
Selama dalam perjalanan, Diani tampak diam. Dia benar-benar dibuat kesal oleh Ujang, tapi dia tidak mau jika membatalkan acara ini mengingat dia tidak punya baju couple untuk ke acara pernikahan temannya yang bernama Indri.
Sesampainya di mall, Diani berjalan lebih dulu sementara Ujang mengikutinya dari belakang. Mereka terlihat seperti majikan dan pengawal daripada sepasang suami istri.
"Neng, pelan-pelan atuh jalannya, mallnya gak akan tutup sekarang kok," ucap Ujang sedikit keras karena jarak mereka yang lumayan jauh.
Diani berhenti seketika mendengar apa yang diucapkan suaminya. Ujang yang tidak mengira jika istrinya melakukan rem mendadak, membuatnya kini menabrak punggung istrinya.
"Aduh maaf Neng, Akang gak sengaja," ucap Ujang.
Diani berbalik, "gapapa Kang, ayo cepetan jalannya Kang, aku mau cepet-cepet pulang bukannya takut keburu tutup," protes Diani.
"Oh, jalannya bareng dong Neng, kan jadi romantis gitu, hehe... Kalau mau nyari baju yang bagus, kita harus jalan pelan atuh Neng, diliat dulu satu-satu, di cek di sini ada apa enggak..!" Ucap Ujang.
Diani pun membenarkan ucapan Ujang dalam hatinya. "Yaudah ayo Kang, akang lihat ke kanan dan aku ke kiri. Kalau ada toko baju yang terlihat bagus-bagus bajunya kita mampir dulu..!" Ucap Diani.
"Siap Neng," jawab Ujang.
Mereka pun berjalan bersama, tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan. Diani menghentikan langkahnya, "maaf Neng, gak sengaja, hehe…" ucap Ujang.
__ADS_1
Diani pun tak menjawab, dia hanya memalingkan wajahnya seolah dia kesal dan tak peduli dengan permintaan maaf itu. Tapi berbanding terbalik dengan hatinya, dia merasa senang saja tangannya tersentuh karena berhasil membuat debaran aneh pada jantungnya. Dia merasa grogi sama seperti saat dipanggil pak guru ke depan kelas, dag dig dug gitu.
Mereka yang membagi tugas melihat arah masing-masing itu tidak menemukan toko pakaian, leher mereka yang melihat hanya kesatu arah dan membuat leher mereka terus melihat ke samping, kini leher mereka terasa sedikit pegal. Diani dan Ujang kini saling menoleh ke arah yang berlawanan secara bersamaan sehingga tatapan mereka saling beradu.
Mereka sempat lupa dengan apa yang akan mereka katakan, mereka mengedipkan mata berkali-kali hingga mereka akhirnya sadar.
"Tidak ada toko baju disini," ucap mereka dengan kompak.
"Hahaha…," mereka kini tertawa karena merasa lucu dengan tingkah mereka sendiri.
"Oh iya Kang, aku baru ingat kalau toko baju kan bukan di lantai ini," ucap Diani. Kenapa aku mendadak lemot ya jalan sama Ujang, malu-maluin deh, batin Diani.
Mereka pun mencari ke lantai atas, Ujang yang sudah pernah naik eskalator dan lift bersama Siska. Dia bersikap biasa saja dan tidak membuat Diani malu. Awalnya Diani sempat khawatir, tapi kini dia bisa bernafas lega. Penampilan Ujang juga mulai menarik perhatian beberapa wanita, justru itu membuat Diani kesal bukan merasa bangga karena Ujang telah berubah.
Serba salah ya? Kalau norak, aku yang malu. Kalau begini aku juga yang repot. Gedek mulu ini hati, pengen tak congkel mata perempuan yang mengedipkan matanya sama Ujang, ganjen bener deh, gak tahu apa dia sudah beristri. Ini istrinya? Kalian gak lihat! Batin Diani.
"Neng, kenapa malah diem. Matanya juga melotot gitu. Memangnya mereka musuh Neng ya?" Tanah Ujang pada Diani.
Ya… Diani tanpa sadar mengeluarkan ekspresi sesuai dengan apa yang hatinya rasakan. "Hmm…, masa sih Kang? Aku gak melotot kok. Ayo cari lagi Kang, terus cari makan deh, aku laper…," jawab Diani.
__ADS_1
***
Dua hari berlalu, hari ini Diani libur dan Ujang menyempatkan waktu untuk menemani istrinya pergi ke pesta pernikahan Indri.
Sekitar pukul 9, Diani sudah bercermin dan memperhatikan riasannya yang dirasa kurang pas, serasa ada yang kurang. Sementara Ujang menunggu diruang tamu sudah hampir satu jam.
"Apa yang dipakai Neng Ani, kok lama banget? Kayak ibu Ujang aja dandannya lama, tapi pas keluar sama aja kok gitu-gitu aja, masih ibunya Ujang, gak jadi mirip Luna Maya," gumam Ujang.
Terlihat Diani keluar dari kamar dan langsung duduk disamping Ujang, dia mendekatkan wajahnya pada wajah Ujang, lalu memegang kedua pipinya dengan kedua tangan Diani agar tatapan Ujang lurus pada wajah Diani. "Kang, lihat deh, bedak aku kayaknya gak rata deh, ngecrack gitu, iya kan?" Tanya Diani.
Alih-alih menjawab pertanyaan Diani yang tidak dimengerti Ujang, dia malah fokus dengan mata Diani. Karena terlalu dekat, Ujang bisa merasakan hembusan nafas yang hangat dari hidung istrinya. Ujang malah bengong karena mendadak istrinya itu mendekat.
"Akang…!" Teriak Diani, dia pun berdiri tegak.
"Apa Neng? Akang gak ngerti make up. Tapi Neng udah cantik kok," jawab Ujang dengan jujur.
"Akang Mah bohong, sudah tahu ini bedak nge crack," jawab Diani berlalu menuju kamarnya.
Ujang bengong, dia merasa tidak salah menjawab pertanyaan istrinya itu. "Kalau dia tahu, kenapa masih nanya sama aku yang jelas-jelas gak ngerti mau bedak ngekrek atau bedak ngekrok? Kenapa wanita begitu sulit dimengerti? Emak… tolong Ujang..!" Gumamnya pelan. Ujang merasa frustasi, apalagi harus menunggu lagi Diani merapikan lagi riasannya.
__ADS_1
Bersambung….