Keenar, Ketika Hati Dipaksa Untuk Berbagi

Keenar, Ketika Hati Dipaksa Untuk Berbagi
Masa Lalu Vivian 1


__ADS_3

Kayana keluar kamar ketika dilihatnya tamu Vivian sudah pergi.


Dilihatnya Vivian di ruang tamu yang berteriak-teriak, menghancurkan barang-barang di meja dan menginjak-injak foto Raihan.


"Vi, lu kenapa?" tanya Kayana dengan panik.


"Gw akan menghancurkan keluarga Raihan. Sampe ke akar-akarnya. Lihat aja!!!" ujar Vivian penuh dendam.


"Tenang dulu Vi, mending lu duduk


"jangan gegabah. Pikir mateng-mateng. Gak semuanya harus lu selesaikan dengan emosi macem gitu" Lanjut Kayana.


Lalu Kayana mengajak Vivian ke kamar, karena ruang tamu sudah seperti kapal pecah. Sangat tidak nyaman untuk mengobrol dan menenangkan Vivian yang kalap.


"Dendam banget gw Kay, Raihan sama Harlan gak ada yang mau tanggung jawab sama anak ini. Gak mungkin gw gugurin, gw takut Kay.." Isak Vivian.


"Udah, lu tenang dulu ya. Nangis kalau lu mau nangis, sampe lu puas, setelah itu kita cari jalan keluarnya sama-sama"


Vivian semakin mengeraskan suara tangisannya. Setelah lelah menangis, Vivian tertidur.


Setelah melihat Vivian tertidur, Kayana membereskan ruang tamu Vivian, karena kasihan melihat Vivian.


"Vi, kok nasib lu gini amat ya. Kapan senengnya hidup lu Vi" Gumam Kayana.


Ingatan Kayana melayang saat pertama kali bertemu Vivian saat masih SMP. Vivian yang cantik dan cerdas berhasil menarik perhatian seluruh siswa di SMP Permata Hati. Siapapun yang melihat Vivian akan langsung jatuh hati. Kayana dan Vivian adalah teman sebangku. Tidak ada yang tahu dimana rumah Vivian dan keluarga Vivian. Setiap ditanya, Vivian selalu menjawab kalau dirinya tinggal di rumah tantenya yang rumahnya jauh dari sekolah. Ayah dan ibunya sedang bertugas keluar kota, begitu ucapnya saat ada teman yang bertanya mengenai dirinya.


Tapi tidak ada seorangpun yang di izinkan main ke rumah tantenya. Hanya Vivian saja yang sering main ke rumah teman-temannya.


Tampilan Vivian sangat sederhana namun tidak melunturkan kecantikannya.

__ADS_1


Sampai suatu hari, Kayana melihat Vivian duduk di sebuah warung nasi dipinggir jalan, Vivian sedang melayani pembeli. Awalnya Kayana tidak Percaya kalau itu Vivian, tapi setelah Kayana mendekatinya, ternyata benar itu Vivian. Vivian tidak menyadari kalau Kayana menghampirinya. Sampai beberapa saat kemudian, Vivian menoleh ke arah Kayana dan terkejut, Kayana sudah ada di sebelahnya.


"Kay.... " gumam Vivian.


"Vi, lu disini?" tanya Kayana seolah tak percaya sahabatnya berpenampilan seperti ini.


Vivian yang tampil cantik, hari ini hanya mengenakan kaus lengan pendek dan celana jeans sebatas lutut, rambut panjangnya yang biasa terurai indah, hari ini hanya di ikat ala kadarnya. Namun wajahnya tetap cantik seperti biasa.


"Iya Kay, duduk dulu Kay, ntar gw kesitu. Bentar ya, gw layanin ini dulu" ujar Vivian tersenyum. Cekatan sekali Vivian melayani pembeli, tak terlihat canggung.


Setelah selesai, Vivian menemui Kayana yang masih menunggu di kursi pembeli.


"Kay, kaget ya liat gw disini?" tanya Vivian.


"Kaget banget gw, bisa jelasin Vi?"


Vivian menarik napas panjang dan mulai bercerita.


"Tapi kok lu bisa sekolah di Permata Hati? maaf Vi, maksud gw kan Permata Hati........ "


"Iya gw ngerti maksud lu, jadi dari gw SD sampe Sekarang, yang biayain sekolah gw ya Pakde gw ini. Kenapa gw bisa sekolah disitu? ya kan gw dapet beasiswa Kay, lu lupa? Kalo gak karena beasiswa ya mana gw bisa sekolah disitu".


"Iya juga gw lupa" Kayana menepuk dahinya


"Heh Vian, enak banget kamu malah ngobrol disitu, bukannya layanin pembeli.Tuh liat pembeli banyak, Pakde kamu keteteran kayak gitu. Sana bantuin, udah tinggal gratis disini malah males-malesan. Saya itu ngambil kamu buat bantuin saya, biar saya gak perlu bayar karyawan lagi!! enak aja kamu males-malesan.kalau gak ada saya sama pakde kamu, kamu udah jadi gembel!!!" Tiba-tiba seorang ibu-ibu gemuk memarahi Vivian.


"Iya bude, maaf. Tadi ada temen Vian datang" Vivian menunduk takut.


"Udah berapa kali bude bilang, jangan bawa temen main kesini. Ngerepotin aja!!" Bude mendorong Vivian. Vivian hampir terjatuh, untung saja tertahan meja.

__ADS_1


"Maaf bude, saya mengganggu Vivian kerja. Saya permisi dulu" Kayana merasa tidak enak berada disitu dan berpamitan.


"Iya, lain kali kalau gak beli apa-apa jangan kesini. Disini bukan tempat main. Sudah Sana pulang. Anak gadis jaman sekarang, bisanya cuma main aja." Bude juga memarahi Kayana lalu beranjak masuk ke dalam.


Setelah bertemu Vivian pada hari itu, Kayana semakin dekat dan bersahabat dengan Vivian. Bahkan Vivian sering menceritakan permasalahannya pada Kayana. Terutama tentang saudara sepupunya yang tak lain adalah anak Pakdenya. Bima, sepupu Vivian yang sering menatap tajam ke arah Vivian saat Vivian baru selesai mandi dan sering juga masuk ke kamarnya secara tiba-tiba dengan alasan yang terlihat dibuat-buat.


Bima sering dengan sengaja menyenggol Vivian dan mengenai Pa******nya. Vivian yang masih remaja dan sedang mekar-mekarnya memang menjadi magnet bagi lawan jenisnya. Tidak saja Bima, tapi tetangga depan rumah budenya pun sering menatapnya dengan tatapan me****.


Sampai suatu ketika, hari naas bagi Vivian pun terjadi. Siang itu, Vivian baru pulang sekolah langsung menuju warteg Pakdenya. Vivian sengaja tidak pulang ke rumah karena Vivian tahu saat itu di rumah hanya ada Bima.


Tapi ternyata Pakdenya menyuruhnya pulang ke rumah mengambil barang yang tertinggal di rumah.


Dengan berat hati, Vivian pun pulang. sesampainya di rumah, Vivian mengambil barang yang tertinggal, tapi rupanya Bima mengetahui kalau Vivian pulang. Saat Vivian akan kembali ke depan, tiba-tiba Bima menariknya paksa ke dalam kamar.


Vivian yang terkejut karena ulah Bima, jelas saja meronta-ronta. Tapi cengkraman tangan Bima lebih kencang, Bima pun mendorongnya ke tempat tidur. Vivian masih meronta dan memohon pada Bima. Bima yang sedang kerasukan setan jelas tidak mengindahkan teriakan Vivian. Bima mencium Vivian dengan paksa dna menindih Vivian. Vivian terus saja meronta dan Bima yang kewalahan akhirnya mengikat tangan Vivian di ranjang dan membekap mulutnya.


Vivian semakin tak berdaya dan akhirnya pasrah saat Bima membuka paksa baju dan rok Vivian, dan mulai menciumi tubuh Vivian. Vivian menangis dan merasa jijik.


Vivian masih berusaha berontak tapi tubuhnya merasakan sensasi yang berbeda. Akhirnya Vivian benar-benar pasrah saat Bima menindih tubuhnya.


Vivian terus menangis dan merasakan sakit yang teramat sangat saat Bima memasukkan sesuatu ke dalam tubuh bagian bawahnya.


Setelah selesai, Bima tersenyum licik dan membuka ikatan pada tangan Vivian. Vivian terus menangis dan menatap penuh dendam pada Bima. Vivian merasa jijik dengan tubuhnya. Setelah Bima keluar dari kamarnya, Vivian berusaha bangun dari tempat tidur dan merasakan sakit di bagian bawahnya. Tertatih-tatih Vivian memakai pakaiannya dan keluar menuju kamar mandi.


Dilihatnya Bima di ruang TV sambil merokok dan saat Bima melihatnya, Bima berkata:


"Berani lu cerita sama orang lain, lu bakal gw bu**h!!" ancam Bima.


Vivian yang masih ketakutan hanya bisa terdiam.

__ADS_1


Sejak saat itu Vivian menjadi pribadi yang berbeda. Vivian jadi pendiam dan menutup diri, hanya pada Kayana, Vivian berani bercerita. Mereka yang saat itu masih SMP tidak tahu harus melakukan apa.


Sampai suatu ketika.......


__ADS_2