
Diani memilih masuk ke dalam rumah, dia seperti orang asing di rumah orang tuanya sendiri. Dia tidak bisa mengajak ibunya berbicara, bapaknya juga malah mengobrol dengan Ujang. Dia merasa kesepian hingga dia tersadar kalau dia sudah dua hari tidak masuk kerja.
"Astaga, kenapa aku bisa lupa? Pak Nandra juga tidak menghubungiku, sepertinya aku dipecat deh," gumam Diani pelan, dia beranjak dari tempat duduknya menuju kamar tidurnya untuk mengambil ponsel dan mencoba mengirim pesan.
(Selamat malam Pak, saya mohon maaf hari ini saya tidak masuk kerja lagi karena ibu saya masih sakit, apakah bapak akan memecat saya karena kebohongan saya kemarin? Sebenarnya saya menikah juga tanpa rencana dan ibu saya yang menjodohkan kami, saya memang tidak mau menceritakan pernikahan saya pada siapapun.) Diani
Diani mencoba menjelaskan kalau pernikahan itu tidak bermaksud dia sembunyikan dari Nandra saja, tapi dari semua orang karena dia tidak setuju dengan pernikahan atas dasar perjodohan ini, bahkan semua teman kantornya pun tidak ada yang tahu. Diani menunggu balasan dari bos nya itu, menunggu dan terus menunggu hingga dia mendapatkan pesan dari Pak Nandra.
(Kamu boleh ambil libur selama seminggu hitung-hitung cuti pernikahan, saya tidak masalah kamu mau melanjutkan pekerjaan ini atau malah berhenti, saya tidak mau bersikap seenaknya sebagai Bos, itu hak kamu.) Nandra
(Baiklah saya akan mengambil cuti ini, terimaksih banyak Pak atas pengertiannya…) Diani
Diani akhirnya bisa bernafas lega, dia tidak menyangka jika dirinya masih bisa bekerja di perusahaan milik keluarga Nandra, "kalau tahu bakalan begini, kenapa aku mesti repot-repot berbohong ya?" Gumam Diani.
Aku harus mencoba mencintai Ujang, aku gak boleh menyakiti hati emak lagi, aku tidak mau mengecewakan emak lagi, aku juga tahu Ujang itu lelaki baik hati, ayolah Diani buka hatimu...! Batin Diani.
Saat Diani hendak tidur, dia mendengar suara pintu kamarnya dibuka, dia tahu kalau itu Ujang, dia pun pura-pura tertidur, dia merasa canggung jika berduaan dengan Ujang di dalam kamar makanya dia memilih menghindarinya.
Diani merasakan selimut yang kini berada diatas tubuhnya, sepertinya Ujang yang menyelimuti ku, lumayan peka juga dia, batin Diani.
Apa ini? Apa barusan dia mengecup keningku? Kurang ajar si Ujang, eh tapi… dia kan suamiku dia berhak kok, Batin Diani.
Setelah terasa tidak ada pergerakan dan suara lagi, Diani memberanikan diri untuk membuka matanya perlahan, dan betapa terkejutnya dia saat matanya saling menatap dengan dua bola mata Ujang yang ternyata sedang memperhatikan Diani.
__ADS_1
"Neng bangun? Mau ke kamar mandi ya?" Tanya Ujang.
"Hehehe, iya Kang," jawab Diani berbohong untuk menutupi kelakuannya. Wanita itu menurunkan kedua kakinya dari ranjang kemudian berdiri, dia bangkit untuk menuju kamar mandi meski sebenarnya dia tidak ingin buang air sama sekali.
Saat Diani kembali ke kamar dia melihat Ujang yang tidur meringkuk dengan berselimut sarung tipis, padahal cuaca sangat dingin karena hujan deras, wanita itu tiba-tiba merasa tidak tega. Sebagai rasa kemanusiaan tentu aku harus berbagi ranjang malam ini, batin Riani.
"Kang…," panggil Diani sambil menggoyang-goyangkan tubuh Ujang agar lelaki itu bangun.
"Eh, iya Neng ada apa? Apa Neng mau dianterin ke kamar mandi, Neng takut?" Tanya Ujang yang kini sudah dalam posisi duduk.
"Gak, malam ini Akang boleh tidur diranjang, tapi cuma malam ini ya karena cuaca dingin sekali, dan ingat, Akang jangan berani macam-macam sama aku!" Ucap Diani.
Ujang terlihat tersenyum, dia menampilkan lesung pipi yang manis pada Diani,"makasih Neng."
***
Ketika waktu subuh datang, alarm pun berbunyi, Diani bangun lebih dulu untuk mematikan alarmnya sendiri namun dia kaget saat dia sadar kalau dia memeluk Ujang semalaman, dia lupa dan malah menganggap Ujang gulingnya.
"Astaga, kok bisa sih aku lupa? Aku harus segera mandi, aku tidak mau kalau Ujang sampai salah paham dan menganggap aku yang mencari-cari kesempatan," guamam Diani pelan, dia kemudian bangkit dan bergegas pergi ke kamar mandi.
Ujang yang mendengar ucapan Diani, dia tersenyum sambil menutup matanya, dia belum ingin bangun, dia akan menunggu sampai istrinya membangunkannya.
Benar saja, setelah Diani selesai mandi dan beribadah dua rakaat, Diani membangunkan Ujang, memaksanya pergi mandi, dan Ujang pura-pura malas, itu membuat Diani ekstra kerja keras dengan beberapa kali menarik tubuh Ujang agar mau bangun.
__ADS_1
Hingga akhirnya tubuh Ujang berhasil bangkit dari ranjang dan Diani mendorong tubuh suaminya agar segera pergi ke kamar mandi, perlakuan yang cukup kasar itu dianggap romantis oleh Ujang, dia hanya senyum-senyum menikmati Omelan Diani di waktu subuh.
***
Kini saatnya Ujang dan Pak Diman berangkat ke ladang, Ujang hanya pergi untuk memantau para pekerjanya saja, sementara Pak Diman ingin melihat tanamannya di ladang yang berbeda.
Tiba-tiba ada seorang wanita yang datang untuk mengajak Ujang pergi bersama. "Kang, ke ladang kan, bareng sama Neng ya?" Ucap wanita itu, kemudian berjalan beriringan bersama Ujang, Diani menatap wanita itu dari kejauhan dengan tatapan kebencian.
"Siapa wanita itu Pak?" Tanya Diani yang penasaran.
Pak Diman menahan tawanya," ekhm…, kamu tanya aja sama suami kamu Neng!" Jawabnya.
"Ih bapak mah ditanya malah gak dijawab, nyebelin…," keluh Diani.
Pak Diman berdiei dengan menahan tawanya, "neng jagain emak ya..!" Ucapnya kemudian mengulurkan tangannya yang kemudian di kecuplah punggung tangan lelaki itu oleh Diani.
"Iya Pak, Bapak yakin tidak tahu siapa wanita tadi?" tanya Diani lagi.
"Ekhem…, Neng…, bapak mau berangkat udah siang nih, assalamu'alaikum," ucap Pak Diman.
"Waalaikumsalam…," jawab Diani kecewa kedua kalinya karena dia belum mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.
Bersambung ….
__ADS_1