Kejutan Dari Emak (Perjodohan)

Kejutan Dari Emak (Perjodohan)
Bu Edoh Yang Bawel


__ADS_3

Diani memilih pergi ke kota bersama mang Mamat, dia meninggalkan Ujang yang sedang sakit di kampung. Rasa bersalah memang sempat menahan Diani, tapi sisi keegoisannya tetap menyuruhnya melakukan apapun yang dia mau.


"Neng jangan tidur ya..! Mamang gak tahu jalan ke kota tempat Neng tinggal, nanti malah nyasar. Tapi kalau pulangnya insya Allah mamang hapal," ucap Mamat.


"Iya Mang," jawab Diani yang menahan ngantuk. Dia beberapa kali menguap, tapi dia tahu kalau dia harus tetap terjaga. Akhirnya dia memilih berhenti di pinggir jalan di sebuah warung. Dia membeli minuman segar agar matanya pun ikut segar dan terjaga sepanjang perjalanan.


"Neng, itu ada asinan, seger kayaknya Neng, biar mata melek, hehe…," ucap Mamat.


"Bener mang, beli dua ya..!" Ucap Diani sambil memberikan satu lembar uang kertas.


Selama di dalam mobil Diani santai memakan asinan. Benar-benar manjur dan membuat Diani menghilangkan rasa ngantuknya.


Setibanya di kontrakan, Diani terlebih dahulu meminta izin pada Bu Kartini untuk mang Mamat yang ingin beristirahat sebentar di kontrakan Diani. Mamat hanya berani duduk diteras kontrakan, Diani pun membelikan beberapa cemilan dan makanan lagi buat Mamat, jika ingin solat pun disana ada masjid yang letaknya tak jauh dari kontrakan.


Hari memang sudah malam, Bu Kartini menyarankan agar Mamat menginap sehari di kontrakan sebelah yang penghuninya laki-laki semua.


"Beneran boleh Bu?" Tanya Diani.


"Boleh kalau semalam, lagian kasihan kan capek. Besok mau pulang ke kampung lagi kan?" Tanya Bu Kartini pada Mamat yang usianya hampir sama dengan usia Bu Kartini.


"Iya, terimakasih…," jawab Mamat.


"Iya sama-sama, jangan lupa Diani nanti kirimkan oleh-oleh yang kamu bawa dari kampung ke rumah ibu..!" Ucap Bu Kartini.


"Hmm, ternyata ada maunya," gumam Diani.

__ADS_1


Terlihat bu Kartini menatap tajam ke arah Diani, membuat Diani segan dan mengangguk pelan, dia mengatakan kalau secepatnya akan mengirim oleh-oleh ke rumah ibu kontrakan itu.


Namun saat Diani baru saja sampai di depan pintu kamarnya, dia mendapatkan panggilan telepon, terlihat dilayar itu tertulis (Suamiku ♥️). Diani tersenyum saat melihat nama itu karena Ujang yang menyimpan nomornya sendiri di ponsel Diani.


Diani mengatur nafasnya, mencoba mengangkat telepon itu dengan sikap biasanya. Sikapnya yang cuek dan sedikit pemarah.


"Assalamu'alaikum Kang," ucap Diani.


"Waalaikumsalam, Neng udah sampe? Gimana perjalanannya lancar?" Tanya Ujang dengan nada khawatir. Padahal dialah yang harus dikhawatirkan karena sedang sakit.


"Udah sampe Kang, aku mau anterin oleh-oleh dulu ke rumah Bu Kartini, udah dulu ya Kang?" Ucap Diani.


"Oh begitu, ya udah Neng harus langsung istirahat ya..! Besok kan kerja, biar badannya seger," ucap Ujang.


"Iya Kang, aku bukan anak kecil kok yang harus diingetin," keluh Diani. Tanpa mengucapkan salam Diani malah menekan tombol untuk mengakhiri panggilan.


Dia membaringkan tubuhnya yang Allah dan tertidur pulas, dia bahkan melupakan oleh-oleh untuk Bu Kartini. 


***


Sementara dikampung. Ujang memilih pulang ke rumah orang tuanya, dia merasa tidak nyaman tinggal di rumah Mak Leha sementara tidak ada Diani disana. Padahal dia lebih nyaman tinggal disana daripada di rumah orang tuanya. Dia sering kali berdebat kecil dengan bapak ataupun ibu tirinya, meski bukan perdebatan besar tapi Ujang tidak nyaman.


"Kamu ini sudah punya istri, seharusnya diurus sama istri saat sakit, eh dia malah pergi ke kota. Cari istri yang bener dong Jang!" Ucap Bu Edoh.


"Diani kerja Bu, gak bisa kalau libur lama," jawab Ujang membela istrinya.

__ADS_1


"Awalnya memang ibu setuju dengan Diani. Tapi setelah melihat dia begitu acuh sama kamu, ibu gak rela nitipin kamu sama dia Jang," keluh Bu Edoh.


Bu Edoh teringat dulu pernah datang ke kota ke kontrakan Diani. Diani sepertinya tidak menyadari kalau dia ibu tiri Ujang, awalnya Bu Edoh senang dan bersikap lembut. Tapi setelah tahu sikap acuh Diani pada Ujang, sikap Diani yang bahkan membuat Ujang sedih karena si Kiki dan si Koko. Bu Edoh seakan kehilangan rasa percayanya dan ingin mencarikan Ujang istri baru.


"Diani baik ko Bu," Ujang membela istrinya lagi.


"Hem, kamu terus saja membela dia," gumam Bu Edoh berlalu pergi. Dia meninggalkan sup hangat di sana untuk Ujang.


Selalu saja begitu, memang baik, tapi aku tidak tahan dengan omelannya setiap hari, batin Ujang.


Ujang masih teringat Diani, dia tidak bisa tidur malam ini. Ingin menelepon tapi takut mengganggu. Dia hanya melihat foto Diani yang diambil secara diam-diam. Dia tersenyum memandang foto Diani yang sedang duduk diteras rumah sambil menikmati teh hangat.


***


Pagi itu Diani pergi bekerja, dia disambut hangat oleh beberapa sahabatnya. Tak bisa dipungkiri beberapa orang juga membicarakan video yang sempat viral dan menilai Diani sebagai wanita penggoda.


"Menurutku wajahnya biasa saja, tapi bertingkah seolah dia cantik seperti Cinderella," celetuk Cindy.


"Iya, bos diembat juga, tapi aku yakin sih kalau cuma dianya yang kegatelan, mana mau bos tampan kaya pak Nandra sama cewek kampungan, haha…," ucap Widia.


"Hahaha…, bener. Ternyata dia memang orang kampung yah, pantas aja beda, cocok sama suaminya itu yang kampungan juga," ucap Kimi.


"Beda lah, wajah kampungan mereka kan beda, haha…," Cindy tertawa puas.


Diani menatap tajam kearah wanita-wanita itu, seperti ingin menelan mereka hidup-hidup.

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2