
Keenar menelpon Sandra dan mengajaknya bertemu. Keenar butuh teman bicara dan baginya saat ini Sandra lah orang yang tepat untuk mencurahkan isi hatinya selain Cindy, kakak iparnya. Untuk masalah ini, Keenar tidak ingin merepotkan Cindy dengan masalah yang belum jelas.
Keesokan harinya Sandra dan Keenar bertemu di taman kota yang biasa mereka datangi saat kuliah. Taman kota yang juga menjadi saksi perjalanan cinta Keenar dan Raihan.
"Banyak orang pacaran" gumam Keenar.
"Iya, kayak lo dulu sama Raihan. Sering pacaran disini juga. Inget kan?" Sandra tergelak. Keenar hanya tersenyum mendengar ucapan Sandra.
"Masa pacaran memang paling indah, beda dengan dunia pernikahan. Pas pacaran ngerasa udah dapet lelaki yang pas, serasa dapet pangeran impian tapi ternyata setelah menikah Zonk. Sang pangeran ternyata baj*****" Keluh Keenar.
"Dulu gue kira Raihan lelaki yang tepat buat gue, lelaki sempurna yang gak ada cacatnya.Seribu janji manisnya terasa indah ditelinga gue sampe gue lupa kalau manusia gak ada yang sempurna" lanjut Keenar.
"Setelah badai pertama, gue kira selesai. Bakal ada pelangi seterusnya. Raihan kembali lagi ke pelukan gue dengan sikap yang persis pas pacaran dulu, manis. Tapi ternyata pelanginya cuma sebentar, atau mungkin cuma fatamorgana aja? sikap Raihan balik lagi kayak badai pertama. Sekarang gue paham rasanya didatangi untuk kemudian ditinggal pergi lagi".
Keenar terus mencurahkan isi hatinya, dan Sandra hanya diam mendengarkan dengan sesekali menanggapi Keenar. Mungkin sekarang Keenar hanya butuh di dengar, setelah selesai barulah perasaannya lega.
"Bener balikan sama mantannya?"
"Belum jelas, tapi gue rasa enggak. Gue ketemu mantannya dan ternyata sekarang mantannya mau menikah. Pikiran gue, kayaknya ini masalah cinta bertepuk sebelah tangan makanya Raihan uring-uringan".
"Bertepuk sebelah tangan?"
"Iya, feeling gue sih ya, mungkin ya sekarang Raihan yang mengejar cintanya Vivian. Berkebalikan dengan yang dulu. Kalau dulu kan Vivian yang mati-matian mengejar cintanya Raihan.
"Tunggu, bukannya lagi hamil ya itu perempuan? yang gak tahu yang mana bapaknya karena saking banyaknya celap-celup?" tanya Sandran heran.
"Bahasa lo, dikira teh celup? yang gue denger, tunanganya yang sekarang mau nerima kehamilannya ini. Gak masalah itu anak siapa. Yang anehnya menurut gue sih, emang boleh dinikahin perempuan hamil gede kayak gitu?"
Sandra mengendikkan bahu
"Gue juga gak paham masalah begituan. Berarti Vivian berhenti dong ya gangguin keluarga lo?"
"Dia berhenti, tapi sekarang laki gue yang berulah".
"Lo gak ngerasa aneh?"
__ADS_1
"Aneh gimana?"
"Sikap Raihan yang berubah-ubah kayak bunglon gitu"
Keenar menarik napas panjang.
"Ya gue heran kenapa Raihan bisa berubah lagi gitu. Aneh sih memang. Lo punya pikiran apa San?"
"Bisa jadi yaaa bisa jadi Raihan di guna-guna atau di pelet gitu" ucap Sandra serius.
Keenar mengernyit mendengar ucapan Sandra, lalu tertawa sumbang.
"Ha ha Ada-ada aja lo San. Hari gini masih percaya kayak gitu. Menurut gue sih enggak lah. Gak ada kayak gitu" Keenar menolak pemikiran Sandra.
" Lo ya dikasih tahu juga malah gak percaya, coba lo runutin masalah lo dari awal sampai sekarang. Ada yang aneh apa enggak? secara kasat mata juga udah aneh Kee. Kalo lo mau, gue bisa kenalin lo sama kenalan gue yang bisa bantu lo"
"Lo masih percaya begituan Sandraaaa?? wanita cerdas terpelajar masih percaya hal mistis kayak gitu? Gak nyangka gue" Keenar tergelak.
"Terserah lo mau percaya atau enggak, tapi usul gue patut lo pertimbangkan".
Keenar hanya terdiam mendengar ucapan Sandra. Hatinya mulai gamang, iyakah mas Raihan terkena pelet atau guna-guna seperti yang Sandra bilang? atau memang karena cintanya yang begitu besar pada Vivian sampai Raihan tidak bisa melupakan Vivian?. Entahlah.
Sesampainya di rumah, Keenar melihat mobil Cindy terparkir di halaman.
"Pasti ada mbak Cindy, pas banget butuh referensi saran selain usul aneh Sandra tadi" gumam Keenar.
"Assalamualaikum" Keenar mengucap salam.
"Waalaikumsalam, Keenar dari mana? mbak tungguin daritadi, sampai bosan untung ada Alifa yang nemenin mbak disini jadi mbak gak bosan"
"Dari ketemuan sama temen di taman, mbak sudah lama sampai ya? maaf ya mbak, Keenar hari ini pengen aja jalan-jalan keluar sendirian."
"Lumayan lah, tapi gak apa-apa. santai aja. Untung ada Alifa" mbak Cindy mengerling ke Alifa.
Alifa hanya tersenyum.
__ADS_1
"Saya ke belakang dulu bu, ibu mau minum apa?" tanya Alifa sopan.
"Air putih dingin saja Fa, terimakasih ya sudah menemani mbak Cindy" ucap Keenar.
Alifa hanya mengangguk dan langsung kembali ke dapur.
"Alifa itu cerdas loh Kee, daritadi ngobrol sama aku, nyambung bgt. Kasia. harus jadi pembantu masih muda begitu".
" Memang cerdas mbak, dari awal datang juga aku tahu dia cerdas. Namanya tuntutan hidup mbak, boro-boro mikirin mau lanjut kuliah, yang ada gimana caranya biar bisa makan, bantu perekonomian keluarga, aku denger dari mbak Aminah, adiknya Alifa ada 4 masih kecil-kecil pula. Daripada gak ada kerjaan kan lebih baik jadi pembantu. Kerjanya rajin pula, gak rugi deh udah ambil dia"
"Kasian ya, usia semuda itu udah jadi tukang punggung keluarga. Aku dulu masih pacaran sana-sini malahan, dia malah udah mikir cari kerjaan apa aja yang penting halal. salut." Cindy sangat terkesan pada Alifa.
"Mbak Cindy ada apa tiba-tiba datang nih?" tanya Keenar.
"Main aja sih, mau lihat kondisi keluarga kamu. Feeling aku gak enak soalnya. Jangan-jangan adik aku berulah lagi" seloroh Cindy.
Keenar tergelak dan menganggukkan kepalanya.
"Mbak Cindy keren, Feelingnya tepat" Keenar mengacungkan jempol.
"Serius? masih lagu lama?" Cindy mengernyit heran.
Keenar mengendikkan bahu.
"Belum tahu, tapi dia mulai berubah" Keenar menceritakan perubahan suaminya pada kakak iparnya ini dan menceritakan saran dari Sandra tadi.
Cindy yang mendengar cerita Keenar, awalnya emosi pada adiknya tapi setelah mendengar pendapat dari temannya Keenar kalau adiknya mungkin diguna-guna, Cindy mengerti dan sependapat dengan Sandra.
"Bisa jadi Kee, bisa jadi aja. Aneh banget kan, tiba-tiba aja Raihan bisa berubah lagi?"
"Masa sih mbak? Mungkin aja mas Raihan memang terlalu cinta pada Vivian jadi susah untuk membenci bahkan melupakan Vivian" Keenar masih sangsi dengan pendapat tentang hal ghaib.
"Kamu lihat lagi aja tingkah Raihan bagaimana, ada yang aneh gak? biasanya kalau di guna-guna atau di pelet gitu tingkahny gak wajar"
"Ah, gak mungkin lah mbak, jaman sekarang kok masih main hal-hal kayak gitu. Enggak lah" keenar masih berusaha menolak pendapat tentang hal ghaib yang menyelubungi suaminya.
__ADS_1
"Coba kamu ingat-ingat lagi, ada hal aneh atau enggak"
Keenar mengingat-ingat tingkah laku Raihan yang sebenarnya memang aneh, namun berusaha menolaknya. Dipikirannya dasar memang Raihan yang ganjen gak bisa move on.