Keenar, Ketika Hati Dipaksa Untuk Berbagi

Keenar, Ketika Hati Dipaksa Untuk Berbagi
Keenar Pingsan


__ADS_3

Keenar yang masih menunggu suaminya pulang merasa Was-was. Sudah beberapa hari Raihan tidak pulang ke rumah. Saat dihubungi pun, Raihan hanya berkata ada urusan yang harus dia selesaikan. Tapi Raihan tak menjelaskan lebih lanjut, urusan apa yang sedang diselesaikannya.


Keenar mencoba menghubungi mbak Cindy, tapi dari suaranya sepertinya mbak Cindy sedang sakit. Sedang sakit atau habis menangis? Entahlah, yang jelas mbak Cindy pun tidak tahu kemana Raihan. Keenar akan bertanya lebih lanjut namun telpon sudah dimatikan duluan oleh mbak Cindy. Keenar ingin menghubungi mertuanya namun keberaniannya mendadak musnah saat mengingat kebencian sang mertua padanya.


Keenar mencoba percaya pada hatinya, kalau Raihan tidak menemui wanita itu. Raihan akan memegang janjinya. Tapi saat mengingat kalau Vivian hamil dan mengaku janin itu adalah anak Raihan, mendadak jantungnya berdebar-debar dan keringat dinginnya keluar. Vivian tidak siap jika harus menghadapi kenyataan kalau Raihan akan meninggalkannya dan memilih Vivian.


" Tidak, Mas Raihan tidak akan meninggalkan kami demi sampah itu, kami lebih berharga" Batin Keenar.


"Tapi bagaimana jika ternyata mas Raihan memilih wanita samp* itu?"


"Tidak perlu khawatir, jika mas Raihan memilih Samp** itu, aku akan pergi dan membawa Zafran. Aku juga bisa mandiri , bisa berdiri sendiri tanpanya. Dan juga bisa menyembuhkan lukaku sendiri"


"Yakin bisa tanpanya?"


"Bisa, harus bisa. Kalau sampai malam ini dia gak pulang, aku akan pergi jauh dan dia tidak akan bisa menemukanku, selamanya*."


Suara batin Keenar terus menggema di otaknya. Akhirnya dengan tekad kuat, Keenar akan menunggu sampai malam ini, jika Raihan tidak juga pulang, jelas sudah dia memilih jala** itu.


Keenar menunggu sampai pukul 22.00, Raihan tidak juga pulang dan tidak juga menghubunginya. Kesabaran Keenar hampir habis, dengan menangis Keenar memasukkan barang-barangnya ke dalam koper. Selesai sudah, pikirnya.


Namun, saat dilihatnya kembali anaknya yang sedang tertidur, berubah lagi pikirannya.


"Apa aku tega memisahkan Zafran dan ayahnya? dimana hatiku? kenapa aku jadi egois? hanya memikirkan egoku? Zafran masih butuh ayahnya. " batin Keenar.


Dikeluarkannya lagi pakaiannya dan disusunnya lagi dilemari.


"Anak itu, bagaimana jika kejadian itu terjadi padaku? tidak ada yang mengakui siapa ayah anakku? Ah, bukankah aku sudah pernah merasakannya? dulu juga Zafran tidak diakui ayahnya. Rasanya? sakit sekali. Pasti itu juga yang dirasakan jal** itu. Hukum karma berlaku. Rasakan. Tapi anaknya gak salah, kasian anaknya"


"Plis Keenar, jangan lembek lagi. Biarkan jal*** itu menikmati karmanya"


"Tunggu, dulu juga Mas Raihan tidak mengakui Zafran anaknya, tapi memang terbukti Zafran adalah anaknya. Lalu sekarang perempuan itu mengaku janin yang dikandungnya juga anak Mas Raihan, dan Mas Raihan menolak mengakuinya. Bukankah sama ya? Bisa jadi itu memang anak mas Raihan"

__ADS_1


"Memang bede** sekali lelaki itu. Bagaimana kalau mas Raihan tidak mau bertanggung jawab? dan anak tidak bersalah itu digugurkan? kasihan sekali..." Mas Raihan harus mempertanggung jawabkan perbuatannya, jangan jadi pengecut"


"Kalau Mas Raihan bertanggung jawab berarti dia harus menikahi Jal*** itu???"


"No, jangan lemah Keenar. Jangan mau dimadu. Kamu harus bertahan dengan prinsil kamu. Jangan mau dimadu!!! "


"Tapi kalau Raihan bisa adil, kenapa tidak? tentu dengan perjanjian tertulis lebih dulu".


"Jangan bodoh Keenar, mana ada manusia bisa adil? tidak ada. Yang ada kamu akan terus tersakiti oleh perempuan itu. Biarkan saja, ya itu konsekuensi dari perbuatannya, salah sendiri berZina".


"Tapi kalau mereka tidak menikah, mereka akan terus berzina dan akan muncul bayi-bayi selanjutnya. no..no.. mereka harus menikah!! "


"Bagaimana dengan hatimu Keenar? berhenti memikirkan orang lain, sekarang pikirkan keadaanmu dulu, pikirkan hatimu. Sudah siap berbagi hati? berat Keenar. Sekarang saja gampang diucapkan, tapi ketika dijalani. Kamu akan menyesal".


Suara-suara dalam hati dan pikiran Keenar menggema dan membuatnya semakin dilema. Dilemparkannya kopernya ke sudut kamar, dan Keenar berlari ke kamar mandi. Tak dihiraukannya tangis Zafran yang kaget. Di kamar mandi, keenar menghidupkan Shower dan membasahi tubuhnya sambil menangis. Bingung, sedih, suara di hati dan otaknya terus menggema.


Mbak Aminah yang mendengar tangis Zafran, bergegas ke kamar. Dilihatnya Zafran menangis sendirian, tidak ada Keenar. Mbak Aminah mengangkat Zafran dan mencari Keenar.


Mbak Aminah mengetuk kamar mandi karena di dengarnya ada suara dalam kamar mandi.


"Bu, ini Zafran nangis bu" panggil mbak Aminah.


Tidak ada jawaban.


Sekali lagi mbak Aminah mengetuk dan memanggil Keenar tapi masih tidak jawaban. mbak Aminah mulai panik dan berlari ke bawah untuk meminta pertolongan. Mbak Aminah khawatir, terjadi sesuatu pada Keenar.


Beruntung, orang tua Keenar berkunjung ke rumah Keenar.


"Assalamualaikum.." salam ibu Keenar.


"Waalaikumsalam.. alhamdulillah eyang Zafran datang, itu tolong bu Keenar"

__ADS_1


"Ada apa mbak? kenapa panik begitu? ada apa dengan Keenar?" Cecar ibunya Keenar.


"Bu Keenar ada di dalam kamar mandi tapi tidak keluar-keluar eyang. Saya takut terjadi sesuatu" Mbak Aminah panik.


"Bagaimana Bisaaaa...." Bapak dan ibu Keenar langsung berlari ke kamar Keenar.


"Kee, sayang.. ini bapak dan ibu nak. Buka pintunya" pinta ibu.


"Kee, kamu kenapa nak? Keeeee" bapak menggedor pintu kamar mandi.


Tidak sabar dan takut terjadi apa-apa, bapak Keenar langsung mendobrak pintu kamar mandi. Dan dilihatnya Keenar tergeletak pingsan di kamar mandi dengan basah kuyup.


"Ya Allah Keenar... kamu kenapa" ibu Kenar histeris melihat anaknya.


"Ayo bu, bantu bapak angkat Keenar"


Setelah ibu menggantikan baju Keenar yang basah, ibu bertanya pada mbak Aminah.


"Sebenarnya ada masalah apa dengan Keenar mbak? Kok bisa sampai seperti ini?" tanya ibu.


Mbak Aminah yang memang tahu garis besar masalah majikannya, memilih bungkam. Dia merasa bukan kapasitasnya untuk menceritakan hal tersebut walaupun pada orang tua Keenar. Mbak Aminah memilih menjawab tidak tahu.


"Maaf eyang Zafran, saya tidak tahu ada masalah apa dengan bu Keenar. Tapi memang akhir-akhir ini bu Keenar lebih banyak melamun dan sering mengurung diri di dalam kamar. Tadi saja saya masuk ke sini gara-gara Zafran menangis kencang dan lama. Saya pikir Zafran jatuh, tapi ternyata Zafran sendirian di tempat tidur, bu Keenar tidak ada. Saya ketuk-ketuk kamar mandi, tidak ada jawaban. Untung Eyang datang. Kalau tidak saya bingung harus bagaimana" ucap Mbak Aminah panjang lebar.


"Raihan kemana?" tanya bapak.


"Anu eyang kakung, pak Raihan sudah beberapa hari tidak pulang" Mbak Aminah bicara jujur.


"Pasti ada masalah di antara mereka berdua ini. Tidak mungkin Keenar seperti ini jika tidak ada masalah" ujar bapak.


Ibu hanya mengangguk dan mengelus wajah Keenar yang pucat dan terlihat tirus, sangat berbeda pada saat terakhir kali ibu berkunjung kesini.

__ADS_1


Ibu menghela napas dan berpikir jika masalah yang tengah dihadapi putrinya pastilah sangat berat.


__ADS_2