Kejutan Dari Emak (Perjodohan)

Kejutan Dari Emak (Perjodohan)
Aneh


__ADS_3

Setelah kejadian memalukan itu, Diani selalu menghindari Ujang karena rasa canggungnya. Ujang juga bekerja kembali bersama Siska selama berada di kota, dan jika saatnya panen, Ujang akan pulang kampung dan membawa uang banyak untuk diserahkan sebagian pada Diani sebagai nafkah lahir.


Ketika di kantor, Diani kebingungan menatap undangan pernikahan dari salah satu sahabatnya yang bernama Indri.


"Kamu harus datang ya, jangan sampai enggak!" Ucap Indri.


"Iya, akan aku usahakan," jawab Diani.


"Harus!, Kamu bawa suamimu juga, kenalin sama kita-kita..!" Ucap Fani.


Diani tampak diam, dia bingung apakah harus mengajak Ujang atau tidak. Mengingat penampilan Ujang yang sekarang, Diani tak masalah mengajak Ujang, hanya saja dia bingung cara mengajaknya karena beberapa hari dia sudah jarang bertegur sapa, Diani seolah memusuhi suaminya.


***


Sesampainya di kontrakan, Diani mencari keberadaan suaminya. "Sepertinya dia belum pulang," gumam Diani. Wanita itu pergi untuk mandi dan mengganti pakaian, kemudian memasak untuk Ujang dalam rangka membujuk suaminya agar bisa menemaninya pergi ke acara sahabatnya.


"Apa ini tidak berlebihan? Biasanya juga Ujang bawa makanan dari luar saat dia pulang. Bagaimana kalau masakanku tidak dimakan? Sia-sia dong jadinya," gumam Diani sambil mengaduk masakannya.


Masakan Diani kini sudah siap, dia menata makanan itu sedemikian rupa agar terlihat menarik dan menggugah selera. Dia ingin memperbaiki hubungannya dulu, dia ingin bertegur sapa seperti biasanya lalu mengajak Ujang ke pesta nanti. Tidak mungkin bukan jika tiba-tiba dia mengajak Ujang, padahal sebelumnya Diani mengacuhkan Ujang.


Terdengar suara ketukan pintu, Diani tahu kalau itu pasti suaminya. Dia bergegas pergi menuju pintu depan, berdiri disana beberapa detik dan menghembuskan nafasnya secara perlahan. Dia sedikit gugup, ada debaran jantung yang cepat, dia sebenarnya juga merindukan kala Ujang memanggilnya Neng Ani.


"Assalamu'alaikum Neng," terdengar Ujang mengucapkan salam dari luar.


Ceklek


 

__ADS_1


"Waalaikumsalam…," jawab Diani sambil tersenyum.


Ujang yang kaget disambut begitu hangat oleh Diani, dia diam sesaat. Memang biasanya Diani hanya menjawab salam dan berlalu pergi. Namun kini dia melihat Diani menyambutnya dengan senyuman manis.


"Kang, ayo makan dulu. Aku udah masak loh," ucap Diani.


"Emm, iya Neng, akang mau mandi dulu ya, gerah. Terus nunggu adzan magrib, mau sekalian solat juga," jawab Ujang.


"Iya Kang," jawab Diani singkat, tapi dia tersenyum lagi pada Ujang.


Ujang pun pergi menuju kamar mandi, dia terus mengingat senyuman Diani yang manis tapi aneh. "Neng Ani kenapa ya?" Gumamnya.


Sekitar pukul setengah tujuh malam baulah Ujang makan, untung saja dia tadi lupa membeli lauk pauk jadi dia bisa makan masakan istrinya. Ujang semakin aneh melihat tingkah istrinya saat Diani menyodorkan satu gelas teh hangat di dekatnya.


"Ini Kang minumannya," ucap Diani.


"Masakan aku enak gak Kang?" Tanya Diani.


"Enak kok, hanya kurang sedikit gula, hehe…," ucap Ujang.


Diani mengerutkan dahinya, kemudian dia mencoba sayur yang dia buat. Kenapa jadi asin ya? Perasaan tadi udah pas deh, batin Diani.


Diani hanya tersenyum kecil lalu menunduk, dia gengsi untuk sekedar meminta maaf atas masakannya yang asin. Tapi Ujang dengan lahapnya makan, membuat Diani merasa sedikit tidak enak. "Padahal ini asin, kenapa tetap dimakan?" Gumamnya pelan.


"Neng ngomong apa barusan? Makanan asin?, oh ini… sedikit asin aja kalau sama nasi gak terlalu asin ko neng, lagian ini ada tempe bacem yang manis jadi enak kok," jawab Ujang sambil tersenyum, menampilkan lesung pipi yang selalu membuat Diani ingin melihatnya lagi dan lagi.


Diani hanya tersenyum dan melanjutkan makan, dia merasa malu sekali karena pernah berkata kalau Ujag tidak pantas untuknya. Padahal dialah yang tidak pantas, meski Ujang diperlakukan kurang baik, tapi dia masih saja menghargai setiap usaha Diani. Makanan yang kurang enak saja dibilang enak dan makannya pun sangat lahap demi Diani agar tidak kecewa. Tapi Diani lah yang sering membuat Ujang kecewa.

__ADS_1


Setelah selesai makan, Ujang membereskan meja dan mencuci piring. Padahal Diani sudah melarangnya, tapi Ujang bersikeras melakukan hal itu. "Neng diem aja, kan tadi neng Ani sudah masak, jadi ini biar Akang yang beresin. Dalam rumah tangga kan perlu saling kerjasama neng, biar beban yang dipikul tidak berat," jawab Ujang.


Deg


Hati Diani merasa tersentuh, lagi-lagi dia dibuat sadar diri kalau dirinyalah yang selalu salah menilai Ujang. Selama ini dia terlalu memikirkan Fisik, melihat Ujang dari penampilan luarnya saja, padahal dalamnya Ujang adalah lelaki yang tulus yang patut Diani syukuri kehadirannya.


Diani hanya diam melihat Ujang dari belakang, punggungnya yang lebar dan panjang terlihat gagah tapi kenyataan bahwa Ujang sedang mencuci piring tidak membuat karisma Ujang menghilang, justru Diani semakin berdebar melihat pemandangan itu. Dia tersenyum memandang Ujang dari belakang.


Saat Ujang berbalik, Diani memalingkan wajahnya. dia tidak mau ketahuan kalau sedang tersenyum memandang Ujang. Diani terlalu malu mengakui kalau dia suka.


Setelah selesai mencuci, Ujang yang berbalik kini membuat Diani sebisa mungkin menahan tawanya.


"Ffttt…," Diani menutup mulutnya dengan tangan kanannya.


"Neng kenapa, apanya yang lucu? Apa laki-laki tidak boleh mencuci piring, apa terlihat aneh?" Tanya Ujang heran.


"Bukan begitu Kang, tapi ada sabun di pipi Akang," jawab Diani berjalan mendekat ke arah Ujang, mengusap sabun yang ada di pipi suaminya. Diani awalnya hanya refleks saja ingin membantu membersihkan wajah Ujang dari sabun, tapi dia baru sadar kalau tangannya kini menyentuh pipi Ujang. Pipi yang sering menunjukkan lesung pipi menggemaskan.


Deg


Ada debaran aneh yang Diani rasakan, begitupun dengan Ujang. Refleks mereka saling menjauh, mundur beberapa langkah. Mereka berdua seolah salah tingkah, Diani berlari pergi ke kamar sementara Ujang, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu pergi menuju ruang tamu untuk menonton televisi.


Di dalam kamar, Diani menutup semua tubuhnya dengan selimut tebal. Dia merasa malu dengan kejadian tadi, "bisa-bisanya aku yang malah terkesan menggodanya, arrgghh… jangan sampai Ujang berpikir yang macam-macam," gumam Diani.


Sepanjang malam Diani mengutuk dirinya sendiri. Mengutuk tingkahnya yang aneh hari ini.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2