Kejutan Dari Emak (Perjodohan)

Kejutan Dari Emak (Perjodohan)
Imam Keluarga


__ADS_3

Diani tak bergeming, dia tetap berada dikamar itu menunggu Ujang. Menemaninya dan bahkan menyuapinya. Ada rasa bersalah yang terselip dalam hatinya.


"Kang, maaffin aku ya?" Ucap Diani pelan.


"Akang gapapa kok, ini juga salah Akang. Terlalu takut naik permainan yang bahkan anak kecil aja suka, hehe…," jawab Ujang. Perlahan tangannya meraih tangan istrinya itu.


"Jangan menyalahkan diri sendiri Neng, untuk perkataan ibu. Jangan kamu masukkan dalam hati..! beliau memang begitu orangnya. Tapi beliau baik ko, mungkin terlalu khawatir saja," ucap Ujang.


Diani mengangguk pelan, kini tangan Diani yang masih digenggam Ujang ditariknya, lalu dia mengecup tangan Ujang dengan lembut.


"Cepet sembuh Kang," ucap Diani.


Ada debaran dihati mereka, usia mereka yang tak lagi muda tak menghalangi cinta bersemi itu datang. Layaknya pasangan muda yang salting dan grogi. Diani memilih izin untuk mengambil wudhu dan melaksakan shalat tahajud.


Wanita itu menggelar sajadah, beribadah dengan khusu. Setelah itu dia panjatkan doa-doa nya. Berharap kesembuhan untuk suaminya, berterimakasih atas nikmat yang diberikan hari ini dan berharap besok ada banyak nikmat yang masih bisa dia rasakan. Berharap masih ada umur untuknya, agar dia bisa menjalani rumah tangga yang sesungguhnya. Kehadiran seorang anakpun kini begitu diharapkan Diani. Entah itu kapan, tapi Tuhan pasti tahu waktu yang tepat.


Terimakasih ya Rabb, engkau memberikan aku jodoh sebaik Kang Ujang, maaffkan hamba yang sebelumnya kufur nikmat. Maafkan hamba yang banyak mengeluh ini, padahal engkau selalu tahu apa yang aku butuhkan dan engkau memberikannya. Sementara aku hanya tahu apa yang aku inginkan dan lupa menimbang itu baik atau buruk untukku, batin Diani.


Setelah selesai, Diani mendengar suaminya itu memanggilnya.


"Ada apa Kang?" Tanya Diani.

__ADS_1


"Akang meriang, bisa buatkan teh hangat..!" Ucap Ujang.


Diani mengangguk dan bergegas pergi ke dapur, dia begitu khawatir dan segera kembali dengan pesanan suaminya itu. Setelah meneguk beberapa tegukan, akhirnya Ujang sedikit lebih baik. Dia memakan roti walau sedikit, lalu meminum obat.


"Aku temenin ya Kang tidurnya?" Ucap Diani sedikit ragu.


"Boleh Neng, tapi… Akang gak mau Neng ikutan sakit. Demam kan biasanya menular, Akang gapapa kok tidur sendirian," jawab Ujang.


Dianipun memilih tidur dikamar kosong lainnya, kebetulan Arin dan ibunya tidur dalam satu kamar. Meski begitu, Diani yang khawatir membuatnya datang ke kamarnya untuk melihat kondisi Ujang setiap satu jam sekali. Dia memang benar-benar tidak bisa tidur memikirkan suaminya.


"Syukurlah demamnya turun. Entah mengapa rasanya mencintai itu bisa membuatku bahkan tak mengantuk sama sekali," gumamnya pelan.


***


"Iya Kang, Akang udah sembuh?" Tanya Diani.


"Alhamdulillah, Akang kuat kok. Masa shalat akang lewatkan begitu saja. Shalat subuh itu lebih penting dari pada bumi dan segala isinya. Shalat kan memang kewajiban kita. Bahkan saat manusia mengalami kelumpuhan, manusia itu bisa melaksakan solat dengan cara mengedipkan matanya saja, itu saking wajibnya shalat bagi umat Islam," ucap Ujang.


Diani mengangguk mengerti, lalu dia pergi untuk mengambil wudhu. Dia pun mandi terlebih dahulu karena sudah menjadi kebiasaan dan suaminya itu mau menunggu istrinya meski lama. Kebetulan adzan subuh memang belum berkumandang.


Mereka melaksanakan shalat dengan khusu, ada perasaan tenang dan kagum dihati Diani. Dia juga bersyukur atas kehadiran Ujang dalam hidupnya. Mendapatkan imam keluarga seperti Ujang itu seakan menjadi pondasi yang kokoh, hidup Diani juga pasti akan terkontrol dan pasti mengikuti Ujang yang setiap harinya akan berubah ke arah yang lebih baik.

__ADS_1


Tak lupa Diani mengecup punggung tangan suaminya, masih terasa hangat. Diani sadar kalau Ujang masih demam, Diani bergegas memapah Ujang menuju ranjang, terliha Ujang mulai pusing lagi.


"Sebaiknya aku gak usah kerja ya Kang? aku mau jagain Akang aja dirumah," ucap Diani.


"Gimana Neng aja, mau berhenti kerja pun itu lebih baik. Biar Akang aja yang kerja Neng, coba dipikirkan aja dulu usul Akang..!" Jawab Ujang.


Setelah membuat sarapan pagi, Diani mulai sarapan bersama ibu mertua dan adik iparnya. Bu Edoh terlihat mulai baik lagi pada Diani.


"Masakkanmu enak, oh iya… ibu mau pulang nanti siang. Ada keperluan penting disuruh bapak pulang secepatnya, biar Arin aja ya, yang nemenin kamu jagain Ujang?" Tanya Bu Edoh.


"Iya Bu gapapa kok," jawab Diani.


"Teh, gak kerja? Gapapa A Ujang sama Arin aja," tanya Arin.


"Gak, teteh mau jagain Kang Ujang aja sampai sembuh," jawab Diani.


Bu Edoh tersenyum, dia merasa lebih tenang kalau pulang ke kampung dengan keadaan seperti ini. Bu Edoh bersikap seperti biasa lagi, sekan lupa kalau semalam bersikap berlebihan pada Diani.


Arin pun mengangguk, dia juga senang kalau kakaknya diperhatikan dengan baik oleh kakak iparnya. Arin orang pertama yang akan berdiri didepan Ujang jika Diani berani menyakiti kakaknya itu. Kakak yang telah berjasa banyak untuknya, ada rasa kagum Arin pada Ujang, tapi dia bisa membatasi diri sehingga tidak sampai pada titik cinta atau ingin memiiliki.


Aku hanya berharap mempunyai calon suami seperti A Ujang, batin Arin.

__ADS_1


Apa aku berhenti kerja aja ya? batin Diani. wanita itu melamun sambil mengunyah makanan.


Bersambung …


__ADS_2