Keenar, Ketika Hati Dipaksa Untuk Berbagi

Keenar, Ketika Hati Dipaksa Untuk Berbagi
Zafran Muhammad Raihan


__ADS_3

"Siapa namanya?" tanya Raihan setelah selesai mengadzani anaknya. masih digendongnya anaknya, dipeluk dan diciuminya seperti sudah menerima kalau itu memang anaknya.


"Zafran Muhammad Raihan" jawab Keenar.


"Nama yang aku kasih dulu? kamu masih ingat rupanya, aku pikir kamu tidal setuju nama itu"


"Setiap kata yang kamu ucapkan aku selalu ingat" jawab Keenar Datar.


"Kee, kamu merindukanku?Maafkan aku Kee, kalau akhir-akhir ini aku selalu menyakitimu" ujar Raihan pelan.


Keenar mendengus dengan sinis.


"Buat apa merindukan seseorang yang ternyata juga sedang dirindukan oleh orang lain?" jawab Keenar tanpa melihat wajah Raihan.


"Kee, aku perhatikan daritadi kamu selalu membuang muka saat bicara denganku. Kamu jijik Kee? Kamu sadar gak kalau sekarang kita jadi seperti orang asing?"


"Asing? kamu yang membuat kita jadi seperti orang asing. Kamu yang memulai semuanya, kamu yang cepat sekali berubah. Harusnya aku yang bertanya, kenapa kamu berubah? Karena wanita itu? cinta lama kamu yang belum kelar? Kita bukan anak remaja lagi mas yang masih memikirkan tentang cinta masa lalu, kamu sekarang sudah punya aku dan anak kita. Harusnya kamu mikir kesana bukan menuruti ego kamu saja!!" Tegas Keenar.


Raihan menarik napas dengan putus asa, tak disangkanya Keenar berani bicara seperti itu padanya. Dipikirnya Keenar akan menuruti semua perkataannya kali ini karena ada orang tuanya di rumah. Ternyata semua diluar perkiraan Raihan. Keenar jadi semakin berani.


"Aku minta maaf kalau aku sudah menyakitimu. Aku tahu sejak awal kalau aku memang sudah salah, dari perkenalan sampai pernikahan kitapun sudah salah . Seharusnya kita memang tidak menikah" Ucap Raihan.


"Maksud kamu apa? pernikahan kita salah? aku gak ngerti maksud kamu. tolong jelasin sejelas-jelasnya" Keenar bingung dengan ucapan Raihan.


"Tidak ada apa-apa, belum saatnya aku cerita semua ke kamu. Sudahlah begini saja kita buat kesepakatan. Selama ada bapak dan ibu aku mau kita terlihat baik-baik saja. Lupakan kalau sebenarnya kita ada masalah. Kamu gak ingin kan bapak dan ibu kamu berpikir macam-macam?"


"Tunggu, jadi maksud kamu seperti ini, minta maaf, bicara lembut hanya untuk pura-pura? hanya drama di depan orang tuaku? menjijikan kamu mas, jahat kamu ternyata" Geram Keenar.


" Jahat? jahat mana kalau kita tetap seperti kemarin dan orang tua kamu tahu kalau kita sedang bermasalah? apa kita gak menambah beban ke mereka? ayolah Kee, oarng tua kamu sudah tua, harapan mereka hanya kamu. Kalau mereka sakit tentu aku akan repot juga, jadi ayolah kita mulai bersandiwara. Hanya sampai mereka pulang". Raihan berkata dengan entengnya.


"Ckckckck benar-benar kamu mas, aku gak nyangka kamu bisa seperti ini" desis Keenar.

__ADS_1


"Terserah, pilihan ada ditangan kamu Kee, aku cuma ikutin permainan kamu aja nanti" Raihan berkata sambil meletakkan bayinya di tempat tidur dan keluar kamar.


Sepeninggal Raihan, Keenar Menangis. Sama sekali tidak menyangka kalau Raihan akan berubah sedemikian rupa dengan begitu cepatnya seperti bukan Raihan yang Keenar kenal.


"Kukira selamanya aku akan jadi yang kamu butuhkan, ternyata itu hanya sebatas harapan" gumam Keenar sambil menarik napas. Selesai sudah rumah tangganya. Tidak ada lagi khayalan keluarga kecil bahagia seperti bayangannya selama ini. Ternyata semua hanya dongeng pengantar tidur masa remajanya.


Keenar sangsi, apakah dia sanggup bertahan hidup dengan orang seperti Raihan atau tidak? Menyerah? masa cuma segini? Tidak, dia harus bertahan. Setidaknya sampai Keenar bisa mandiri tidak bergantung lagi dengan Raihan. Mari kita ikuti permainan Raihan, sampai dimana dia seperti ini. Siapkan hati untuk kejutan yang lebih mengejutkan dikemudian hari.


"Baiklah, angkat kepalamu Princess, hapus air matamu, mari merelakan posisi yang sudah terganti, air matamu terlalu mahal untuk menangisi hati yang sudah tak ada namamu, saatnya bangun dan lupakan dongeng-dongeng indah pengantar tidurmu, mari ciptakan dongengmu sendiri" Keenar menyemangati dirinya sendiri.


Di ruang tamu, Raihan sedang mengobrol santai dengan mertuanya. Seperti biasa saja, seperti tidak ada masalah apa-apa.


"Alhamdulillah, akhirnya kamu jadi seorang ayah Nak" ucap pak Narto.


"Iya Raihan, selamat ya.. cucu ibu juga mirip sekali dengan kamu, tampan" sahut bu Fatmah.


"Iya bu, Raihan sangat bersyukur anak kami lahir dengan selamat, sehat dan tidak kurang suatu apapun"


"Namanya Zafran Muhammad Raihan"


"Bagus sekali namanya, sangat cocok dengan wajahnya yang tampan" ujar bu Fatmah.


Raihan hanya tersenyum, dalam hatinya sebenarnya Raihan sangat Bahagia karena anaknya ternyata memang mirip dirinya. Tapi otak bebalnya tetap mengingkarinya.


"Jangan lemah Raihan, kebetulan saja anak itu mirip kamu. Bayi kan bisa saja berubah-rubah mukanya nanti" Batin Raihan yang berusaha menolak kenyataan dihadapannya.


Raihan melihat jam ditangannya dan ingat kalau dirinya ada janji dengan Vivian.


"Maaf Pak, Bu, saya masih ada pekerjaan di kantor sebentar, saya akan kembali lagi ke kantor. Bapak Ibu kalau lelah silahkan istirahat di dalam, kamarnya sudah disiapkan mbak Aminah"


"Iya nak Raihan, hati-hati di jalan. Kalau bisa tidak pulang terlalu malam. Kasihan Keenar baru melahirkan, butuh perhatian kamu" Bu Fatmah mengingatkan Raihan.

__ADS_1


"Iya bu, mudah-mudahan nanti saya bisa pulang agak cepat, saya permisi Pak Bu" Raihan mencium tangan mertuanya.


"Loh tidak pamitan dengan Keenar?" tanya bu Fatmah.


"Sudah tadi bu waktu masih dikamar tadi" jawab Raihan sopan.


Setelah Raihan pergi, Bapak dan Ibu Keenar masuk ke dalam kamar Keenar untuk melihat cucunya.


Sementara itu di mobil...


"Males banget pulang cepet, mendingan gue ***-*** sama Vivian. Kalau gak karena itu bayi baru lahir, udah gw tinggalin itu si Keenar. Males banget liat mukanya. Semoga aja itu bapak ibunya gak lama di rumah, males banget akting baik-baik sama anaknya" desis Raihan.


Raihan mengambil ponsel dan mulai menghubungi Vivian.


"Sayang, kamu dimana? aku kesana ya?" pinta Raihan pada Vivian ditelpon.


"Kamu mau kesini? sekarang udah dimana?" Tanya Vivian panik.


"Loh kok kamu panik? aku udah deket apartemen kita, paling 10 menit lagi sampe"


"What???!! kenapa mendadak sih? gak ngabarin dari tadi?" omel Vivian.


"Aku dari rumah tadi, lupa mau ngabarin kamu. inget udah deket apartemen. Kenapa sih segitunya?"


"uhmm.. Ya aku belum dandan, aku tadi lagi males-malesan, mandi juga belum"


" Mandinya ntar aja, barengan. Aku kangen kamu" Pinta Raihan.


"Menel ih, yasudah santai aja jalannya gak usah buru-buru. byeeee" Vivian mengakhiri pembicaraan mereka.


"Apaan sih, tumben panik. Biasanya juga santai aja walaupun belum mandi, belum dandan" Gumam Raihan.

__ADS_1


Ada apa dengan Vivian ya? kok panik banget gitu??.


__ADS_2