Mas.. bangun. Shalat subuh dulu" Keenar menepuk pelan tangan Raihan.


Raihan masih tertidur. Sekali lagi Keenar menepuk pelan tangan Raihan, dan Raihan pun membuka matanya.


"Kenapa?" tanya Raihan dengan suara serak bangun tidur.


"Sudah subuh, shalat dulu mas. Yuk jamaah aja kayak biasanya" ajak Keenar.


"Iya nanti lah, sebentar lagi. Masih ngantuk. Kamu duluan aja" tolak Raihan malas-malasan.


"Tapi mas....." Ucapan Keenar terhenti saat dilihantnya Raihan berbalik memunggunginya dan melanjutkan tidurnya lagi.

__ADS_1


Keenar tertegun melihat tingkah Raihan, karena tidak biasanya Raihan seperti ini. Biasanya Raihan selalu shalat di awal waktu. memang bukan pertama kalinya Raihan malas-malasan seperti ini. Beberapa waktu yang lalu saat Raihan masih tergila-gila dengan Vivian, Raihan malas shalat dan selalu marah kalau di ingatkan. Apakah ini pertanda????


__ADS_2