Kejutan Dari Emak (Perjodohan)

Kejutan Dari Emak (Perjodohan)
Pengakuan Diani


__ADS_3

"Pokoknya perkataan ku yang kasar Kang, kan banyak," jawab Diani.


"Hmm… Akang sudah memaafkan Neng Ani kok, Akang sadar diri kalau selama ini pernikahan kita tanpa proses pengenalan, jadi Akang memaklumi semua rasa kesal Neng yang gak terima dengan pernikahan ini. Mungkin ini prosesnya, dan Akang akan selalu berusaha menjadi suami terbaik," jawab Ujang.


Ah, kenapa dia sebijak itu? Beda banget sama pemikiran aku yang egois dan kekanak-kanakan, aku jadi malu sendiri dan semakin yakin untuk melanjutkan hubungan ini, batin Diani.


"Makasih Kang, Akang udah ngertiin aku selama ini. Gak pernah marah karena sikap aku yang terkadang keterlaluan, bisakah Akang memberikan aku kesempatan?" Tanya Diani.


"Kesempatan seperti apa Neng?" Tanya Ujang.


"Kesempatan untuk menjadi istri yang baik," jawab Diani malu-malu, dia menunduk dan berbicara sangat pelan tapi masih bisa didengar.


"Beneran Neng? Neng mau membuka hati Neng buat Akang?" Tanya Ujang, bahkan kini dia berlutut didepan Diani yang sedang duduk ditepi ranjang.


Diani mengangguk pelan, Ujang meraih tangan kanan Diani dengan perlahan. Mencium punggung tangan istrinya itu dengan lembut.


Deg!


"Makasih ya Neng, kita mulai dari awal..!" Ujang mendongakkan kepalanya sambil tersenyum, hingga terlihat lesung pipi yang membuat lelaki itu semakin mempesona.


Dia terlihat lebih manis dari biasanya, ah… kenapa hari ini Ujang bahkan terlihat 100 kali lipat lebih tampan? Batin Diani.


Jantung Diani berdetak tak karuan, dia begitu senang malam ini. Sudah mendapat kejutan ditambah pada akhirnya hatinya juga merasa lega karena bisa mengungkapkan keinginannya pada suaminya.


Malam itu mereka terlihat canggung, Ujang yang baru selesai dari kamar mandi, dia bergegas karena ingin tidur. Tapi dia merasa bingung, haruskah dia tidur dikarpet lagi atau tidur disamping istrinya.


Lelaki itu pun mendekati istrinya yang sedang memainkan ponsel. "Neng, apa Akang boleh tidur disini?" Tanya Ujang.


Diani menoleh, dia langsung bangkit dan duduk. "Boleh Kang," jawab Diani. Wanita itu langsung menggeser tubuhnya, berpindah ke sisi sebelah sana. Meski canggung, Diani berpura-pura fokus pada ponselnya dan mulai berbaring.

__ADS_1


Kini mereka tidur bersama dan saling berhadapan, tapi karena Diani malu, dia memejamkan matanya dan pura-pura tidur. Ujang menatap lekat wajah Diani, dia menyelipkan anak rambut ke telinga Diani. Membelai rambut istrinya dengan sangat pelan karena takut jika malah mengganggu mimpi malam istrinya.


"Selamat tidur Neng," ucap Ujang pelan. Dia menggenggam tangan Diani, berniat menggenggam tangan lembut istrinya itu sampai pagi.


***


Saat pagi datang wajah sepasang suami istri itu lebih cerah. Mereka saling melempar senyum tapi terlihat canggung dan malu-malu. Arin dan Bu Edoh pun yang sedari tadi memperhatikan mereka, kini saling memandang satu sama lain, mereka mengangkat kedua bahu mereka secara bersamaan.


"Bu, mereka kenapa, kok kaya anak ABG gitu sih?" Bisik Arin ditelinga ibunya.


"Ibu juga gak tahu, tapi sepertinya hubungan mereka sudah lebih baik. Daripada kemarin saling kaku, iya kan?" jawab Bu Edoh.


Arin mengangguk kecil, dia melihat Diani menuangkan air minum untuk Ujang, menata lauk pauk dipiring Ujang dengan canggung tapi ada senyuman yang menghiasi wajah kakak iparnya itu sedari tadi. Bahkan tak bisa Arinemghitung seberapa banyak Diani tersenyum pagi ini.


Mungkin ibu benar, berarti rencana aku dan ibu berhasil dong, yes… batin Arin.


"Disini aja Kang..!" Ucap Diani.


"Iya Neng," jawab Ujang.


Dia memberhentikan laju mobilnya, Diani yang hendak turun malah diam karena panggilan lembut Ujang. "Neng …"


Deg!


Apa dia mau cipika cipiki dulu ya? Batin Diani.


Diani menoleh dengan perasaan yang cukup membuatnya tegang. Dia menatap Ujang dan malah memejamkan mata, berharap Ujang melakukan sesuatu padanya, yang bisa membuat adanya denyutan dihatinya.


"Neng masih ngantuk ya, ko malah merem?" Tanya Ujang.

__ADS_1


Sontak Diani membulatkan matanya saat mendengarkan pertanyaan konyol itu. Hahaha… aku bukannya tidur, tapi menunggu diapa-apain, oh astaga pikiranmu Diani! Ini masih pagi. kenapa aku berpikir sejauh itu saat dengannya? batin Diani.


"Gak ko Kang, aku kerja dulu ya?" Ucap Diani.


"Iya," jawab Ujang sambil mengulurkan tangannya. Tapi Diani yang sepertinya masih belum sepenuhnya sadar, dia merasa heran. Untuk apa dia mengulurkan tangan begitu? Batin Diani.


"Salim dulu Neng..!" Ucap Ujang memecahkan lamunan Diani. Wanita itu bergegas mencium punggung tangan suaminya dan tak lupa salam, dia turun dengan terburu-buru. Dia tidak mau melakukan banyak hal konyol lagi didepan ujang, dia berjalan dengan cepat sampai dia menabrak seseorang.


"Aduh…," keluh Fani.


"Eh, sorry fan. Gue gak senagaja, ayo kita masuk!" Ucap Diani yang langsung menggandeng sahabatnya itu.


"Kamu kenapa sih? Masa masih pergi begini dikejar hantu," tanya Fani.


"Ih, aku cuma gak mau terlambat aja," jawab Diani.


Mereka pun bergegas masuk dan berbincang terlebih dahulu sebelum jam kerja dimulai. Ditemani cemilan yang dibawa Fani, mereka asyik bergosip. Wanita kalau ngobrol memang suka belok gitu, malah jadi ngomongin orang. Ups


***


Tak terasa jam kerja telah usai. Diani pulang begitu terburu-buru, untuk pertama kalinya dia ingin cepat pulang karena hanya ingin melihat wajah suaminya. Lucu bukan?


Diani berjalan berdampingan dengan Fani, sahabatnya itu melihat ada lelaki yang sedang berdiri disamping mobil hitam.


"Diani, itu Ujang kan? Cie mobilnya baru nih, gak pake mobil yang biasa ngankut sayuran lagi nih? Eh… dia bawa buket bunga juga loh, so sweet… suami Lo romantis banget, manis pula. Buat aku aja lah kalau terus kamu anggurin gitu, boleh kan?" Tanya Fani.


Deg!


Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2