Kejutan Dari Emak (Perjodohan)

Kejutan Dari Emak (Perjodohan)
Pingsan


__ADS_3

Saat wahana itu mulai bergerak, Diani yang sebenarnya berani. Dia berpura-pura takut, dia baru saja ingin menjerit dan memeluk Ujang. Tapi Diani kini malah membuka mulutnya, dia tidak jadi berteriak karena merasakan dirinya dipeluk sangat erat bahkan sampai sulit untuk bernafas.


"Aaahhhh…, Neng Akang takut. Ini Kapan berhentinya?" Teriak Ujang.


Diani menatap Ujang dengan malas, dia merasa telah gagal dengan rencana awal yang dia buat. Tapi… mau meluk ataupun dipekluk, bukankah itu sama saja? Yasudah… nikmati saja Diani! Meski rasanya badanku remuk karena dipeluk terlalu keras, batin Diani.


Jelas berbeda jika Diani yang berpura-pura takut dan memeluk Ujang. Itu akan terlihat romantis, sementara sekarang, Diani merasa senang sekaligus sakit, orang-orang juga sekarang memperhatikan mereka, wanita itu sedikit risih dan tak nyaman diperhatikan banyak orang.


"Masih lama Kang, kita kan baru saja naik. Kenapa Akang gak bilang dari tadi kalau takut!" Jawab Diani.


Sebelumnya memang Diani sedikit kesal pada suaminya itu, tapi saat melihat Ujang benar-benar takut dan berkeringat. Diani menjadi merasa kasihan sekaligus merasa bersalah, Ujang mungkin malu mengatakan takut dihadapan istrinya, tapi sebelumnya Ujang memang sempat menolak dan menyuruh Diani naik wahana lain. Sepertinya aku juga salah, seharusnya aku peka kalau Ujang tidak mau naik wahana ini, batin Diani.


Diani pun membalas pelukan Ujang yang sedang ketakutan. Dia menepuk-nepuk pundak Ujang perlahan namun terus menerus agar Ujang lebih tenang. Lelaki bertubuh besar ini, kini berubah menjadi seperti anak kecil yang sedang meringkuk karena takut.


Diani gelisah memandang Ujang dan sesekali memandang langit malam. Berharap permainan ini segera berakhir. Dia tak mau kalau suaminya sampai mabuk dan muntah ditempat.


***


"Syukurlah, Akang masih kuat?" Tanya Diani.

__ADS_1


Mereka sudah turun dari wahana itu, Ujang yang lemas bahkan berpegangan erat pada Diani. Kepalanya mulai pusing dan Ujang pun ambruk, kepala Ujang kini berada diatas paha Diani. Untung saja posisi mereka sekarang telah menemukan tempat duduk. kalau tidak, pasti Diani tidak akan sanggup menahan badan Ujang yang berat.


"Kang, bangun Kang! Jangan bercanda deh, ini gak lucu tahu," keluh Diani. Wanita itu menepuk-nepuk pipi suaminya berharap Ujang hanya ngeprank saja.


"Aduh, ini beneran pingsan? Terus yang bawa mobil siapa? Ibu sama Arin belum datang lagi," gumam Diani dengan wajah panik. Untunglah ada beberapa pengunjung yang peduli dan memberikan pertolongan. Ada yang mengoleskan minyak angin dan ada yang memberikan air putih untuk cadangan menyadarkan Ujang jika belum sadar juga.


"Masih belum bangun juga, apa aku beneran harus menyiramnya agar bangun?" Gumam Diani lagi.


"Coba aja, siapa tahu bangun!" jawab salah satu dari mereka. Ornag-ornag yang sedang mengerumuni mereka.


"Jangan, nanti malah masuk angin. Tunggu aja sebentar lagi, kalau masih belum sadar, bawa aja ke klinik terdekat!" Ucap yang lainnya.


"Teh, A Ujang kenapa?" Tanah Arin yang baru saja datang.


"Gak tahu, tadi sih naik kora-kora. Kayaknya ketakutan terus pingsan," jawab Diani.


"Astagfirullah, yaudah teh kita pulang," ajak Arin.


Ujang dibawa oleh beberapa orang agar bisa masuk ke dalam mobil. Mereka pun pulang, mobil dikendarai oleh Arin, Diani pun tidak menyangka kalau Arin mahir mengendarai roda empat.

__ADS_1


Mereka sepakat untuk membawa Ujang kembali ke rumah, karena memang kejadian ini sempat terjadi dan Arin tahu kalau kakaknya akan sadar kembali. Bu Edoh yang cemas, dia tidak bertanya apapun pada Diani. Seperti memusuhi Diani lagi, membuat istri Ujang itu merasa tidak enak hati.


Memang semua ini salahku, padahal sudah nyaman dengan sikap ibu yang baik. Eh malah kembali ke mode judes, jutek gitu, batin Diani.


Saat sampai di gerbang rumah. Arin meminta beberapa tetangga untuk membantu mengangkat tubuh Ujang, kemudian membaringkannya di kamar. Saat ini Ujang sudah berselimut tebal, matanya kini telah terbuka.


"Apa yang Akang rasain, masih pusing? Mau teh manis hangat?" Tanya Diani.


"Hmm, biar ibu saja. Kamu selalu bikin masalah untuk anakku. Padahal kurang baik apa dia sama kamu," Ucap Bu Edoh.


Perkataan yang sungguh menyakitkan hati Diani, wanita itu juga tidak mau membuat suaminya sakit. Dia memang benar-benar tidak tahu kalau pada akhirnya akan jadi seperti ini.


"Ibu, kasihan teh Ani. Lagian bukan sepenuhnya salah teh Ani juga," ucap Arin membela kakak iparnya itu.


Bahkan kini ibu dan anak itu bertengkar gara-gara aku, Diani… Diani… kamu selalu membuat masalah, batin Diani.


wanita itu kini merasa buruk, selama ini dia selalu menyusahkan Ujang. Diani merasa tidak pantas untuk Ujang.


Apa aku sebaiknya mundur saja ya? sepertinya Ujang akan menemukan wanita yang lebih baik dari aku, jauh lebih segala-galanya. Aku akui aku buruk, aku egois, kadang kasar, tidak selembut Ujang. akupun ahh... banyak sekali kekurangan dan kesalahanku ini, batin Diani.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2