
Setelah memperkenalkan diri, mereka mengobrol santai.
"Jadi masnya nunggu siapa disini? siapa yang sakit?" tanya Vivian basa-basi.
"Nunggu jodoh" gumam Vano yang matanya tak lepaa dari Vivian. Tapi masih terdengar oleh mereka.
"Eh?? apa mas? gimana maksudnya?" tanya Kayana.
Vano terlihat terkejut dengan jawabannya sendiri.
"Uhm maksudnya nunggu ibu yang sakit sekalian cari jodoh siapa tahu ada yang mau" ralat Vano.
Kayana dan Vivian terdiam dan saling menatap.
"Mangsa baru" batin Vivian.
"Jangan sampe jadi mangsa baru lu Vi!!" . batin Kayana seraya menggelengkan kepala pelan, matanya tak lepas dari Vivian. Seakan tahu apa yang ada dalam pikiran Vivian. Vivian hanya nyengir melihat tatapan Kayana yang seakan ingin memakannya.
"Ahahahaa..serius amat sih? saya cuma nunggu ibu saya, kebetulan ini giliran saya yang nunggu disini" Vano tergelak melihat ekspresi Vivian dan Kayana.
Vivian dan Kayana tersenyum.
"Ini mbak Vi...."
"Vivian, panggil Vivian aja, gak perlu pake mbak. Sepertinya usia kita juga gak jauh beda" Pinta Vivian.
"Oh.. oke, ini Vivian sakit apa? kok jalan-jalan bukannya istirahat?" Tanya Vano.
"Cuma kecapekan, nanti sore juga pulang kok" jawab Vivian lembut. Mulai melancarkan aksinya, merapal mantra menarik lawan jenis yang diajarkan Pakde Gimo padanya agar setiap lelaki tertarik padanya.
"Waahh cepat sekali ya kalau nanti sudah boleh pulang?" Vano terlihat sedih.
" Iya karena gak sakit apa-apa, cuma kecapekan jadi bisa pulang cepat" jelas Vivian.
"Pulang nanti dijemput atau bagaimana?"
"Ya pulang sendiri kami, siapa pula yang akan jemput. Kami jomblo abadi" Vivian tergelak Mendengar lelucon garing yang keluar dari bibirnya.
Kayana hanya tertawa sinis.
"Apaan sih garing banget" ejek batin Kayana.
"Perlu saya antar? nanti sore kebetulan saya free karena adik saya yang akan gantian jaga" Tawar Vano.
"Gak udah mas, ngerepotin ah. Kami bawa mobil sendiri kok" tolak Kayana.
Vivian mendelik kesal karena Kayana menolak tawaran Vano.
"Owh.. oke kalau begitu, mungkin lain kali saya bisa menjemput Vivian" ucap Vano sambil tersenyum menatap Vivian.
"Jemput kemana mas?" tanya Kayana.
"Jemput ke pelaminan" goda Vano.
Vivina tertawa mendengar gombalan Vano. Sedangkan Kayana hanya mencibir.
__ADS_1
"Bisa aja maaassee. Udah kena mantra Vivian kayaknya ini mah" batin Kayana.
"Kalau gitu bisa minta nomor ponselnya? Kalik aja beneran bisa lanjut ke pelaminan" Pinta Vano menataP Vivian.
"Masnya sibuk ngajakin ke pelaminan mulu, kebelet banget kayaknya" Sindir Kayana. Vano hanya tertawa mendengar sindiran Kayana. Sedangkan Vivian semakin bersemu merah wajahnya mendengar gombalan Vano dan dengan cepat menyebutkan nomor ponselnya.
Tak terasa waktu sudah mulai sore dan Vivian saatnya pulang. Kayananm merapikan baju yang dikenakan Vivian,mengikat rambut panjangnya dan membantu Vivian menyapukan bedak ke wajahnya.
"Kay, menurut lu Vano gimana?" tanya Vivian malu saat mereka sedang bersiap menunggu kedatangan dokter yang akan memeriksa Vivian sebelum diperbolehkan pulang.
"Biasa aja. Sama aja kayak cowok lain cuma agak ramah aja juga demen ngegombal. Jangan-jangan semua cewek juga digombalin sama dia" Kayana terlihat kesal.
"lu kenapa tiba-tiba nanya itu?" Lanjut Kayana penasaran.
"Ya gak apa-apa sih... cuma....."
"Lu suka sama dia?" potong Kayana.
Vivian menggeleng cepat.
"Gue cuma kesepian Kay" ujar Vivian lesu.
"Lu mau jadiin dia mangsa baru? tunggu.. tunggu... jangan bilang kalo...." Kayana teringat sesuatu.
Vivian hanya diam dan memainkan kalung yang terakhir kali diberikan Kia, mantannya entah sekarang Berada dimana.
"Vi please, cukup sudah kamu jadi simpanan banyak lelaki. sekarang waktunya berubah. kasian calon anak kamu melihat mamanya banyak dipakai lelaki sampai bingung ayahnya yang mana" Nasihat Kayana.
Vivian hanya bingung dan menatap layar ponselnya. Menunggu Vano menghubunginya.
Saat Vivian dan Kayana sedang bersiap-siap untuk pulang, Vano datang dan kembali menawarkan diri untuk mengantar yang lagi-lagi ditolak Vivian.
Di dalam mobil, Kayana kembali membahas Vano.
"Vi, lu tertarik sama Vano?" Tanya Kayana yang sedang menyetir.
"Siapa yang gak tertarik Kaaayy.. cakep banget gitu. Juga kayaknya orang kaya deh.. penampilannya aja keren gitu" Puji Vivian.
"Yakin orang kaya? kalo enggak gimana?"
"Yakinlah. Dari wanginya aja beda. Nih ya Kay, kalau gue beneran jadi sama dia, gue bakal pensiun deh dari kerjaan gue" Janji Vivian.
"Jangan janji muluk-muluk dulu, gimana kalau dia gak mau nerima anak lu?"
"Mau lah.. pasti mau. Gue jamin bakal mau" Vivian tersenyum licik.
Sementara itu Vano, sepeninggal Vivian terus saja terbayang wajah Vivian.
"Mas, kenapa kok senyum-senyum sendiri?" tanya adiknya Vano.
"Ah gak apa-apa, pengen senyum aja" jawab Vano sambil terus melihat ponselnya menunggu balasan dari Vivian.
"Vi, sudah sampai rumah?" chat Vano pada Vivian.
"*Sudah mas, baru aja"
__ADS_1
"aku telpon ya? ganggu gak? atau mau istirahat?"
"Telpon aja mas, gpp*"
Saat Vivian dan Vano telponan, tiba-tiba ada yang memencet bel apartemen Vivian.
Kayana yang sedang menonton TV, segera membuka pintu dan terkejut karena ternyata Raihan yang datang.
"Kay, Vivian bagaimana?" Tanya Raihan sambil terus masuk ke dalam.
"sudah baik-baik saja, kamu kenapa kemari? bukannya tadi pagi kamu menolak membantu Vivian?" cecar Kayana.
"Bukan urusan kamu Kay. Dimana Vivian?" Raihan mencari Vivian ke kamar.
tok..tok..tok..
"Vi.. ini aku" panggil Raihan.
Vivian yang mendengar suara Raihan sontak mematikan telpon tanpa berpamitan pada Vano dan langsung membuka pintu.
"Han? ada apa? kok kamu kemari?" Vivian terkejut mendapati keadaan Raihan yang kusut.
"Kamu baik-baik saja?" Raihan memeluk Vivian. Vivian yang bingung dengan perubahan Raihan segera membalas pelukan Raihan dengan senyum licik. Kayana yang melihat senyum licik Vivian, langsung mencebikkan bibirnya.
"Aku baik-baik saja. seperti yang kamu lihat" Jawab Vivian lembut.
Raihan melepaskan pelukannya pada Vivian dan mendudukkan diri di sofa. Kayana yang tahu diri segera masuk ke kamar dan tidak mau ikut campur urusan pribadi mereka.
"Kamu kenapa Han?" tanya Vivian dengan hati-hati.
Raihan menarik napas dan menggeleng.
"Tidak apa-apa. Aku hanya khawatir. Maaf kalau aku bersikap seperti tadi pagi".
Vivian hanya tersenyum.
"Gue bilang juga apa, gak bakalan lu bisa lupain gue" batin Vivian.
"Vi...." panggil Raihan.
"Iya Han?"
"Aku balik ya? lega rasanya melihat kamu baik-baik saja" Pamir Raaihan.
"Cepat sekali? gak ng,inep aja Han? Biasanya juga minep. kamu gak kangen aku" goda Vivian.
"Kapan-kapan lagi aja. Gak enak sama Kayana" Raihan mencium bibir Vivian sekilas dan langsung keluar tanpa menoleh lagi.
"Dia kenapa sih?" gumam Vivian bingung.
"Udah bucin mah bucin ajaaaa.. mau gimana juga gak bakal bisa lepas. Gayanya doang marah-marah mau ngelupain. eehhh sekarang balik lagi" omel Kayana yang ternyata menguping dari kamar.
"Woy Kay, lu nguping sambil ngintip?? Parah lu"
"Sekali-kali bestie.... biar sekalian belajar"
__ADS_1
"Dasar jomblo akut" maki Vivian.