
"Dan, emm… udah gak usah dibahas Kang, aku ngantuk, hoamm…," ucap Diani sambil berpura-pura menguap.
Diani pun memilih tidur disisi kiri ranjang, dia sudah berselimut dan menghadap dinding kamar berwarna putih itu. Ujang pun ikut tidur disamping istrinya, "neng, gak boleh tidur membelakangi suami…!" Ucap Ujang pelan.
Apa dia ingin kami saling berhadapan begitu? Lalu… emm, stop Diani! Ujang lagi sakit. Dia gak akan macam-macam, jangan berpikir yang aneh-aneh! Batin Diani.
Dianipun membalikan badannya, namun dia berbalik dengan mata tertutup, dia tidak ingin salting kalau berhadapan dengan jarak dekat seperti itu.
Diani kaget saat tangannya dipegang Ujang, lelaki itu meletakan tangan istrinya didahinya. Diani ingin berpura-pura tidur, tapi dia tidak bisa melakukan itu karena dia baru saja bicara dengan Ujang. Pasti Ujang tidak akan percaya dia bisa tidur secepat itu.
"Panas gak Neng?" Tanya Ujang pelan.
"Apanya Kang?" Kini Diani memberanikan diri untuk membuka matanya.
"Ini dahi Akang, udah gak demam kan ya?" Tanya Ujang.
Iya udah gak panas? Lalu dia mau ngapain? Jangan bilang kalau dia mau melakukan ritual suami istri, aku belum siap, aku belum luluran dan badanku udah gak sesegar tadi pas abis mandi, momennya gak pas, batin Diani.
"I-iya Kang udah turun, udah normal suhunya," jawab Diani.
Diani mulai gugup, apalagi saat tangan Ujang yang satu lagi membelai rambut istrinya itu dengan lembut. Ujang tersenyum manis memandang istrinya itu, gerak-gerik Ujang semakin membuat Diani merasa cemas.
Apakah ini saatnya? Batin Diani.
"Neng cantik, Akang boleh gak tidur sambil meluk Neng? Akang udah gak demam kok," ucap Ujang.
Deg
__ADS_1
Hahaha… Diani dia cuma mau meluk, kamu jangan omes ya! Batin Diani.
"Bo-boleh Kang, lagipula kan sentuhan tangan saja jika dilakukan pasangan suami istri yang sudah halal, itu bisa mendatangkan pahala," jawab Diani.
"Iya, makanya Akang ingin mendapat pahala dengan memeluk Neng Ani sampai pagi, hehe …," ucap Ujang dengan senyum malu-malu.
Ujang menyuruh Diani membelakanginya, tangan kekar itu memeluk pinggang istrinya yang ramping. Memeluk erat dari arah belakang, Ujang dapat mencium wangi rambut istrinya. Wangi yang membuat Ujang tenang dan masuk ke dalam mimpinya dengan cepat.
Berbeda dengan Ujang, Diani yang masih belum bisa mengontrol rasa bahagianya, dan jantungnya pun malah ikut berpesta. Membuat wanita itu malah susah tidur, hingga dia bisa menenangkan diri dan ikut menyusul Ujang bermimpi indah.
Saat tengah malam, Diani merasa pegal karena tidur dalam posisi itu terlalu lama. Dia berusaha menyingkirkan tangan suaminya, tapi begitu sulit dan terasa berat. Dia melakukannya dengan perlahan, dan memastikan Ujang tidak terbangun karena ulahnya. Dia juga sudah tak tahan ingin pergi ke kamar mandi.
Diani bergegas ke kamar mandi dan kembali secepat kilat. Wanita itu ingin tidur diposisi sebelumnya, tapi melihat Ujang yang malah tidur disisi kiri ranjang dan memeluk guling. Memebuat dia bingung karena tempatnya tidur malah dikuasai ujang, "apa dia mengira jika guling itu aku? Lucu sekali," gumam Diani pelan.
Dia pun tidur di sisi kanan ranjang, kini malah suaminya itu yang membelakanginya, "tadi katanya tidak boleh membelakangi, eh ternyata malah dia yang sekarang memberikan punggungnya padaku," keluh Diani yang kini juga membelakangi Ujang, tapi punggung mereka saling menempel.
Suara alarm membangunkan Ujang, dia yang baru membuka matanya pun kaget saat Diani berubah jadi guling, sementara ada lengan yang melingkar diperutnya, tangan itu sesekali mengelus-ngelus perutnya, membuat merasa sedikit geli.
"Kelakuan Neng Ani memang ajaib, bikin aku geleng-geleng kepala sambil tersenyum," gumam Ujang yang merasa senang.
Lelaki itu membiarkan Diani terus mengelus perutnya, dia ingin wanitanya menyadari tingkah konyolnya itu. "Neng…," panggil Ujang pelan.
"Neng…," panggil Ujang lagi dengan sedikit lebih keras dari sebelumnya.
"Emm…, iya Kang," jawab Diani.
Diani yang sadar tidak sadar, dia merasa nyaman dengan memeluk sesuatu yang membuatnya hangat itu. Cuaca subuh memang akan berubah sangat dingin, Diani bukannya bangun tapi dia malah mempererat pelukannya.
__ADS_1
Ujang pun membiarkannya, menikmati momen romantis ini. Setiap hari Ujang berharap mereka akan mengalami kemajuan dalam kedekatan dan keromantisan yang semakin membuat mereka saling merindukan satu sama lain.
Adzan subuh pun berkumandang, alarm milik Diani berbunyi. Wanita itu menggeliat pelan, hingga menyadari jika dia memeluk sesuatu.
"Astagfirullohhal'adzim…," ucap Diani kaget. Dia sampai bangkit dan turun dari ranjang.
Ujang membalikan badannya, "tadi dipeluk erat, ko sekarang malah kaget Neng?" Goda Ujang.
"Siapa yang meluk Akang, enggak ah. Akang kali yang semalam melauk aku," jawab Diani. Dia tidak sadar dengan kelakuannya semalam.
"Lah, tadi buktinya Neng meluk Akang, hemm…," ucap Ujang.
"Itu mah gak sengaja Kang, sebentaran doang," protes Diani gak mau kalah. Dia malu mengakui hal itu.
"Iya Alhamdulillah dipeluk sebentar juga," jawab Ujang turun dari ranjang, dia berjalan menuju kamar mandi.
"Bukan dipeluk Akang, tapi kepeluk. Itu beda Kang," protes Diani. Dia mengikuti langkah Ujang ke kamar mandi.
"Oh…, ya gapapa. Besok malam Akang rela kepeluk sama Neng lagi, dijadiin guling dielus-elus perut Akang lagi pun Akang rela, hehe …," jawab Ujang.
Kapan aku mengelus-ngelus perutnya? Batin Diani.
"Apaan sih Kang, Kapan aku begitu?" Diani mengelak. Dia berjalan lebih cepat agar bisa mendahului Ujang. Dia kini berdiri dipldepan pintu kamar mandi.
Ujang sedikit kaget, lalu dia mencoba mengerjai istrinya itu. Dia mendekatkan wajahnya dengan wajah Diani, ada hembusan nafas yang hangat begitu terasa diwajahnya. Terlihat wajah Diani menegang, matanya membulat. Ujang begitu menyukai eksfresi itu, dia tersenyum ke arah Diani.
Bersambung….
__ADS_1