Kejutan Dari Emak (Perjodohan)

Kejutan Dari Emak (Perjodohan)
HP Yang Rusak


__ADS_3

Diani menghubungi Fani sahabatnya, mereka saling mengenal saat bekerja di perusahaan Nandra. "Kenapa belum diangkat juga ya?" Gumam Diani, lalu dia teringat jika temannya itu sedang bekerja dan tidak mungkin mengangkat teleponnya, dia harus menunggu saat sudah siang nanti.


"Neng…, Ujang pergi ke Ladang?" Tanya emak Leha.


"Iya Mak, tadi emak Lagi di kamar mandi jadi gak keburu pamitan deh," jawab Diani.


"Pantesan tiba-tiba gak ada, Arin pasti ada disana juga, Neng sebaiknya kamu jagain suami kamu biar gak kesemsem sama Arin..!" Ucap emak Leha.


Deg


"Hmmm…, kalau Kang Ujang suka sama Arin, biarin aja Mak," jawab Diani mencoba santai.


"Neng jangan gitu ah..! Ujang kan suami sah kamu Neng, ini anterin makanan ke bapak sama Ujang ya..!" Ucap emak Leha. 


Diani pun mengambil makanan itu, dia pura-pura terpaksa melakukannya, padahal dia sekarang sedang kesal membayangkan mereka berduaan. Dia berjalan begitu cepat menuju ladang bahkan hampir saja terjatuh ke lumpur.


"Benar kata emak, aku tidak boleh membiarkan Ujang bersenang-senang dengan wanita lain. Aku tidak cemburu, hanya saja tidak mau kalau Ujang terjerumus ke dalam dosa, bukankah hanya aku yang halal untuknya?" Gumam Diani.


Diani akhirnya sampai di ladang Ujang lebih dulu, entah mengapa dia malah pergi kesana terlebih dahulu padahal ladang bapaknya lebih dekat. Tapi dia hanya melihat Ujang dan para pekerjanya, tidak ada Arin disana.


Ujang yang melihat istrinya, dia langsung berjalan menghampiri Diani. Ujang tersenyum pada Diani, dia memakai topi agar tidak kepanasan. Diani tanpa sadar membalas senyuman Ujang, dia seakan terhipnotis oleh lesung pipi itu. Astaga, kenapa aku bisa membalas tersenyumannya? Batin Diani. Wanita itu pun menunduk menyembunyikan senyuman yang terukir tadi meski sesaat.


"Neng, ada apa kemari? Katanya badan lihat wajah Akang, tapi kok sampe dicariin kemari, kangen ya? Hehe …," tanya Ujang.


"Ih, Akang GR deh, aku cuma nganterin ini, disuruh emak," jawab Diani.


"Oh, makasih ya istri Akang memang baik," jawab Ujang yang membuat Diani sedikit salah tingkah.


"Yaudah, aku mau ke ladang bapak dulu," ucap Diani.


"Tunggu Neng..!" Ucap Ujang.


Diani pun menoleh, ternyata Ujang meminta nomor ponsel Diani dan memasukkannya ke ponsel miliknya. "Udah belum Kang? Lama banget," tanya Diani kesal.


"Udah Neng, disana juga sudah ada nomor Akang, biar Neng bisa nelpon Akang kalau belum pulang? Hehe…," ucap Ujang pada Diani sambil tersenyum.

__ADS_1


"Hemm…, sebenarnya gak perlu Kang, tapi yaudah kalau sudah disimpan, aku mau ke Ladang bapak dulu," ucap Diani.


Ujang mengangguk pelan, dia juga tersenyum menampilkan senyuman termanisnya, tak lupa dia melambaikan tangannya. Dia terus memandang tubuh istrinya sampai tak terlihat lagi.


***


Setelah memberikan makanan kepada Pak Diman, Diani langsung pulang, dia tidak suka berlama-lama di ladang saat siang hari. Karena panas bisa membuat kulit putih mulus Diani menghitam.


Kini Diani sedang duduk menunggu kepulangan Ujang, entah mengapa dia merasa gelisah sebelum melihat wajah suaminya, padahal tadi siang sudah bertemu. Apa aku mulai menyukainya? Apa ini rindu? Ah kurasa tidak. Batin Diani.


"Kenapa dia belum menghubungiku? Apa perlu aku yang menelponnya lebih dulu? Jangan Diani, nanti dia mengira kamu menyukainya..!" Gumam Diani pelan.


Wanita itu menunggu dan terus menunggu, tapi ponselnya tak kunjung berdering, dia begitu kesal, dia pun mencoba menelpon Fani sahabatnya, saat sore seperti ini sahabatnya itu pasti sudah ada dirumah.


"Hallo Diani, ada apa? Bukannya kamu harusnya bulan madu, kok malah menelponku?" Tanya Fani.


"Hem…, aku menikah karena dijodohkan, mana bisa aku berbulan madu," jawab Diani.


"Jika kamu menyukainya juga, ya bisa lah, haha…," ucap Fani.


"Hahaha…, kamu lucu Diani, apanya yang rusak? Bahkan ponselmu saja masih berfungsi dengan baik bisa menelponku, kamu terlalu merindukannya, kamu kirim pesan duluan aja, kenapa harus gengsi sih?" Tanya Fani.


"Benarkah aku seperti itu? Sepertinya kamu salah paham, kami dijodohkan dan dia itu… hmm bukan tife aku banget fan…," jawab Diani.


"Yaelah, kamu gengsi berat, padahal cinta itu bisa datang untuk siapa aja dan pada siapa aja, kita gak bisa ngendaliin hati kita, sudah ah aku mau mandi baru pulang kerja, percuma juga aku kasih solusi kalau kamu gak mau ngaku suka sama suami kamu," jawab Fani.


Tut…


Panggilan itu ditutup oleh Fani secara sepihak, dia kesal dengan sahabatnya yang tak mau mengaku cinta itu.


Sementara Diani kesal karena sahabatnya seolah tak mau mendengarkan curhatan dirinya. Menyebalkan deh, padahal aku belum selesai bercerita, batin Diani.


***


Kini sudah pukul 8 malam tapi Ujang belum terlihat juga, Diani mondar-mandir dari kamar lalu pergi ke depan pintu, terus seperti itu membuat emak Leha menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


Alhamdulillah kalau neng Ani sudah mulai menerima Ujang, batin emak Leha.


"Neng kenapa gak di telpon aja atuh..! Kalau gak punya nomor hpnya, ini di emak ada Neng," ucap Mak Leha menghampiri Diani yang ada di depan pintu.


"Apa Mak? Aku lagi nyari sinyal aja Mak, mau nelpon teman di kota," jawab Diani sambil mengangkat hp nya ke atas.


"Sinyal disini bagus ko Neng, mana coba emak lihat..!" Ucap emak Leha.


"Gak usah Mak, nanti aja nelpon temennya, hehe…," jawab Diani berbohong. Dia Pun duduk sambil menikmati secangkir teh hangat dan juga biskuit sambil sesekali melihat layar ponselnya yang tak kunjung berdering.


Kemana dulu sih Ujang, apa ke rumah Arin lagi? Batin Diani.


Tok


Tok


Tok


"Assalamu'alaikum…," ucap seseorang lelaki yang ada dibalik pintu.


Deg


Diani merasa kaget, dia berharap itu Ujang, tapi karena tidak mau dianggap telah menunggu seharian, dia pun memilih pergi ke kamarnya sambil berlari.


"Neng ko malah lari, bukannya dibukain?" Teriak mak Leha, kemudian dia tersenyum. Mak Leha membuka pintu dan menjawab salam dari Ujang.


Ujang mengecup punggung tangan ibu mertuanya, dia duduk dan menikmati secangkir teh hangat yang dibuat Diani yang masih utuh diatas meja.


"Ujang, Emak rasa kita berhasil, Diani tadi nungguin kamu seharian," bisik emak Leha.


"Yang benar Mak?" Tanya Ujang tersenyum senang.


Mak Leha mengangguk pelan.


Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2