
Diani mengabaikan mereka tanpa membalas satu kata pun. Dia malas karena perdebatan tiada ujungnya itu pasti berakhir saling menjambak, dan tentunya dia terancam dipecat. Dia tidak ingin melakukan hal yang memalukan lagi dan viral lagi.
"Cemen banget sih, hahaha…," celetuk Cindy saat melihat Diani yang berlalu pergi bersama Fani.
Fani merangkul Diani dan berjalan menjauh dari kerumunan itu. Dia mencoba menenangkan sahabatnya. Kini mereka duduk di ruangan Diani, memang Diani diangkat menjadi sekretaris Pak Nandra baru 5 bulan ini. Membuat dia semakin bersemangat bekerja karena kenaikan gajinya.
"Sabar…! Kamu harus bisa menahan emosi kamu, kenapa kamu gak berhenti kerja saja sih?, kan enak udah nikah ada yang biayai," tanya Fani.
"Gak, aku merasa gak berhak aja menerima uang dari Ujang sementara hati ini belum bisa menerimanya. Terlalu kejam jika aku hanya memanfaatkan kebaikannya saja. Aku menunggu sampai hati ini benar-benar yakin," jawab Diani.
"Iya sih kamu benar juga, kamu sebaiknya mulai membuka hati buat dia..! Bukannya penampilan bisa diubah, kamu bisa membuat Ujang berpenampilan keren seperti lelaki yang menjadi tife kamu, " Ucap Fani.
"Hmm…, beda lah Fan, tetap aja cara berjalannya, cara melirik, cara berbicara dia tuh ya begitu, susah diubah karena kebiasaan," jawab Fani.
"Susah ngomong sama kamu, sebaiknya kamu pikirkanlah dulu, apa kamu bisa menemukan lelaki lain yang sama tulusnya kaya Ujang?" Tanya Fani lalu bergegas keluar ruangan, dia kesal dengan sikap Diani yang keras kepala.
Diani pun sama halnya dengan Fani yang merasa kesal. Memangnya dia tahu rasanya jadi aku? So nasehatin segala, batin Diani.
***
__ADS_1
Saat istirahat tiba, Diani makan sendirian. Dia meninggalkan Fani dan lebih dulu makan karena masih kesal. Dia makan di kantin perusahaan karena sedang tidak ada teman untuk mencari makanan di luar gedung. Tapi suasana kantin terasa berbeda hari ini bagi wanita itu. Seolah dia sedang diawasi beberapa pasang mata. Menyebalkan, mereka pasti masih mengingat video waktu itu, batin Diani.
"Hmmm, kasihan sekali sih kamu, udah gak ada temen ya? Hahaha…, dan kamu sudah bikin Kak Nandra juga ilfeel sama kamu, dia akan jadi milikku," ucap Sesil yang sengaja berjalan melewati meja Diani.
"Gak usah ngurusin hidup orang lain deh! Emangnya pak Nandra mau sama cewek kaya kamu, aku yakin dia gak akan memilih kamu meski didunia ini cuma ada satu cewek dan itu kamu, ffttt…," ucap Diani mengejek Sesil, dia bahkan menahan tawanya.
"Liat aja nanti, aku akan mengirim surat undangannya. Dan setelah itu aku pastikan kamu akan dipecat," ancam Sesil.
"Iya terserah, itu halu tingkat tinggi," jawab Diani kemudian bangkit meninggalkan mejanya. Tapi Sesil dengan sengaja membuat Diani terjatuh dengan menghalangi jalannya dengan kakinya.
"Hahahaha…," Sesil tertawa puas.
Diani yang muak, dia memilih pergi karena tidak akan ada habisnya jika menghadapi wanita itu. Ingat Diani, ini wilayah kantor! Hari ini kamu cukup beruntung Sesil, batin Diani sambil mengepalkan tangannya.
Hari ini begitu melelahkan bagi Diani, jiwanya juga lelah. Ingin rasanya dia berhenti bekerja, tapi dia masih butuh biaya hidup. Dia sudah tidak nyaman di perusahaan itu, tapi dia juga tidak mau kalau harus menjadi istri Ujang yang penurut. Wanita itu merebahkan diri diatas ranjang setelah menempuh perjalanan pulang, hingga akhirnya terlelap.
***
Saat malam tiba, Diani duduk di teras kontrakannya. Menikmati angin malam dan dia teringat suasana kampung. Apa aku coba hubungi Ujang ya? Apa dia masih sakit? Hmm… gak, jangan buat Ujang berharap lebih! Batin Diani.
__ADS_1
Diani menyimpan kembali ponselnya. Dia mendapati ada pesan masuk, ada sedikit raut wajah kecewa yang terlihat, dia kira orang yang ditunggu yang mengirim pesan. Nomor ponsel yang tak dikenal yang mengirimkan pesan singkat.
(Boleh kenalan gak?)
(Apaan sih, tahu nomor aku dari siapa?) Diani
(Sepertinya salah sambung deh, maaf ya…? Aku Gery, kamu siapa? Tak kenal maka tak sayang loh, hehe)
(Yaudah kalau salah sambung, gak usah diterusin! Bye) Diani.
Tapi Gery malah menelpon nomor ponsel Diani, membuat Diani semakin kesal.
"Apa aku sedang di zaman dulu, dimana ada orang yang salah sambung lah, ngacak nomor lah, dan berharap bisa berjodoh, Haha lucu sekali…," guamam Diani.
Wanita itu mengabaikan panggilan tersebut. Tapi ponsel itu berdering lagi, lagi dan lagi.
"Tolong ya jangan ganggu aku lagi!" Bentak Diani. Kemudian dia mematikan panggilan itu. Sesaat dia melihat nama Suamiku di layar ponselnya.
"Astaga, apa yang tadi menelpon itu Ujang?" Gumam Diani lalu memeriksa riwayat panggilannya sambil menutup matanya dengan sebelah tangannya, mengintip disela-sela jari yang sedikit terbuka.
__ADS_1
Bersambung …