
Terlihat Leha begitu bahagia, berjalan dengan cepat terlihat begitu tak sabar ingin menemui anak perempuannya. Pak Diman mengikuti dari belakang karena dia juga merasa kewalahan mengimbangi langkah sang istri.
"Bu, ko malah lari? Tunggu bapak dong Bu..!" Ucap pak Diman.
Ujang pun terpaksa melangkah dengan cepat untuk mengimbangi ibu mertuanya. Sebegitu rindunya Bu Leha pada Diani.
Setelah dipertemukan, kedua nya kini berpelukan erat. Sebelumnya memang saat dikampung Bu Leha sempat mendadak diam dan tak banyak bicara pada Diani karena sesuatu hal. Tapi sekarang Bu Leha memperlihatkan emosi yang sesungguhnya.
"Neng, Emak kangen sama kamu. Betah bener Neng dikekepin Ujang sampe gak pulang," ucap Bu Leha sambil terkekeh.
"Ih apaan sih Mak, bukan begitu," jawab Diani.
"Kalau bukan begitu, ya begini tingkahnya kaya kamu Neng, hahaha…," pak Diman pun ikut menggoda anaknya.
Semua tertawa dan memasang wajah senang, hanya Diani yang memasang wajah kesal karena merasa di bully. Kenapa hanya aku yang digoda, kenapa Ujang tidak? Apakah mereka menilai jika aku yang lebih banyak menyimpan cinta pada Ujang? Ish menyebalkan, ini tidak adil, batin Diani.
Karena Diani sudah tahu akan kedatangan orang tuanya, dia memasak banyak hari ini dengan beberapa menu spesial. Beberapa hari ini Diani suka melihat konten memasak dan mempraktekannya, meski terkadang bahan yang digunakan malah jadi mubazir karena dia gagal mengolahnya.
Namun dia tidak menyerah, dan menganggap kalau semua butuh proses dan kerja keras. Seperti proses cintanya pada Ujang. Diani teringat pepatah mengatakan kalau benci dan cinta itu beda tipis, dulu dia tidak mengerti itu, dan beranggapan jika itu omong kosong.
Jelas dua kata itu sangat bertolak belakang mana mungkin dikatakan sama dan beda tipis. Hingga akhirnya dia sadar kalau rasa bencinya pada Ujang yang berlebihan kini membuatnya cinta yang berlebihan juga. Haha… lucu memang.
Dan sebaliknya, jika seseorang sudah cinta tapi malah dikhianati atau disakiti entah bagaimana caranya, maka cinta itu akan berubah jadi benci. Bisa jadi dendam juga menemani si benci.
***
Malam itu saat Diani ingin keluar kamar dan mengambil cemilan ke dapur.
Ceklek
Gubrag…
"Aduh," keluh Pak Diman yang terjatuh.
__ADS_1
"Bapak gak papa?" Tanya Diani sambil membantu mengangkat tubuh ayahnya itu.
"Gapapa Neng. Bapak mau ke kamar dulu, kasihan emak sendirian Neng," jawab pak Diman. Lelaki itu bahkan sampai berlari, membuat Diani menggelengkan kepalanya melihat tingkah ayahnya itu.
Diani mengurungkan niatnya untuk ngemil, dia berpikir kalau dia gemuk, Ujang bisa berpaling darinya. Dia hanya minum air putih lalu kembali ke kamar.
Diani kaget saat Ujang sudah berbaring diranjang dengan tidur menyamping dan menatapnya sambil mengedipkan matanya sebelah. Membuat Diani kaget bukan main, apa dia sedang menggodaku? Sebaiknya aku pura-pura polos aja, polos pikirannya ya, bukan badannya, hmm … Batin Diani.
"Akang kenapa, kelilipan ya? Sini aku tiupin..!" Tanya Diani.
Ujang menatap Diani heran, tapi Ujang segera menggunakan rencana lain karena rencana ini gagal. Ujang mendekat dan membiarkan wajahnya semakin dekat dengan istrinya, perlahan Diani benar-benar meniup mata Ujang.
Ujang malah sama-sama pura-pura polos lagi, gapapa lah anggap kita sedang bermain film, kita beradu akting saja kang, batin Diani.
"Udah Kang?" Tanya Diani.
"Tiup lagi Neng..!" Ucap Ujang dengan senyuman menawannya itu. Dian Tak bisa menolaknya, lagi-lagi dia harus berpura-pura meniup mata yang baik-baik saja. Ah … mereka memang sungguh konyol dan membuat hidup mereka semakin rumit saja. Padahal apa susahnya bilang i love u dan langsung serang. Wkwkwk
Tanpa Diani duga, bibirnya yang mengerucut karena ingin meniup mata Ujang, kini malah mendapatkan serangan mendadak, mata yang ada di depannya malah berganti menjadi bibir tebal Ujang yang kini sudah menempel di bibirnya. Mata Diani membelalak tak percaya, jantungnya berirama tak beraturan, ah bukan irama, tapi jantungnya sedang berdetak tak karuan seperti ada kekacauan di dalam sana.
Pesan kemarin, yang mana? Batin Diani. Sejenak dia berpikir hingga dia teringat mengirimkan emot cium kala itu. Membuat Diani pun merasa sangat malu akan pesan konyolnya itu, meski pesan itu wajar bagi mereka yang sudah menikah, tapi bagi Diani itu sangat memalukan.
Diani pun refleks memunggungi Ujang karena kini dia rasanya sudah tak sanggup menahan malu. Dia takut Ujang berpikir jika dirinya omes. Tapi tiba-tiba ada lengan yang melingkar di perut Diani, leher Diani rasanya hangat karena hembusan nafas suaminya.
Ada kecupan singkat di leher belakang Diani yang membuat tubuhnya bergetar. Rasa yang aneh tapi begitu candu untuk Diani, dia ingin merasakannya lagi. Tapi Ujang hanya melakukannya sekali, membuat Diani sedikit kecewa.
Telinganya kini memerah saat Ujang membisikan sesuatu disana, "Neng, apa Akang boleh menuntaskan nafkah batin malam ini?" Ucap Ujang pelan.
Diani membulatkan matanya, Ujang tidak mungkin juga melihat ekspresi kaget Diani kali ini. Ingin dia mengatakan mau, tapi dia terlalu malu mengakuinya. Hingga Ujang menanyakannya sekali lagi, membuat sesuatu bergetar, ah… hati Diani yang bergetar.
Diani pun mengangguk pelan, Ujang yang senang. Dia kini beranjak dan berpindah tempat. Kini dia saling berhadapan dengan istrinya itu.
"Neng yakin? Apa hati Neng sepenuhnya untuk Akang? Apa Neng tidak akan menyesalinya? Apa Neng ridho melakukan ini?" Tanya Ujang, dia begitu tak percaya sehingga harus meyakinkan semuanya lagi agar lebih jelas. Tapi bukannya menjawab, Diani malah langsung menyambar bibir Ujang yang bicara tanpa henti itu. Diani capek jika harus terus berakting seolah gadis polos.
__ADS_1
Sambaran itu merupakan satu jawaban dari semua pertanyaan Ujang. Mereka pun larut dalam buayan cinta. Menyatukan dua hati yang selama ini masih enggan mengakui dan ragu, dua insan yang memang seharusnya bersatu itu, begitu bahagia.
Saling memberi dan melengkapi, mengarungi indahnya malam. Melakukan sesuatu yang memabukkan tapi berpahala. Berharap akan ada benih tumbuh di rahim Diani, menghadirkan Diani kecil dan Ujang kecil.
♥️♥️♥️
Setelah hari itu mereka saling melempar pujian setiap bertemu. Terkadang bermesraan didepan Arin, membuat gadis itu merasa matanya telah ternodai oleh dua kakaknya yang sedang dimabuk cinta.
"Lakukan saja dikamar jangan mencemari mata anak gadis..!" Sindir Arin.
"Apaan sih Dek, ini cuma peluk aja," jawab Ujang.
"Hmm…," Arin berdehem. Memang hanya pelukan, tapi sangat lebay karena kakak iparnya dipeluk saat memasak.
Memangnya ini drama Korea apa? Mereka kira aku ingin menonton kemesraan mereka, aku sedang tidak ingin tergoda, jika aku lemah… pasti aku sudah meminta dinikahkan karena iri pada mereka, batin Arin.
Gadis itu pergi setelah satu gigitan sandwich masuk ke mulutnya, dia memilih pergi sebelum dua insan itu lupa akan kehadirannya dan melakukan hal yang lebih ekstrim. Arin bergidik ngeri tapi malah membayangkan sang kekasih hati.
Kebahagiaan mereka tak sampai disitu, kabar kehamilan Diani juga membuat kedua orang tuanya sangat senang. Bu Edoh pun semakin menyayangi Diani, malah lebih memperhatikan menantunya dari pada anaknya Arin.
"Kenapa aku seperti anak tiri dan teh Diani anak kandungnya, ibu kejam sama aku, ini tidak adil," protes Arin yang sedang mencuci piring.
"Diani kan lagi hamil, gak boleh capek-capek," jawab Bu Edoh membela menantunya.
"Terus aku boleh capek gitu karena gak hamil?" Tanya Arin kesal.
"Itu demi kebaikan kamu Arin, dengan begitu berat badan kamu turun, kamu jadi langsing dan makin cantik, iya kan Ujang?" Ucap Bu Edoh.
Ujang pun mengangguk sambil mengelus perut istrinya, Arin semakin kesal. Tapi di dalam hatinya, dia turut bahagia dan bersyukur akhirnya kakaknya bisa membina rumah tangga dengan normal, dia senang kakak iparnya kini menerima kakaknya dengan tulus. Semoga rumah tangga kalian bahagia sampai kakek nenek, batin Arin.
...TAMAT...
Kalian penasaran dengan cerita rumah tangga Arin? Nantikan novel baruku ya, tentang Arin (adik Ujang). 🥰
__ADS_1
Terimakasih untuk kalian yang setia membaca sampai akhir. Kalian sangat berarti bagi saya, karena kalian saya bisa melanjutkan novel ini hingga tamat, terima kasih atas dukungannya selama ini. 🙏🙏🙏🙏