
“selamat pagi ayah “ Keisya mencium pipi kanan ayahnya, waktu itu ayahnya terlihat sedang duduk sambil membaca koran
“selamat pagi juga Keisya “ ayahnya menyimpan koran “wah ada angin apa nih? tumben banget kamu jam segini udah rapih “ ayah Keisya melihat jam yang ada di dapur, ternyata baru jam enam lewat tiga puluh delapan menit
Ayahnya Keisya tampak heran melihat putri kesayangannya sepagi ini sudah berseragam lengkap, biasanya jam segini putrinya masih betah berada di alam mimpi.
“Abis solat subuh tadi aku ga tidur lagi yah”
“Tumben”
“ga tau, tiba-tiba ga ngantuk aja”
“tapi bagus sih, brarti hari ini kamu udah ada kemajuan dan udah bisa bantu sedikit ngurangin kerjaan bi Wati” Keisya tersenyum “kalo bisa gini seterusnya “
“iya “ Keisya mengambil Nasi dan beberapa lauk yang ada di atas meja makan “ayah udah sarapan?”
“udah, baru aja beres” Keisya mengangguk “o iya uang jajan kamu masih ada?”
“ada yah”
“gimana sekolah kamu?”
“alhamdulillah lancar, yah liburan semester ini Keisya ke rumah omma ya”
“boleh, nanti kesana sama ayah “
“ayah mau ikut nginep juga?”
“kita liat aja nanti, kalo bisa nginep ya ayah nginep “ Keisya mengangguk, ia faham dengan kesibukan ayahnya “ayah ke kantor dulu ya, udah siang “
“oke, aku juga mau berangkat ke sekolah sekarang “
“bawa motornya hati-hati Kei, jangan suka kebut-kebutan “
“iya”
“kalo menurut ayah lebih baik kamu bawa mobil aja sekolahnya, lebih aman”
“ga mau ah, kalo bawa mobil ga bisa buru-buru. Apalagi kalo udah macet “
“yaudah ayah brangkat ya” Keisya mencium tangan kanan ayahnya
“Hati-hati yah”
__ADS_1
“iya,,Keisya juga hati-hati “
“siap”
Keisya mengantar ayahnya hingga ke depan mobilnya, setelah mobil ayahnya keluar dari rumahnya. Keisya langsung masuk ke dalam rumah, lalu mengambil kunci motor dan tas sekolahnya yang tadi sempat ia simpan di ruang tamu.
“bi, Keisya berangkat ya”
“oh iya nenk, hati-hati ya”
“oke”
Keisya mengeluarkan motornya lalu segera meluncur menuju sekolahnya, semenjak Andin jadian dengan Radit kini ia lebih banyak melakukan aktivitas sendiri. Andin lebih banyak menghabiskan waktu kosongnya dengan Radit, Keisya tak pernah marah karena ia tau dengan adanya Radit Andin jadi terlihat lebih bahagia.
“gitu dong Kei, pagi-pagi udah di sekolah. Kan hebat “ kata bu Okti yang waktu itu ada di depan gerbang sekolah, Keisya tersenyum lalu mencium tangan kanan bu Okti
“Keisya masuk kelas dulu ya bu” pamit Keisya ramah
“iya”
Keisya masuk ke dalam kelas lalu menyimpan tas sekolahnya dan terlihat sudah ada tas Andin di atas meja Andin
“kemana tu bocah, masa iya sepagi ini dia udah mojok“
“dari mana aja lo?” Keisya penasaran, Andin hanya tersenyum bahagia “ya ampun pagi-pagi udah mojok “
“biarin “ Andin tertawa pelan
***
“selamat pagi semuanya “ sapa guru sejarah yang baru saja masuk
“Pagi pa”
“hari ini kalian ngerjain tugas kelompok ya, tugasnya ada di halaman 31“
“Kelompoknya bebas bukan pak?” tanya Hayya
“nggak, bapak udah nyiapin kertas yang udah bapak kasih nomor terus nanti kalian tinggal ambil satu orang satu kertas dan ga ada yang protes”
“iya Pak”
“semuanya ada tujuh kelompok dan satu kelompok isinya lima orang, yaudah silahkan ambil kertasnya” pak guru memberikan arahan dan setelah itu semua siswa berjalan ke arah meja guru dan berebut mengambil kertas, setelah mengambil kertas semua siswa kembali duduk ke kursinya masing-masing
__ADS_1
“silahkan di buka kertasnya “ serentak kelas menjadi gaduh lagi “o iya, kamu bantuin nulis Ren”
“iya Pak” Reni berdiri lalu mengambil spidol yang ada di meja guru
“yang dapet kertas nomor satu siapa aja?” beberapa anak berdiri (termasuk Andin) “oke tulis Ren” Reni mengangguk, begitu pun selanjutnya “yang dapet kertas nomor enam?” lima orang anak berdiri termasuk Keisya, Rahel dan Nathan “yang dapet kertas nomor tujuh?” beberapa orang anak berdiri
“hadeh kenapa juga gue harus satu kelompok sama cowok alay itu, kalo gue komen pak Yadi pasti bakalan marah“ batin Keisya kesal
“semuanya dah kebagian kelompok kan?” pak Yadi memastikan
“Udah pak”
“yaudah kalo gitu sekarang kalian gabung sama kelompok kalian dan kerjakan tugasnya “ semua anak berpencar dan bergabung dengan kelompok masing-masing. Dengan malas Keisya berjalan mencari anggota kelompoknya yang lain
“Sini Kei” panggil Hayya sambil melambai-lambaikan tangannya
Keisya mengangguk lalu berjalan ke arah Hayya, disana sudah ada Hayya, Rendi, Rahel dan juga Nathan dan sialnya kursi yang kosong hanya kursi yang ada di sebelah Nathan
“pindah dong, gue yang duduk disitu “ pinta Keisya pada Rendi
“ogah ah, gue udah pewe” dengan terpaksa Keisya duduk di kursi tersebut, mata Keisya dan Nathan bertemu
“apa lo liat-liatin gue, kagum ya sama ketampanan gue yang luar biasa ini” kata Nathan
“Ihhh PD banget lo jadi orang” Keisya tampak kesal
“kalo lo ga kagum sama ketampanan gue, ngapain juga lo pengen duduk di sebelah gue”
“eh oneng liat dong pake mata lo, yang kosong tu Cuma tinggal kursi yang ini, ga ada lagi “ Keisya mulai terbawa emosi “lagian kalo ada kursi yang lain, gue akan dengan senang hati duduk di kursi itu “
“udah apa lo jangan pada berantem terus, heran gue ga dimana ga dimana kerjaan kalian tu brantem terus “ kata Hayya
“udah Kei, lo duduk disini aja. Biar gue yang duduk disitu “ dengan senang hati Rahel menawarkan diri, karena dari tadi ia memang ingin duduk di sebelah Nathan tapi sayangnya dengan terang-terangan tadi Nathan bilang kalo dia tak mau duduk di dekat Rahel
“Makasih ya Rahel yang cantik” Keisya bahagia
“Sama-sama”
“yaudah kita mulai ngerjain tugasnya ya” ajak Rendi, semua anggota kelompoknya setuju “yang mau nulis siapa?”
“biar gue aja”
Hayya menawarkan diri, lalu membuka buku catatannya dan setelah itu mereka terlihat mulai berdiskusi walaupun seperti biasa slalu ada saja bahan pertengkaran untuk Keisya dan Nathan. Berbeda dengan Keisya dan Nathan yang slalu menunjukkan wajah sebal, Rahel justru terlihat begitu bahagia. Kali ini Rahel begitu bahagia karena berkat Keisya ia jadi ada peluang untuk dekat-dekat dengan laki-laki yang dicintainya yaitu Nathan, bahkan ia tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Ketika diskusi itu berlangsung, ia terlihat begitu mencari perhatian dari Nathan dan bahkan dengan sengaja ia terlihat memegang tangan Nathan.
__ADS_1