
Diani tenang! Dia suami kamu, biarin aja dia mau ngapain juga kan udah halal, batin Diani.
Diani mengedipkan matanya, dia memang sedang tegang saat ini. Tapi dia seolah kecewa saat Ujang mundur beberapa langkah. Lelaki itu kini berdiri dihadapannya dan tersenyum aneh, "neng mau nemenin Akang mandi?" Tanya Ujang.
Apa, mandi bareng gitu maksudnya? Batin Diani.
Deg!
"Gak Kang, Akang aja duluan!" Jawab Diani kemudian berlalu pergi dengan langkah yang sangat cepat. Sebelum dia pergi, Ujang melihat wajah Diani yang memerah.
"Hati-hati Neng jalannya..!" Ucap Ujang saat melihat istrinya itu berjalan cepat tapi sambil menundukan kepala.
Neng Ani lucu banget, batin Ujang. Dia tertawa sendiri didalam kamar mandi, mandi sambil senyum-senyum sendiri. Sampai dia lupa belum membawa handuk.
Bagaimana ini? Kalau baju ini aku pakai lagi kan kotor. Kalau keluar tanpa baju kan malu, iya… malu sama istri sendiri. Gara-gara mikirin Neng Ani nih jadi lupa. Apa aku teriak aja ya? Batin Ujang.
***
P
Terlihat Diani sedang menunggu sambil memainkan ponselnya. Ujang yang mengendap-ngendap ternyata masih saja terlihat oleh istrinya, seketika Diani pun tertawa terpingkal-pingkal sampai dia sakit perut.
"Hahahahaha…," Diani terus tertawa.
"Neng istigfar Neng!" Ucap Ujang saat melihat istrinya itu seperti sedang kesurupan jin. Berguling-guling dikasur sambil tertawa.
"Astagfirullohaladzim…, hahaha… kalau akang pengen aku berhenti ketawa, cepetan pakai baju. Malah berdiri disana dengan memakai kimono pink milikku, ffttt…," jawab Diani. Kali ini dia menutup mulut dengan kedua tangannya karena ingin berhenti menertawakan suaminya yang kini berdiri menatapnya tajam.
Meski tatapan Ujang tajam, tapi bibir Ujang seakan mengerucut karena kesal. Itu sungguh menambah kelucuan didepan Diani. Wanita itu sepertinya senang mendapatkan hiburan pagi.
__ADS_1
Semua itu berakhir saat Ujang mengingatkan kalau waktu subuh sudah hampir habis. Diani bergegas berwudhu, sementara Ujang bergegas memakai sarung dan bajunya. Mereka melakukan aksinya secepat kilat.
Setelah berjamaah, Diani mengecup punggung tangan suaminya dengan Hidmat tapi sedetik kemudian dia mulai tertawa lagi, mengingat kimononya dipakai Ujang. Kimono yang menjadi kecil saat dipakai suaminya itu, jika biasanya dibawah lutut Diani, tapi tadi kimono itu panjangnya diatas lutut Ujang.
Seksi, satu kata untuk Ujang menurut Diani kala itu. Karena dadanya pun terlihat akibat kimono yang kekecilan. Memang itu sangat menggelitik perut Diani, bahkan hanya dengan mengingatnya saja bisa membuat Diani tertawa lagi.
***
Pagi itu mereka sarapan bersama, Arin juga ikut bergabung dan dia hari ini mulai kuliah lagi setelah beberapa hari libur. Ujang juga akan kembali bekerja bersama Siska sahabatnya. Diani pun akan perginke kantor untuk mengantarkan surat pengunduran dirinya hari ini. Keputusannya sudah bulat, dia ingin belajar memasak, dan menjadi ibu rumah tangga yang siap sedia dirumah.
"Fftttt…," Diani mencoba menahan tawanya saat melihat Ujang. Ya… saat pandangan mereka saling bertemu, membuat Diani membayangkan kejadian subuh tadi.
"Neng…," panggil Ujang.
"Iya Kang?" Tanya Diani.
"Membayangkan apa? Hayoo… kalian bahas apa sih?" Tanya Arin.
"Gapapa ko Rin, kakakmu memang aneh, teteh cuma menahan tawa, dianya aja yang so tahu, hmm…," jawab Diani.
Arin diam, dia memandang Ujang dan Diani bergantian. Gadis itu merasa ada yang disembunyikan oleh mereka berdua.
Diani dan Arin diantar oleh Ujang dalam satu mobil, pertama mereka akan ke kantor Diani lalu menuju kampus Arin dan berakhir di tempat kerja Ujang.
"Neng hati-hati ya..!" Ucap Ujang.
"Iya Kang," jawab Diani sambil tersenyum, tak lupa dia melambaikan tangan pada adik dan sumainya.
Diani berlalu pergi, Arin mulai menggoda kakaknya itu selama perjalanan menuju kampus. Membuat Ujang sedikit kesal dibuatnya. "Dek… udah. Jangan ganggu Aa terus, ini kan lagi nyetir..!" Ucap Ujang.
__ADS_1
"Aku gak gangguin, aku gak gelitikin Aa, aku gak senggol-senggol Aa, hmmm…," jawab Arin.
"Ish kamu ini," jawab Ujang dengan kesal.
"A, aku pengen gendong anak bayi lucu deh," ucap Arin.
"Kamu ini aneh-aneh aja. Nikah juga belum, awas jangan macem-macem ya!" Jawab Ujang.
"Ih bukan anak aku, tapi aku pengen gendong anak Aa sama teh Diani. Lagi proses bikin ya A? Bisa dipercepat gak? Hehe…," ucap Arin.
"Memangnya bikin makanan yang bisa dipercepat pake mesin. Lebih baik kamu diam aja Dek daripada ngomongnya ngelantur gitu!" Protes Ujang.
Arin mengerucutkan bibirnya karena kesal, sementara Ujang masih memikirkan kata bayi. Dia tak memungkiri jika dia juga sudah siap menjadi seorang ayah, tapi dia harus bersabar dan semuanya butuh proses. Proses pendekatan saja belum selesai, pacaran setelah menikah belum tercapai.
***
Sementara itu di ruangan Diani, Fani tak rela jika sahabatnya itu mengundurkan diri sekarang. Fani berusaha melarang Diani.
"Sayang loh, sebentar lagi kan ada bonus akhir tahun tuh. Nanti aja resign nya!" Bujuk Fani.
"Hmm, iya juga sih. Tapi aku terlanjur bilang mau berhenti sama Ujang," jawab Diani.
"Udah, mending kamu bawa pulang lagi surat itu. Kamu ngomong sama suami kamu kalau kamu mau bekerja dulu, lagian di rumah kan bete juga kalau belum ada anak. Menurutku sih lebih baik nunggu kamu hamil aja, baru deh resign!" Ucap Fani.
Diani mengangguk kecil. Hamil? Aku berharap suatu saat aku bisa hamil sih, tapi apa bisa ya? mengingat hubungan aku dan Ujang yang masih begini, bukankah akan seru kalau ada anak yang mirip dengan ku atau ayahnya, bermain dan bercanda setiap harinya. apakah aku yang harus mulai membahas anak? tapi..., batin Diani.
Diani tersenyum-senyum sendirian, dia membayangkan bulan madu yang romantis. Fani menggeleng-gelengkan kepalanya dan memilih keluar dari ruangan itu karena jam kerja sudah dimulai.
Bersambung …
__ADS_1