Keenar, Ketika Hati Dipaksa Untuk Berbagi

Keenar, Ketika Hati Dipaksa Untuk Berbagi
Hampa


__ADS_3

Keenar mengingat-ingat tingkah laku Raihan yang sebenarnya memang aneh, namun berusaha menolaknya. Dipikirannya dasar memang Raihan saja yang ganjen gak bisa move on.


"Ada beberapa yang aneh memang, tapi apa iya itu bisa jadi ciri-ciri kalau dia kena pelet atau guna-guna?" ujar Keenar menerawang.


"Apa saja tingkah anehnya?" cecar Cindy penasaran.


"Tadinya mas Raihan kan sayang ya sama aku, selalu perhatian, manis lah gitu. Tapi kok bisa berubah drastis jadi kelihatan benci sama aku. Inget gak mbak dulu waktu hamil Zafran, mas Raihan gimana sama aku? parah banget kan bencinya? sekarang belum sampai kayak gitu sih, amit-amit lah jangan sampai kayak gitu lagi, tapi lebih ke cuek. cuek banget, aku mau ngapain aja dia gak peduli.


"Terus?"


"Masalah kecil jadi sering dibesar-besarin sama dia. Masalah gak penting padahal kalau menurut aku mah. Dia juga gak betah di rumah, lebih sering keluar. Padahal dulu, dia betah banget di rumah".


"Nah, bisa jadi Kee.. bisa jadi itu kena guna-guna".


"Masa sih?" Keenar masih belum percaya.


" Gini deh, mendingan kamu ikut mbak ke rumah temen mbak"


"Ngapain? temen mbak? kenapa gitu? apa hubungannya sama masalah mas Raihan?" Cecar Keenar.


"Temen mbak itu indigo, kamu tahu indigo kan? jadi dia paham masalah-masalah ghaib kayak gitu. Namanya juga usaha, ya kan?"


Keenar mengernyit.


"Dukun? aah gak deh, aku mana percaya sama kayak gitu" Keenar menolak dengan tegas.


"bukan.. bukan dukun. Tapi Yasudah kalau kamu gak mau. Gak apa-apa sih".


"Tapi gue penasaran sama adek gue ini. Kayaknya ada yang aneh sama dia. Ntar ah gue tanya sendiri" . Batin Cindy.


Vivian tengah sibuk mempersiapkan pernikahannya. Pernikahan sirri dengan Vano.Vivian tak peduli perutnya yang membesar, dirinya hanya peduli Vano sebentar lagi akan menjadi suaminya. Resepsi pernikahan diselenggarakan setelah 2 bulan melahirkan. Alasannya sepele, bukan karena Vivian malu menikah karena hamil duluan, apalagi menikah saat perutnya membesar. Tapi karena Vivian tidak ingin saat resepsi pernikahannya, perutnya terlihat membesar.


Vivian ingin semua sempurna. Dia menjadi Ratu sehari dengan penampilan yang sempurna bukan dengan perut besarnya.

__ADS_1


"Sayang, saat pernikahan kita nanti paman dan bibi kamu di undang gak" tanya Vano yang masih memeluk Vivian di tempat tidur.


Vivian dengan tegas menolak.


"Tidak. Tidak perlu. Aku menganggap diriku sudah tidak punya keluarga lagi. Mereka bukan siapa-siapa" Vivian selalu emosi ketika mengingat paman, bibi dan Bima sepupunya.


"Kamu gak kenapa-napa gak ada perwakilan keluarga? Tapi kamu kan butuh wali Vi?


Vivian menggeleng.


"Gak apa-apa. Bisa pakai wali hakim. Untuk perwakilan keluarga, aku bisa ajak Kayana dan beberapa teman. Selama ini hanya Kayana keluargaku"


Vano mengangguk mengerti dan tidak terlalu mempermasalahkannya, yang penting mereka segera menikah. Tangan Vino kembali bergrilya di puncak dada Vivian lalu turun sampai ke bawah dan bermain dibawah sana.


Vano tidak peduli kehamilan Vivian, entah anak siapa yang dikandung Vivian. Yang dipedulikannya saat ini hanya kapan dirinya bisa menikahi Vivian, wanita pujaannya sekaligus mesin ATMnya. Selama ini Vano hanya berpura-pura kaya, sebenarnya Vano hanyalah seorang karyawan swasta biasa, bukan pengusaha yang seperti selama ini dikatakannya pada Vivian.


Hari yang ditunggu pun tiba, Vivian dan Vano menikah sirri. Vivian hanya ditemani Kayana dan beberapa orang teman, sedangkan Vano ditemani ibunya dan beberapa orang temannya.


"Gue tahu pernikahan itu suci, jadi gue gak mungkin main-main" ucap vivian sambil merapikan kebayanya.


"Raihan lo kabarin Vi?"


"Gue gak peduli lagi dengan Raihan, Harlan atau siapapun"


"Tapi Raihan nyari lo terus Vi. Kasihan"


"Siapa suruh dulu dia nolak gue? siapa suruh?!! Dia udah maki-maki gue, terus sekarang mohon-mohon buat balik lagi ke gue? Ngimpi!!" cibir Vivian.


" Tapi dia kayak gitu karena ulah lo Vi, lo yang buat dia kayak gitu. Kalo lo gak guna-gunain dia ya gak bakal dia nyari lo kayak orang gila" omel Kayana.


"Itu karena dulu dia nolak gue balikan. Salah sendiri kan? ?Udah lah Kay, ini hari bahagia gue, kenapa jadi bahas masa lalu sih. Bikin mood gue rusak aja". keluh Vivian.


Kayana hanya terdiam dan malas berdebat dengan Vivian, apalagi disaat seperti ini. Bukan waktu yang tepat, pikirnya.

__ADS_1


Sedangkan ditempat berbeda, Keenar dan Raihan kembali meributkan hal yang itu-itu saja. Apalagi jika bukan menyangkut Vivian.


"Kamu ini selama berbulan-bulan aku perhatikan, kok makin aneh ya mas? apa ada masalah sama perempuan kamu itu?"


"Perempuan apalagi Kee? gak ada. Perasaan kamu aja" kelit Raihan.


"Enggak, Feelingku beda. Kamu sudah berubah mas, tidak seperti beberapa bulan kebelakang. Ada apa sebenarnya? apa menyangkut Vivian lagi?" tuding Keenar.


"Kenapa jadi Vivian? gak ada Kee, kamu percaya sama aku, gak ada perempuan lain lagi. cukup sekali aku kecewain kamu" bual Raihan.


Keenar mendengus mendengar bualan Raihan.


"Kamu tahu mas kalau Vivian sudah tunangan?"


Raihan terkejut mendengar Vivian telah bertunangan. Namun Raihan cepat menguasai keadaan. Dia tidak ingin Keenar tahu kalau dirinya masih mencari-cari kabar Vivian yang menghilang dari kehidupannya.


"Oh..uhmm iya aku tahu. Terus kenapa?" Raihan gugup, namun berpura-pura biasa saja. Tangannya sambil mengganti-ganti channel TV.


"Masa kamu tahu? Tahu darimana? Vivian yang ngabarin kamu? berarti masih berhubungan dong dengan Vivian?" Cecar Keenar penuh curiga.


"Enggak.. beneran Enggak. Aku tahu aja, ada teman yang cerita". Raihan semakin gugup dicecar Vivian, pandangannya tak lepas dari TV agar Vivian tidak semakin mencurigai dan mencecarnya.


"Teman kamu yang mana? siapa? Randy?" Keenar masih penasaran. Darimana Raihan tahu kalau Vivian sudah bertunangan.


Raihan hanya diam. Pikirannya sudah entah kemana. Raihan sangat terkejut mendengar Vivian bertunangan yang berarti sebentar lagi akan menikah. Tapi dengan siapa? kenalkah Raihan? Seharusnya dia senang kalau Vivian menikah, berarti ada yang bertanggung jawab pada bayinya. Ayah si bayi kah?


Tapi kenapa rasanya sangat sakit? Sesakit inikah Vivian sewaktu tahu kalau Raihan menikah dengan Keenar? Tapi bukankah Vivian yang meninggalkannya lebih dulu. Berbeda. tentu saja rasanya berbeda, Sakit hati Vivian jelas berbeda dengan sakit hatinya dulu saat Vivian meninggalkannya.


Raihan mengutuki dirinya, mengapa dirinya sangat lemah. Seharusnya ini tidak terjadi lagi. Dia tidak boleh menyakiti Keenar lagi. Tapi bayangan Vivian selalu menghantuinya. Rasa cintanya pada Vivian tidak pernah berkurang, malah semakin bertambah seiring waktu. Sedangkan untuk Keenar, perasaan Raihan hampa. Entah kemana perginya rasa sayang dan cinta yang dulu ada di hatinya untuk Keenar. Walau tak sebesar cintanya pada Vivian.


Raihan sadar sudah kembali menyakiti Keenar, tapi Raihan merasa malu meminta maaf pada istrinya. Terlalu hina rasanya.


Haaiii semuaaaaa.. selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin yaaa😊😊

__ADS_1


__ADS_2