
Ujang yang baru saja bisa membaringkan badannya di ranjang. Dia tampak senyum-senyum sendirian saat membaca pesan dari istrinya. Rasa lelahnya menempuh perjalanan jauh membuatnya lelah, tapi dengan menerima pesan itu, entah mengapa rasa lelahnya hilang seketika.
(Alhamdulillah Kang, iya… aku pun sama akan menjaga hati ini buat Akang seorang 😘😘😘😘) Diani
"Si Neng apa beneran mau dicium ya? Hehe…," gumam Ujang pelan.
Ujang bingung harus membalas apa, diapun mengirimkan emot yang sama pada Diani.
(😘) Ujang
Diani yang mendengar ponselnya berbunyi lagi, dia enggan membaca balasan pesannya. Diani takut kalau Ujang menganggap dirinya agresf, dia jadi teringat kala memakai baju tipis yang seperti saringan itu (lingerie). "Aku sungguh memalukan," gumam Diani.
Beberapa menit berlalu, Diani kini mulai penasaran dengan balasan Ujang. Antara malu dan penasaran, dia begitu bimbang, diraihnya benda pipih itu. Dia masih menutup matanya, perlahan mengintip dan membaca balasan yang dikirimkan Ujang.
Diani melompat-lompat diatas ranjang karena kegirangan, kemudian menjatuhkan tubuhnya ke ranjang dan mengambil ponselnya lagi. Dia mengerucutkan bibirnya dan menempelkannya dilayar ponsel.
"Mmuaaach…," Diani mencium ponselnya. Karena disana ternyata sudah terpanggang foto sang suami.
Sedetik kemudian Diani melemparkan ponselnya. "Sebentar, apa aku sudah gila?" Gamamnya.
Diani menepuk jidatnya berkali-kali. "Diani kendalikan dirimu..!" Ucapnya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Lebih baik aku tidur saja, besok aku akan mengirim pesan pada Ujang lagi. Sepertinya aku butuh istirahat, batin Diani.
Sementara ditempat lain, Ujang sedang menatap layar ponselnya yang tak kunjung menyala, diapun mengirim pesan selamat tidur dan diapun memilih memejamkan matanya sambil tersenyum-senyum, berharap dia akan bermimpi indah. Memimpikan sang istri tercinta.
***
Pagi-pagi sekali Ujang sudah pergi ke ladang dan dengan segera menyelesaikan pekerjaannya. Menjual semua hasil panen dengan harga yang telah disepakati, melihat hasil panen yang memuaskan semakin menambah semangatnya pagi ini.
"Ujang, udah lama gak ketemu. Udah jadi orang kota aja. Penampilan kamu beda Jang, semakin keren" ucap Didin.
"Eh Didin. Iya aku udah nyaman di kota aja Din. Istri aku kan tinggal di kota saat sebelum menikah, dia masih betah kerja di kota," jawab Ujang.
"Masih kerja? Oalah… padahal kamu saja sudah banyak uangnya, disuruh diem aja Jang biar cepet jadi!" Ucap Didin.
"Jadi bayi lah Jang, biar cepet punya anak. Kan kalau ada dirumah istri kamu gak kecapean, badannya sehat. Banyak waktu juga buat berduaan, hehe…," jawab Didin sambil menggoda Ujang.
"Oh begitu," ucap Ujang. Kemudian pergi ke ladang sebelah. Dia tidak ingin berlama-lama bersama Didin yang semakin menggodanya. Seperti menggoda pengantin baru padahal pernikahannya sudah berjalan beberapa bulan.
Siang itu Ujang berangkat lagi ke kota dengan membawa ibu dan bapak mertuanya. Ujang senang karena dia tahu kedatangan orang tua Diani akan membuat istrinya juga senang.
Suami akan senang bila melihat istrinya juga senang, beberapa kali mereka beristirahat karena ibu mertuanya (emak Leha) mengalami mabuk kendaraan.
__ADS_1
"Masih lama Jang? Emak udah gak kuat. Kita naik becak aja Jang sampe kesana..!" Ucap Mak Leha.
"Kapan sampainya mak kalau naik becak, dibayarin satu juta juga tukang becaknya gak mau, hehe…," jawab Pak Diman sambil tertawa.
"Ih Bapak ini, bapak kan gak tahu rasanya mabuk kendaraan. Cape Pak, lemas, pusing, menyiksa sekali. Makanya ibu selalu menolak diajak ke kota. Bukannya tidak kangen sama Diani, ibu hanya tidak sanggup dijalannya," jawab Mak Leha.
"Minum teh manisnya dulu Mak, biar gak lemes..!" Ujang datang dengan membawa satu gelas besar teh hangat.
Dengan terpaksa Leha melanjutkan perjalanan yang masih setengah jalan lagi setelah meminum teh manis yang lumayan membuatnya segar. Dia enggan masuk ke dalam mobil, tapi dia juga tidak mungkin berada disana selamanya. Tujuannya adalah bertemu anak perempuannya, Leha menguatkan niat dan tubuhnya.
"Bismillah…," ucap Mak Leha. Dia masuk dengan wajah yang lesu.
Dua jam berlalu akhirnya mereka sampai. Leha yang tak sabar, dia langsung turun. Ingin rasanya dia menghirup udara luar yang segar, selama di dalam mobil dia mencium bau yang membuat perutnya terasa mual berkepanjangan.
"Ibu kapok Pak, ibu sepertinya gak mau pulang ke kampung lagi. Ibu tak mau mabuk perjalanan, ibu ingin langsung sampai saja, atau nggak kita pake becak sampe ke kampung, pake delman juga gapapa deh Pak, " keluh Leha.
Pak Diman hanya tersenyum kecil kemudian mengelus punggung istrinya. Mencoba menenangkan sang istri, "Ayo masuk Bu, Diani pasti sudah menunggu kita..!" Ajak Diman mengalihkan rasa cemas sang istri.
Drama mabuk pun berakhir, mereka masuk dengan senyuman dan rasa bahagia teramat besar karena akan bertemu anak perempuan satu-satunya.
Ya … drama mabuk berakhir. Tapi sepertinya drama Ujang dan Diani akan dimulai. Drama dimana mereka berperan seolah menjadi sepasang suami istri normal yang romantis dan harmonis.
__ADS_1
Bersambung …