
Sesampainya di rumah, Raihan langsung masuk ke dalam rumah. Dari depan dia sudah mendengar suara tangis Keenar. Saat masuk ke dalam rumah Raihan disambut tatapan penuh amarah Keenar dan Cindy.
"Keenar, mbak Cindy ada apa ini? kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Raihan bingung.
"Bod**!! kenapa kamu jadi baj****n seperti itu Raihan! mbak sungguh kecewa sama kamu!! dulu kamu gak seperti ini, kenapa sekarang jadi begini?!" Marah Cindy.
"Apa mbak, aku kenapa? jelasin sama aku. ada apa ini!"
"Gak usah pura-pura bod** mas, kamu udah menghamili Vivian!! aku gak nyangka kamu bisa berbuat sejauh itu!" bentak Keenar.
"Apa?? Vivian hamil??!!" Raihan kaget mendengar kehamilan Vivian.
"Apa salah aku sama kamu mas, apa kurang aku sama kamu?! Tega kamu mas menghamili wanita lain saat istri kamu saja baru melahirkan!!"
"Gak mungkin Vivian Hamil, aku bisa jelasin semuanya Kee"
"Gak ada yang perlu dijelasin mas, semua udah jelas. Perempuan itu hamil anak kamu!!"
"Aku gak pernah ngapa-ngapain sama dia Kee, percaya sama aku". Dusta Raihan.
"Bohong!!!! gak mungkin kalau kamu gak pernah ngapa-ngapain sama dia tapi dia bisa tahu tanda lahir di pangkal paha kamu mas!! Mau bohong apalagi kamu mas! apalagi!!!" bentak Keenar.
Raihan langsung terdiam mendengar penuturan Keenar, dia sudah tidak dapat membantah apapun lagi.
"Kee, maafin aku. Aku khilaf, aku dan Vivian............."
"Jangan pernah sebut nama dia dihadapan aku mas! Jijik aku dengernya!!" Keenar memotong ucapan Raihan.
"Oke Kee, tapi tolong dengerin penjelasan aku" mohon Raihan.
__ADS_1
"Enggak, aku gak mau denger apapun dari kamu. Aku dan Zafran akan pergi dari rumah ini. Gak sudi aku tinggal di rumah yang pela*** itu punya andil di dalamnya" putus Keenar.
"Kee, jangan ambil keputusan saat marah, lebih baik kamu masuk kamar dan tenangkan diri kamu dulu" Cindy merayu Keenar dengan lembut dan meminta mbak Aminah yang menggendong Zafran membawa Keenar ke kamar. Zafran terbangun saat mendengar pertengkaran orang tuanya.
"Han, sekarang kamu masuk ke kamar tamu dan tenangkan diri kamu. Setelah semua tenang, nanti kita bicarakan masalah ini lagi" Lanjut Cindy mendorong Raihan masuk ke kamar.
"Enggak mbak, Raihan harus selesaikan ini. Raihan akan menemui Vivian" Raihan berjalan keluar dengan penuh amarah.
"Han, denger mbak sekali ini aja. Sekarang kamu jangan dulu temui perempuan itu, saat Keenar tenang, kita bicarakan lagi dengan kepala dingin dan tanpa emosi" Cindy melarang Raihan karena takut masalah akan semakin membesar kalau Raihan saat ini menemui Vivian.
"Maaf mbak, Raihan gak bisa. Raihan harus selesaikan ini dengan Vivian. Raihan memang salah mbak, tapi Raihan gak bisa kalau harus kehilangan Keenar dan Zafran. Tiga bulan ini Raihan sadar kalau mereka lah hidup Raihan sebenarnya. Keenar adalah cintanya Raihan mbak, bukan lagi Vivian. Dia hanya masalalu yang kebetulan datang kembali dan sudah selesai". Tutur Raihan dengan mata merah seakan menahan tangis.
"Maaf mbak, Raihan pergi dulu. Titip Keenar, tolong jangan biarkan dia pergi dari rumah ini" Pinta Raihan dan langsung menuju mobilnya.
Cindy tidak dapat mencegah Raihan, dibiarkannya Raihan pergi. Setelah Raihan pergi, Cindy menemui Keenar.
Tok..tok..tok..
"Maaf mbak, aku lagi pengen sendiri dulu" ujar Keenar dari dalam kamar.
"Baiklah Kee, kalau kamu butuh apa-apa mbak ada di luar. Tolong jangan lama-lama kalau kamu ingin menyendiri, kasihan Zafran"
Tak ada sahutan dari dalam kamar Keenar. Sementara di dalam kamar, Keenar hanya bisa menangis dan meratapi kekecewaannya. Tak disangkanya kebahagiaannya tiga bulan ini sirna hanya karena seorang "Vivian". Dipikirnya Raihan benar-benar berubah, ternyata malah menciptakan masalah yang jauh lebih besar lagi. Masalah yang Keenar sendiri tidak yakin apakah akan dapat terus bertahan atau tidak.
Sampai pada satu titik, Keenar berpikir.. sekuat apapun dirinya bertahan, pada akhirnya dia akan menyerah pada suatu yang memang bukan untuknya. Keenar berpikir jika Raihan memang ditakdirkan bukan untuknya tapi milik orang lain. Tapi apa segampang itu dia menyerah? Tidak, Keenar tidak akan menyerah. Keenar akan terus berusaha mengambil Raihan, jika Raihan bukan untuknya, wanita ja****g itu juga tidak berhak mendapatkannya. Caranya terlalu kotor. Bukankah Keenar memiliki Zafran yang memang anak Raihan? posisinya menjadi lebih kuat dibanding wanita itu yang mengaku-aku hamil anak Raihan. Belum pasti, iya belum pasti itu anak Raihan. Bisa saja wanita itu berbohong agar Raihan mau menikahinya.
Kenapa juga dia harus mengalah? tidak. Tidak akan, Keenar dan Raihan adalah satu. Tidak akan berpisah hanya karena masalah seperti itu. Keenar akan bertahan demi anaknya. Anak Raihan, tidak akan dibiarkannya anaknya tumbuh tanpa ayahnya. Begitu tekad Keenar.
Keenar agak menyesal tadi tidak mau mendengar penjelasan Raihan. Otak dan hatinya benar-benar tidak bisa menerima jika benar ternyata Raihan sudah tidur dengan wanita itu. Keenar tidak siap menerima kenyataan itu. Terlalu menyakitkan rasanya mendengar jika ada orang lain yang mengaku telah tidur dengan suaminya.
__ADS_1
Raihan telah sampai di apartemen yang ditinggali Vivian. Dengan berjalan cepat setengah berlari, Raihan sampai di depan pintu unit Vivian. Dipencetnya Bel depan pintu dengan tidak sabar. tidak lama kemudian, Vivian membuka pintunya dan seperti tidak ada masalah apa-apa langsung memeluk Raihan.
"Aku tahu kamu pasti akan datang" ujar Vivian sambil memeluk Raihan. Raihan langsung melepaskan pelukan Vivian dan mendorongnya masuk ke dalam.
"Apa yang sudah kamu lakukan Vi, kamu tahu masalah yang sudah kamu timbulkan akibat kedatanganmu ke rumah tadi siang?" tanya Raihan dengan wajah memerah menahan marah.
"Owh.. sudah kuduga kalau kamu datang karena masalah itu. Kenapa? isteri kampungan kamu itu marah-marah? ngajak berpisah setelah tahu kamu sudah meniduriku dan hamil anakmu?" Vivian tersenyum sinis.
"Hamil anak aku? bagaimana bisa? tidak mungkin Vivian, mungkin kamu salah"
"Salah bagaimana?? ini kamu yang gila atau aku? jelas-jelas kita sering melakukannya disini. Kalau bukan anak kamu ini anak siapa Raihan? kamu jangan jadi pengecut dengan tidak mengakuinya!!" bentak Vivian sambil terus menatap Raihan.
Raihan mendudukkan dirinya di sofa dengan lemas.
"Sudah berapa bulan?" tanya Raihan.
"tiga bulan"
"Gugurkan saja" ucap Raihan pelan.
"Apa?? kamu Gila atau bagaimana? anak ini sudah tiga bulan dan kamu bilang gugurkan?? bahaya Raihan. Aku gak nyangka kata-kata itu bisa keluar dari mulut kamu!!"
"Lalu harus bagaimana? aku sudah menikah Vivian, tidak mungkin kalau aku harus menikahimu yang berarti aku menduakan Keenar"
"Gak usah munafik Raihan. Selama ini juga kamu menduakan perempuan kampung itu. Kamu pikir kamu selama ini setia? haha" Vivian tertawa mengejek.
"Gak ada cara lain Raihan, kamu harus bertanggung jawab, nikahi aku dan ceraikan perempuan itu"
"Tidak, aku tidak akan menceraikannya sampai kapanpun!!!"
__ADS_1
"Kalau begitu aku gak masalah jadi yang kedua" ucap Vivian sambil tersenyum licik.