Kejutan Dari Emak (Perjodohan)

Kejutan Dari Emak (Perjodohan)
Menggoda?


__ADS_3

Ketika pagi datang, mereka makan masakan bu Edoh. Meski dirinya terkadang cerewet, tapi ibu tiri Ujang sayang pada anak bawaan suaminya, terlebih dia tak suka melihat Ujang diperlakukan tidak baik oleh menantunya (Diani).


"Diani, sebagai istri kamu layani dong suamimu, masa dia mengambil lauk pauk sendiri sampe kesusahan begitu karena menu yang Ujang mau itu lebih dekat denganmu. peka dong sedikit!" protes Bu Edoh.


"Iya Mak," jawab Diani. Hatinya merasa sakit mendengar sindiran pedas dari mulut mertuanya ini, meski perkataan itu ada benarnya.


"Panggil ibu aja!" Ucap Bu Edoh.


"Eh, iya Bu" jawab diani. Dia bangkit dari tempat duduknya, mengambil alih piring yang dipegang Ujang lalu mengambilkan lauk pauk yang diinginkan Ujang.


Sekarang aku seperti istri sungguhan, senang sih bisa melayani Ujang. Apalagi dia bilang terimakasih dan memberiku senyuman lengkap dengan lesung pipinya, batin Diani.


"Cie…, kak Diani kayaknya malu deh dipandang sama AA, coba lihat deh A pipinya merah merona..!" Goda Arin.


Seketika Diani bertambah malu mendengar ucapan sang adik ipar. Ah apa benar wajahku sekarang merah seperti kepiting rebus? Bisa-bisanya wajah ini menampakan isi hatiku, batin Diani kesal.


"Apaan sih Dek, kasihan tuh istri AA jadi beneran malu karena digodain kamu," keluh Ujang.


"Iya, iya…," jawab Arin. Tapi dia masih tertawa seakan meledek pasangan didepan matanya.


"Arin, jangan bicara terus kalau lagi makan, gak baik. Nanti tersedak!," ucap Bu Edoh.


"Uhuk… , uhuk…," Arin benar-benar tersedak.


Arin langsung mengambil air yang ada didepannya dan meminumnya sampai habis. Gadis itu menyalahkan ibunya yang berbicara sembarangan.

__ADS_1


"Ibu sih, hati-hati kalau bicara Bu..! Doa seorang ibu kan manjur untuk anaknya," keluh Arin.


"Makanya dengerin apa kata ibu!" Jawab Bu Edoh tak mau kalah.


Suasana pagi ini terasa berbeda. Biasanya Ujang dan Diani akan sarapan dengan hening, tapi sekarang ada canda tawa yang membuat rumah baru itu terasa nyaman dan hangat.


Meski Diani tidak suka dengan sindiran-sindiran yang dilontarkan ibu mertuanya, tapi dia tahu kalau itu bentuk kekecewaan pada menantu seperti Diani yang tidak menghargai anak lelakinya.


Ujang dan Diani pergi bekerja, dirumah itu hanya ada Bu Edoh dan Arin. Ujang sudah memberi uang agar mereka bisa keluar rumah untuk berjalan-jalan agar tidak bosan.


"Kakakmu sangat perhatian, nanti kita ke mall ya? tapi sayang… dia menikahi wanita yang salah," ucap Bu Edoh pada anak gadisnya.


"Salah gimana Bu? Kak Diani cantik, baik, pekerja keras. Salahnya dimana coba?" Tanya Arin yang tidak menyadari ada yang tidak beres dengan rumah tangga kakaknya. Gadis itu tidak peka karena memang belum berpengalaman.


"Apa kamu gak tahu kalau Diani itu mengacuhkan kakakmu? Mentang-mentang ini perjodohan, dia tidak menghormati kakakmu, ibu pernah melihat kakakmu tidur di lantai, sementara Diani enak-enakkan dikasur empuk," jawab Bu Edoh.


"Ish, yang dibahas kali ini Ujang dan Diani, bukan ibumu!" Jawab Bu Edoh kesal. Dia sama sekali tidak merasa bersalah telah mengintip pengantin baru.


"Mungkin mereka lagi bertengkar kecil saja Bu, bukankah biasa dalam pernikahan ada sedikit cekcok? Ibu dan Bapak juga begitu kan?" Ucap Arin.


"Beda Rin, kamu gak akan ngerti karena belum pengalaman. Ibu melihat banyak hal yang tidak beres dengan mereka. Sebaiknya kamu bisa menolong kakakmu itu!" Jawab Bu Edoh.


"Maksudnya Bu?" Tanya Arin bingung.


Bu Edoh pun memikirkan satu rencana dan membisikan itu ditelinga Arin. Berharap semua akan lancar sesuai keinginan Bu Edoh. Masih ada harapan, mungkin ini yang bisa aku lakukan untuk Ujang. Kalau masih tidak bisa, sebaiknya aku harus menyuruhnya pergi dari wanita itu, batin Bu Edoh.

__ADS_1


Arin mengangguk mengerti, meski cuma adik tiri, tapi Arin begitu peduli dengan kakaknya itu. Dia ingin yang terbaik untuk kakaknya mengingat selama ini Ujang menerimanya dengan baik dan memperlakukan Arin layaknya adik kandung.


***


Hari ini Diani merasa tidak bersemangat, tiba-tiba dia mengingat kejadian malam tadi. Disaat dia tidak bisa mengungkapkan kalau dia itu ingin Ujang dekat dengannya. Mengingat betapa bahagianya jika dia bisa saling menciptakan keluarga yang harmonis.


Hanya membantu menata makanan di piring Ujang saja… aku sudah merasa senang, bukankah itu berpahala? Batin Diani.


"Hey…," panggil Fani dengan menepuk pundak wanita itu, membuat Diani benar-benar kaget dibuatnya.


"Fani, ini gak lucu tahu. Bagaimana kalau aku jantungan," Diani berteriak saking kaget dan kesalnya pada sahabatnya itu.


"Yaelah, santai aja Diani. Memang kamu jantungan kan, masa gak punya jantung sih," jawab Fani lalu ikut duduk disamping sahabatnya yang masih marah.


"Kamu sama Ujang sama aja," ucap Diani. Dia mengingat betapa seringnya Ujang membuatnya terkejut. Dan jawaban Fani yang hampir sama kala itu.


"Sama Ujang? Beda lah, dia kan cowok. Suamimu yang kini berubah jadi tampan dan gak kuno lagi, hahaha… padahal kalau kuno kan jadi mahal, barang antik kan mahal Diani, seharusnya kamu tidak mempermasalahkan penampilannya..!" ucap Fani.


"Memangnya aku mau menjualnya, dasar…," protes Diani.


"Kamu kenapa sih, kaya yang bete gitu?" Tanya Fani. Dia menyadari sahabatnya yang sedang galau.


Diani pun tak mampu menahan rasa didada. Dia meluapkan isi hatinya agar merasa lebih baik dan berharap Fani mempunyai solusi atas masalahnya.


"Sesekali kamu gak usah jual mahal, dia kan suami kamu. Kamu bisa genit ataupun manja, itu sah-sah aja kok, mau kamu ngegoda dia di ranjang pun itu halal dan berpahala," jawab Fani yang membuat Diani berpikir lagi, tanpa sadar dia mengangguk setuju.

__ADS_1


"Apakah perlu menggoda suami sendiri? tapi itu tetap saja memalukan," jawab Diani.


Bersambung …


__ADS_2