Kejutan Dari Emak (Perjodohan)

Kejutan Dari Emak (Perjodohan)
Sakit


__ADS_3

Kesabaran Ujang memang tidak membuahkan hasil, tapi dia baru berjuang, dia merasa harus berjuang lebih keras lagi agar Diani sang istri mau menerima kehadirannya.


Ujang kini menikmati angin malam diteras rumah. Sepertinya emak salah menilai, neng Ani ternyata masih belum memiliki perasaan apapun, dia malah tidak suka dengan penampilan ini, gaya rambutku sepertinya juga harus ikut dirubah, ya… saat ke kota nanti aku akan meminta bantuan Siska lagi, batin Ujang.


"Ini kopinya Kang," ucap Diani yang datang tiba-tiba. Dia membuat lamunan Ujang buyar seketika, dan jantungnya berdetak lebih kencang karena kaget.


"Astagfirulloh Neng…, bikin kaget Akang aja deh. Kebiasaan," keluh Ujang, namun dia senang meski dia kaget.


"Maaf Kang, lucu sih…, itu kopinya diminum dulu..! Emak tadi yang bikin, trus nyuruh aku anterin kesini," ucap Diani.


"Oh, kirain kamu yang bikin Neng," jawab Ujang kecewa.


Diani duduk disamping Ujang, di kursi kayu panjang itu. Diani mengayun-ngayunkan kakinya, dia hanya diam, dia tidak tahu harus membahas apa dengan suaminya ini. Ujang terlihat menyeruput kopinya dan tak lama dia malah menyemburkan kopi itu.


"Kenapa disemburin Kang? Kalau panas ditiup kan bisa Kang..!" Ucap Diani dengan sedikit khawatir.


"Kopi panas sudah biasa Neng, ini sih asin, tapi jangan bilang sama emak ya..! Bilang aja enak dan sudah habis," jawab Ujang sambil berbisik di telinga Diani. Membuat Diani merasa malu karena salah memberi kopi itu dengan garam, dia juga malu karena nafas Ujang begitu terasa hangat sisi wajahnya.


"Hemm, beneran asin Kang?" Tanya Diani meyakinkan lagi, dia merasa sudah benar menaruh gula disana.


"Beneran Neng, Neng mau nyobain?" Tanya Ujang dengan menggeserkan kopi itu lebih dekat dengan diani.


Diani menggelengkan kepalanya, dia membuang kopi itu dengan segera. "Kalau asin buang aja Kang, lagian emak juga gak akan marah, gak usah dibahas lagi ya Kang, nanti aku bilang kalau kopi buatan emak habis..!" Ucap Diani memastikan kalau Ujang tidak akan buka suara pada mak Leha.


"Iya Neng, masuk aja yu..! Akang udah kedinginan," ajak Ujang yang kemudian berdiri. Ingin rasanya dia memeluk istrinya untuk menghangatkan tubuhnya, namun itu hanya akan menjadi sebuah khayalan.


Sesampainya di kamar, Ujang langsung membaringkan tubuhnya dibawah, disana sudah tersedia tempat tidur untuknya. Diani berjalan menuju tempat tidur dari sisi yang berlawanan karena tidak mau membuat suara yang mengganggu Ujang. Apa dia benar-benar sudah tidur? Malam ini memang terasa lebih dingin, apa aku harus menawarinya agar tidur diatas? Emm… tidak. Biarkan saja dia tidur dibawah itu kan kemauan dia, kalau dia sakit ya salah dia lah, batin Diani.


***


Ketika subuh datang, Ujang mengajak Diani solat berjamaah, setelah itu terlihat Ujang meringkuk lagi. Dia tidak biasanya seperti itu, Diani sedikit merasa aneh tapi dia lebih memilih membantu ibunya memasak di dapur sekaligus menghangatkan tubuhnya karena dekat dengan api pembakaran.

__ADS_1


Pagi itu Diani ingin mengajak suaminya sarapan, tapi tidak ada jawaban. Saat diani mencoba membangunkan Ujang, Diani pun mencoba mengecek suhu badan Ujang dan betapa terkejutnya saat tangan Diani merasakan panas pada dahi Ujang. Dia merasa bersalah karena semalam tidak mengajak Ujang tidur diranjang.


"Kang, kita ke klinik ya? Badan Akang panas banget," tanya Diani pada Ujang yang masih meringkuk dengan sarungnya.


"Gak usah Neng, Akang pengen dikerokin aja," jawab Ujang.


"Oh, yaudah sebentar ya," ucap Diani berlalu pergi. Dia menuju dapur dan bertanya pada ibunya.


"Mak, Kang Ujang masuk angin pengen dikerokin, apa ada tukang pijit disini yang bisa dipanggil ke rumah Mak?" Tanya Diani.


"Neng, kerokin sama kamu aja atuh, sebentar kok daripada harus nyari tukang pijit dulu kan lama Neng, gratis juga kalau sama kamu Neng dan dapet pahala juga, enak kan. hehe…," jawab Emak Leha.


Astaga Mak, mending aku bayar tukang pijit deh Mak, aku masih canggung sama Ujang, batin Diani.


"Tapi Mak, Diani gak bisa ngerokin," jawab Diani beralasan.


"Yaelah Neng, tinggal pake koin sama minyak, terus di kerok deh ke punggung Ujang, Neng bebas mau gambar apa disana, nanti Emak liat karya kamu bagus apa enggak, hehe…," jawab Mak Leha.


"Yaudah sana kamu kerokin..!" Jawab Mak Leha berlalu pergi menyiapkan alat-alatnya.


Dengan terpaksa Diani melakukan itu, dia mengambil apa yang diberikan ibunya dan menuju kamarnya. Dia melihat Ujang menggigil kedinginan, rasa kasihan dan tidak tega muncul di hati wanita itu.


"Kang, ayo dikerokin dulu, akang naik ke kasur aja ya, tidurnya diatas biar cepet sembuh, kalau dibawah mah kapan sembuhnya, kan dingin..!," ucap Diani.


"Makasih Neng," jawab Ujang lalu bangkit dan berpindah ke atas ranjang, dia mulai membuka bajunya dan tidur tengkurap. Sementara Diani malah menutup kedua matanya.


Kenapa Neng Ani belum ngerokin juga? batin Ujang.


"Neng, astagfirullah… kalau ditutup gitu gimana ngerokinnya atuh Neng," ucap Ujang yang bingung dengan kelakuan sang istri.


"Ah iya Kang, tapi maaf ya kalau gak mujarab bikin sembuh, Diani gak pandai ngerokin sih," ucap Diani.

__ADS_1


"Pasti manjur kok Neng, kan dikerokin istri tersayang," jawab Ujang sambil memeluk bantal, dia mengucapkannya dengan senyum merekah, andai Diani melihatnya, melihat dua lesung pipi Ujang yang manis.


"Hemm, gombal…," jawab Diani. Wanita itu langsung saja melakukan aksinya melukis di punggung Ujang dengan koin. Apa aku gambar Patrick disini, atau Spongebob aja? Pasti lucu, batin Diani.


***


Siang itu Diani sedang bingung, karena ini adalah hari terakhir dia cuti dan seharusnya siang atau sore ini dia sudah melakukan perjalanan ke kota. Tapi mengingat keadaan Ujang yang sekarang, Diani merasa tidak tega.


Terdengar ponselnya berbunyi dan itu telepon dari Fani sahabatnya.


"Hallo Diani, cie yang bulan madu, besok kamu masuk kerja kan?" Tanya Fani.


"Ih kamu kebiasaan deh, bukannya salam dulu," keluh Diani.


"Iya sorry, gimana masih betah honeymoon nih?" Tanya Fani menggoda sahabatnya.


"Inginnya sih masuk kerja, aku juga udah kangen nih sama kalian, disini aku bosen," keluh Diani.


"Yaudah cepetan kamu balik! Kenalin ke kita suami kamu itu, makan-makan gitu traktir kita-kita," ucap Fani.


"Masalahnya suami aku sakit jadi bingung deh, sebenarnya aku juga malas sih diem di kampung terus, aku gak betah. Tapi aku gak mau emak marah karena pergi disaat suami sakit, pagi-pagi aja udah disuruh ngerokin, huh…," jawab Diani.


Telepon itu berlangsung lama, dan selama itu juga Ujang mendengar semuanya, dia yang dianggap tidur oleh Diani ternyata masih bangun dan masih menahan rasa menggigil di tubuhnya. Ujang begitu merasa menjadi penghalang di kehidupan Diani, merasa dia itu tidak berharga Dimata sang istri. Ujang kini yakin kalau pekerjaannya itu bahkan lebih penting dari dirinya, padahal untuk masalah uang Diani tidak perlu khawatir bahkan sampai bekerja seperti itu.


Ujang pun bangkit dan duduk ditepi ranjang. Diani yang menyudahi percakapannya lewat telepon, dia dibuat terkejut mengetahui Ujang yang bangun dan mendengarkan obrolannya.


"Kang Ujang udah bangun, mau makan apa? Aku ambilin ya?" Tanya Diani dengan sedikit salah tingkah.


"Gak usah Neng, Akang udah baikan, kalau Neng mau ke kota duluan, biar mang Mamat yang anterin. Nanti Akang menyusul kalau sudah kuat bawa mobil sendiri," ucap Ujang.


Astaga, apa dia mendengar semuanya? Arrgghh… bagaimana ini? Batin Diani. Wanita itu jelas merasa bersalah, Dia juga sebenarnya takut jika Ujang menilai dirinya tidak tulus merawat Ujang, dia takut kalau dia dianggap istri kurang ajar, walau sebenarnya cara bicara Diani memang terkadang pedas dan menyakitkan.

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2