
"Dor…," teriak wanita itu mengagetkan Ujang.
"Astagfirullah," ucap Ujang yang kaget, dia menoleh ke arah belakang dan dia bisa melihat siapa yang membuatnya terkejut.
"Neng Arin, kenapa ngagetin Akang begitu? Untung Akang gak punya penyakit jantung Neng," keluh Ujang.
"Hehe … maaf Kang, ngagetin Akang itu seru sih, jadi ketagihan deh," jawab Arin sambil tertawa.
Arin kemudian duduk berdekatan dengan Ujang, dia duduk diantara Ujang dan Diani, dia mengambil minuman dan minum dengan santainya tanpa mempedulikan kehadiran Diani.
"Ehem…." Diani
"Eh iya Neng, ini kenalin namanya Neng Arin, dia sepupu Akang, anaknya bi Minah," jawab Ujang.
"Oh," jawab Diani singkat.
Syukurlah cuma sepupu, eh kenapa aku bersyukur? mau siapapun dia Ali gak peduli, batin Diani.
"Ini teh Diani ya? Aku tahu kok, waktu nikahan Kang Ujang aku kan datang, ya walaupun sebentar karena waktu itu aku masih belum terima," ucap Arin.
Maksudnya apa coba? Belum terima kalau aku nikah sama Ujang? Apa dia suka sama Ujang? Batin Diani.
Diani hanya tersenyum singkat menanggapi ucapan Arin, dia tidak mau bertanya lebih lanjut, dia memilih pamit dan kembali ke ladang bapaknya. Tapi Ujang menahan Diani untuk menemaninya sebentar, setelah itu Ujang berniat pulang menemani Diani istrinya. Terlihat wajah tidak suka dari Arin, membuat Diani malah kesal.
"Kang, kenapa pulang sekarang? Bukannya Akang janji nemenin Arin ke rumah ibu sambil bawa pesanannya," tanya Arin.
"Akang lupa Neng, sama Arif aja ya Neng? Akang nganterin Neng Diani dulu," jawab Ujang.
__ADS_1
"Ih Akang nyebelin, padahal sebelum nikah sama dia, Akang selalu perhatian sama Arin," jawabnya kesal, dia menghentakkan kakinya dan berlalu pergi sendirian.
"Neng…, Neng Arin, jangan pulang sendiri atuh, sama Arif aja..!" Teriak Ujang tapi tidak dihiraukan oleh wanita itu.
"Aduh gimana ini?" Gumam Ujang tampak bingung.
"Pergi aja Kang..!" Usul Diani, sambil berlalu pergi dengan kesal, meninggalkan Ujang yang masih mematung karena bingung.
Diani yang berjalan sudah beberapa langkah itu kemudian berhenti, dia membalikkan badannya dan dia melihat Ujang yang yang lebih memilih mengejar Arin yang marah daripada dirinya. Apa dia lebih penting dariku? Kenapa dia menikahiku kalau dia lebih menyukai sepupunya itu? Ya aku tahu dia lebih muda dariku, menyebalkan. . Diani seharusnya kamu senang karena Ujang dicintai wanita lain agar kamu bisa bebas dari Ujang, Batin Diani.
***
Saat sore hari, Diani diam di teras rumah, dia celingak-celinguk terlihat sedang menunggu seseorang. Dia memainkan ponselnya agar tidak jenuh. "Kenapa aku tidak terpikir untuk meminta nomor ponsel Ujang ya, aku kok gak punya nomor dia sih?," gumam Diani.
"Neng lagi ngapain? Masuk atuh sebentar lagi magrib, pamali Neng..!" Ucap Pak Diman.
"Bentar Pak, di dalam panas, nanti aku masuk kok Pak," jawab Diani.
Diani yang kaget dengan tuduhan bapaknya yang memang tepat, dia memilih bangkit dan menyusul langkah Pak Diman. "Gak ko Pak, nih Diani masuk ke dalam rumah," jawab Diani mendahului langkah pak Diman, membuat bapak Diani tersenyum melihat tingkah sang anak.
Diani masuk ke kamarnya, saat adzan maghrib terdengar dia pergi mengambil air wudhu. Dia melaksanakan sholat magrib dengan khusyu kala itu. Ujang yang belum datang juga, semakin membuat Diani kesal.
Ponsel Diani berdering, "nomor tak dikenal? Apa mungkin Ujang tahu nomor ponselku? Mungkin juga sih, siapa tahu dia ingin memberi kabar," gumam Diani.
"Assalamu'alaikum…, siapa ya?" Tanya Diani mengangkat telepon.
"Wa'alaikumsalam, Diani ini aku Fani, kamu dimana sekarang? Video mu viral dan kamu malah menghilang, kenapa gak ngasih tau aku kalau kamu udah nikah, bukannya aku sahabat kamu?" Tanya Fani.
__ADS_1
"Oh kamu Fan, aku lagi di kampung halaman, ibuku sakit, dan aku mengambil libur selama seminggu," jawab Diani.
"Beneran? Gosipnya kamu dipecat loh gara-gara video kemarin, padahal kan itu masalah pribadi," tanya Fani.
"Hmm, itu kan cuma gosip, untuk masalah pernikahanku..., itu dilakukan mendadak sekali, bukannya aku tidak menganggapmu teman," jawab Diani.
Diani menceritakan semuanya pada sahabatnya itu, untunglah sinyal ponselnya bagus malam itu, Diani juga menceritakan tentang Arin. Meski Fani mengatakan jika Diani cemburu, tapi wanita itu tidak mengakuinya, dia tetap menyombongkan dirinya yang tidak mungkin menyukai pria desa yang kuno.
***
Sekitar jam 8 malam, Ujang datang dengan membawa makanan, bapak dan emak Diani langsung menyambut dengan senyuman, berbeda dengan Diani yang bersikap dingin.
Namun makanan itu begitu menggiurkan, apalagi makanan itu kesukaan Diani. Perut yang tidak bisa dikondisikan membuat Diani melahap makanan itu.
"Enak ya Neng? Ini bugisnya juga leugit banget, surabinya juga gurih," tanya Pak Diman.
"Iya Pak enak," jawab Diani lalu mengambil lagi dan memasukan makanan tradisional itu ke dalam mulutnya.
"Beli dimana Jang?" Tanya Emak Leha.
"Gak beli Mak, itu yang buat Neng Arin," jawab Ujang.
"Uhuk…, uhuk …," Diani sampai tersedak karena tidak menyangka kalau dia memakan dan memuji masakan Arin.
"Neng, minum Neng..!" Ucap Ujang memberikan segelas air. "Neng Ani sering tersedak ya? Udah beberapa kali Neng begitu, makannya pelan-pelan Neng..! kalau enak dan mau lagi, nanti Akang akan menyuruh Arin membuatkannya lagi," ucap Ujang lagi.
Astaga, kalau aku tahu ini buatannya mana mau aku memakannya, apa harus aku muntahkan lagi? Batin Diani.
__ADS_1
Diani bangkit dan berkata, "gak usah Kang, aku mau tidur duluan ya..! Mak, Bapak, Diani duluan ya?" Ucap Diani dengan memaksakan senyumannya meski dia sedang kesal.
Bersambung ….