Kejutan Dari Emak (Perjodohan)

Kejutan Dari Emak (Perjodohan)
Rencana Ujang


__ADS_3

Malam itu Diani merasa gelisah, dia tidak bisa tidur sama sekali. "Apa aku harus menjelaskan kesalahpahaman ini pada Ujang? Emm…, aku rasa tidak perlu, karena pasti akan membuat Ujang besar kepala. Tapi... jika dibiarkan aku kepikiran terus, bagaimana ini?" Gumam Diani didalam kamar.


Ponselnya dibiarkan begitu saja, padahal dia sudah mengetik panjang lebar. Awalnya dia berniat menjelaskan pada Ujang lewat pesan, namun dia tidak sanggup menekan tombol kirim.


Diani kini hanya berguling-guling diatas kasur. Dia hanya mampu memejamkan matanya, tapi tidak bisa memasuki alam mimpinya.


"Ah menyebalkan…," teriak Diani. Guling yang dipegang pun dia lempar ke sembarang arah.


***


Dua hari berlalu setelah kejadian itu, di kantor pun tidak ada semangat yang Diani rasakan, dia mengabaikan orang-orang yang masih mengolok-oloknya. Dia seakan terus dihantui rasa bersalah karena sempat berkata kasar pada Ujang.


"Kenapa dia tidak menghubungiku lagi ya? Apa dia benar-benar menganggap aku marah padanya? Tapi…, bagaimanapun juga kalau memang dia mencintaiku, seharusnya dia tidak menyerah begitu saja kan? Diani fokus saja bekerja!" Gumamnya pelan.


Pada akhirnya Diani tetap saja menyalahkan Ujang, dia begitu sulit untuk meminta maaf pada suaminya itu. Begitu sulit mengakui kalau dia mulai tertarik pada suaminya sendiri. Mungkin Diani berpikir jika Ujang tidak pantas untuk dirinya tanpa mau bercermin terlebih dahulu apakah dia istri yang baik yang patut diperjuangkan?.


"Hei, bengong aja sih," ucap Fani meyenggol lengan Diani.


"Siapa yang bengong," jawab Diani.


"Semangat dong, ini kan udah makan siang, makan yang banyak, biar kerjaan kita bisa beres dengan cepat..!" Ucap Fani.


"Pekerjaan kita kan tidak memerlukan kekuatan fisik yang besar, tapi memerlukan otak Fan," jawab Diani kesal.


"Hehe…, iya sih. Kamu kenapa sih, galau ya?" Tanya Fani.


"Gak, aku lagi merasa gak enak aja, ngerasa jadi istri durhaka, tapi gak bermaksud begitu kok, jadi gak masalah kan?" Tanya Diani.


"Maksudnya? Yang jelas dong kalau cerita!" Keluh Fani.

__ADS_1


"Gak usah dipikirin deh, kita makan aja trus kerja lagi!" Jawab Diani.


Fani mendengus kesal, dia berhasil dibuat penasaran oleh sahabatnya itu. Tapi sekepo apapun gadis itu tentang rumah tangga Diani, Diani tidak mengatakan apapun lagi. Padahal gadis itu berharap bisa mendapatkan pengalaman dari pernikahan sahabatnya.


***


Sementara itu, di rumah orang tua Ujang di Kampung. Didesa yang masih bisa menikmati udara sejuknya pagi yang berembun.


"Ujang, kamu mau kemana? udah beres-beres gitu," tanya Bu Edoh.


"Mau ke kota Bu, masa panen kan udah lewat, jadi Ujang mau ketemu istri Ujang dulu," jawab Ujang.


"Jang, Ibu gak suka kamu diperlakukan seperti ini oleh perempuan itu. Kamu kan bisa nyari perempuan lain yang lebih menghargai kamu!" Ucap Bu Edoh.


"Hmm, pernikahan kan bukan main-main Bu, Ujang akan sabar. Suatu saat nanti Ujang yakin Diani bahkan bisa menjadi menantu kesayangan di rumah ini, Ujang juga mempunyai banyak kekurangan kok, jadi sama-sama memperbaiki diri," jawab Ujang sambil merapikan bajunya.


"Iya, Ujang tahu…, ibu bagiku sangat baik, meski sedikit cerewet, hehe…," jawab Ujang.


"Ujang...," Teriak Bu Edoh kesal. Wanita itu memang cerewet dan gampang marah, tapi memang peduli dengan anak tirinya (Ujang).


Ujang bergegas bangkit dan mencium punggung tangan Bu Edoh. Dia berjalan cepat sambil berteriak. Dia menoleh sebentar ke arah Bu Edoh. 


 "Nanti Ujang bawain oleh-oleh ya Bu, jangan marah-marah terus, nanti cepat tua..! Hehe…, Assalamu'alaikum…"


Bu Edoh hanya tersenyum kecil melihat tingkah anak tirinya itu dan menjawab salam sang anak di dalam hatinya.


"Dor, ibu ngapain dikamar Aa Ujang? A Ujangnya mana?" Tanya Naima.


"Ke kota, kangen sama istrinya," jawab Bu Edoh.

__ADS_1


"So sweet ya Bu mereka?" Tanya Naima. Gadis itu tidak menyadari kalau ada yang aneh di dalam rumah tangga kakaknya, mungkin usianya yang masih remaja sehingga mengira kalau rumah tangga Ujang bahagia dan harmonis, tidak ada rasa peka.


"Hmm, ya ya…," jawab Bu Edoh berlalu pergi.


***


Ujang berangkat sendiri dengan mobil barunya menuju kota. Hasil panen kemarin melimpah sehingga dia bisa membeli mobil baru dengan ditambah uang tabungan miliknya. Ujang ingin diakui oleh Diani, ingin istrinya itu bangga padanya dan tidak malu lagi mengakuinya sebagai suaminya.


Tujuan utama Ujang adalah rumah Siska temannya. Dia ingin merubah gaya rambutnya agar terlihat modis dan keren. Dia ingin berbelanja sepuasnya untuk menunjang penampilan barunya.


Sepanjang jalan Ujang tersenyum senang membayangkan Diani yang terpesona padanya.


"Pasti neng Ani bakalan klepek-klepek, hehe…," gumam Ujang pelan.


Setibanya di rumah Siska, tentu Siska kaget karena kedatangan Ujang. Setelah mendengar permintaan Ujang, wanita itu senang dan mengajak Ujang berbelanja baju dan memotong rambut di salon tempat temannya bekerja.


"Aku dapet traktiran dong ya?" Tanya Siska.


"Siap, kamu boleh beli baju, celana, sepatu. Asal kamu tidak gagal lagi membuat aku semakin tampan, jangan ngerjain aku seperti waktu itu!" Jawab Ujang.


"Hahaha…, ok ok," ucap Siska sambil membayangkan penampilan Ujang waktu itu.


Mereka mendatangi beberapa tempat, salon, toko baju, toko sepatu dan restoran karena mereka juga manusia biasa yang terkadang merasa lapar. Siska benar-benar memanfaatkan Ujang dengan baik kali ini.


Saat mereka sudah selesai dan hendak pulang, tiba-tiba ada dua wanita menghampiri mereka.


"Kang Ujang, ini kamu kan? Aku gak salah lihat kan? Tapi kenapa kamu gak bilang kalau datang ke kota dan siapa wanita ini?" 


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2