
Ujang dan Diani begitu terkejut. Mereka langsung menyambut dan mencium punggung tangan Bu Edoh. Iya, itu ibu tiri Ujang yang datang berkunjung bersama anak perempuannya.
"Kok gak ngabarin Ujang kalau mau datang Bu?" Tanya Ujang.
"Iya, ini adikmu. Dia ingin melihat sesuatu yang baru katanya, tapi ibu juga gak ngerti maksudnya apa. Oh iya kenapa ini diangkut gini Jang? Mau kamu jual?" Tanya Bu Edoh.
"Iya Bu," jawab Ujang.
"Loh, apa kamu kekurangan uang, masa udah habis lagi. Apa istrimu boros?" Tanya Bu Edoh sambil melirik Diani.
Diani pun menunduk, dia mulai merasa tidak enak. Diani memang kurang nyaman dengan ibu tiri suaminya itu. Diani merasa ibu Edoh tidak suka dengannya, bukankah jika orang sudah tidak suka, maka semua yang dilakukan akan tetap salah dimata orang itu? Begitulah cara berpikir Diani.
"Bukan Bu, karena tak terpakai aja. Ujang udah beli yang baru. Ujang mau pindah, apa bapak gak ngasih tahu ibu kalau aku beli rumah dikota?" Jawab Ujang.
"Apa? Ibu beneran gak tahu. Enak dong ya, baru nikah udah punya rumah. Harusnya istri yang diperlakukan baik sama suami itu, ya bersyukur jangan menjadi istri durhaka," sindir Bu Edoh pada Diani.
Bu Edoh memang tahu sikap Diani tempo hari saat menginap dirumahnya. Diani mengabaikan Ujang, tak bersikap sebagai istri, cuek pada Ujang. Bu Edoh merasa sakit hati meski Ujang bukan anak kandungnya, perlakuan Diani menurutnya sangat keterlaluan jika dibandingkan perlakuan Ujang yang selalu mengutamakan istrinya itu.
"Nah ini Bu, aku mau lihat rumah baru A Ujang, hehe…," ucap Arin tiba-tiba. Sedari tadi gadis itu hanya menjadi pendengar, tapi dia kasihan dengan Diani. Gadis itu berusaha mencairkan suasana.
__ADS_1
"Kamu juga, gak bilang dari awal," ucap Bu Edoh pada Arin.
Ujang pun akhirnya membawa mereka semua ke rumah baru yang dia beli. Bu Edoh merasa takjub dengan rumah itu, tapi sangat disayangkan karena Diani adalah menantu yang tidak sesuai harapnnya. Bu Edoh berharap anak lelakinya akan bahagia, tapi dia tidak bisa menyuruh Ujang untuk menceraikan Diani.
"Wah , bagus banget A. Aku mau tinggal disini ah. Aku kan kuliahnya mau dikota," ucap Arin.
"Boleh Neng, asal mau bantu beres-beres aja," jawab Ujang.
"Ih AA nyebelin," ucap Arin kesal.
Ujang berusaha menahan tawanya, meski suasana begitu menyenangkan. Tapi Diani merasa tetap tegang dengan kehadiran Bu Edoh, lebih tepatnya Diani mengakui kesalahannya dan dia tidak tahu harus memulai memperbaikinya dengan cara apa. Diani mengerti semua sindiran Bu Edoh, dia hanya pura-pura tidak mengerti saja dihadapan semua orang.
Karena ada ibu dan juga Arin. Ujang pun harus tidur dikamar Diani, dia tidak mau membuat ibunya semakin mengira kalau rumah tangganya sekacau ini. Ujang tidak mau kalau ibunya menuduh yang aneh-aneh pada Diani. Dia akan bersikap sebiasa mungkin selama ada keluarganya disini.
"Hmm…, mau di ranjang pun gak apa apa kok," jawab Diani sambil berjalan menuju kamar mandi.
Ujang terdiam, dia berusaha meyakinkan kalau telinganya tidak salah dengar. Bahkan Ujang mengorek telinganya dengan jari kelingkingnya. Tapi karena tidak yakin, dia pun menunggu istrinya sampai keluar dari kamar mandi, bahkan Ujang kini berada didepan pintu kamar mandi saking penasarannya.
Ceklek
__ADS_1
"Astagfirullah…, kebiasaan deh, Akang ngagetin aja," keluh Diani.
"Hehe …, maaf Neng," jawab Ujang sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ujang merasa malu.
"Tuh udah kosong Kang, mau ke kamar mandi kan?" Tanya Diani.
"Gak kok Neng, ayo…!" Ajak Ujang.
"Ayo kemana?" Tanya Diani.
"Tidur Neng," jawab Ujang.
Diani diam, apa Ujang mengajak cepat tidur karena tidak sabar? Ah kenapa tadi aku bilang boleh tidur diranjang, astaga… batin Diani.
"Oh, hmm … iya," jawab Diani.
"Apa tadi Neng bilang, Akang boleh tidur diranjang?" Tanya Ujang memastikan.
"Emm, mungkin Akang salah dengar," jawab Diani lalu berlari menuju ranjang, menutupi tubuhnya dengan selimut karena malu.
__ADS_1
Sementara Ujang menghela nafas kasar, dia berjalan dengan lunglai.
Bersambung …