Kejutan Dari Emak (Perjodohan)

Kejutan Dari Emak (Perjodohan)
Kekonyolan Diani


__ADS_3

Setelah lama menunggu akhirnya Ujang bernafas lega saat melihat istrinya sudah keluar kamar dan siap untuk pergi. Kali ini Diani tidak menanyakan apapun mengenai riasan di wajahnya, dia yakin kali ini wajahnya sudah dirias dengan sempurna.


Perjalanan ditempuh sekitar 15 menit, Diani turun dengan anggunnya. Dia berdiri sebentar sebelum memasuki gedung pernikahan. Dia menoleh pada suaminya "kang, apa aku sudah terlihat cantik?".


"Dari dulu Neng Ani kan udah cantik," jawab Ujang.


"Bukan itu maksudku Kang, tapi make up aku udah bagus dan aku sudah tampil memukau kan?" Tanya Diani dengan nada kesal.


"Pokoknya neng Ani udah cantik banget deh," jawab Ujang.


Diani yang bertambah kesal dengan jawaban Ujang, dia memilih diam sekarang. Dia berjalan menuju gedung dengan memberikan undangan untuk Askes masuk. Ujang mengikuti istrinya dari arah belakang.


Terlihat banyak orang yang menggandeng tangan pasangannya. Diani berharap Ujang melakukan itu, tapi mengingat Ujang yang tidak peka Diani berusaha mengatakannya meski bingung.


"Kang, lihat deh… banyak yang gandengan. Romantis ya?" Tanya Diani.


"Hmm, iya neng. Apalagi yang itu neng gandengan sama anaknya, terlihat seperti keluarga yang bahagia," jawab Ujang.


Kenapa malah membahas yang lain? Dia benar-benar tidak peka, apa aku harus mengatakan kalau aku ingin bergandengan dengannya? Haish… gengsi dong, batin Diani.


Diani yang kesal, dia pun pergi berjalan ke depan tanpa menoleh ke belakang, dia yakin Ujang akan mengikutinya dari belakang sudah seperti pengawalnya saja.


Namun, Diani mendadak kaget. Dia melihat ada tangan kekar yang menarik tangannya, melingkarkan tangan Diani di lengan atas orang itu. Siapa yang berani kurang ajar begini padaku? Batin Diani.


Diani ingin menarik paksa lengannya, tapi wanita itu mengurungkan niatnya saat dia mendongakkan kepalanya, dia melihat wajah dengan dua lesung pipi.


"Akang…," panggil Diani.


"Gapapa kan Neng? Biar romantis," ucap Ujang.

__ADS_1


Diani diam sejenak kemudian dia mengangguk pelan, Diani merasa senang dan hatinya berbunga-bunga. Jika dia tidak malu, mungkin dia sudah jingkrak-jingkrak kegirangan. Sebisa mungkin wanita itu menutupi rasa itu, dia malah memperlihatkan wajahnya yang cuek lagi meski langkah kakinya kini seiringan dengan suaminya.


Ujang yang memakai batik yang serasi dengan Diani membuat orang yang melihat tentu bisa menebak jika mereka sepasang kekasih atau sepasang suami istri. Ujang yang senang, dia ingin momen itu tidak akan berakhir.


Mereka berdua kompak naik ke pelaminan, memberi selamat pada Indri dan suaminya.


"Selamat ya, semoga menjadi keluarga yang sakinah, aamiin…," ucap Diani.


"Sakinah, mawadah, warahmah… aamiin," jawab Indri sambil tersenyum.


"Iya, maksudku begitu, hehe…," ucap Diani.


"Ini suamimu Diani?" Tanya Indri.


"Iya…," jawab Diani dengan sedikit malu-malu.


Diani kaget karena tak menyangka Indri akan menggodanya seperti itu, dia membayangkan wajahnya yang memerah seperti apa yang dikatakan Indri. Diani bergegas turun dari sana, mencari tempat yang lumayan pojok lalu dia mengambil cermin kecil di dalam tas.


"Mana? Wajahku biasa saja kok, Indri memang menyebalkan," gumam Diani sambil menatap cermin dan melihat riasannya yang masih rapi. Wajahnya juga tidak berubah.


"Udah cantik Neng. Neng bisa kok ngaca di mata Akang biar gak usah ngeluarin cermin," ucap Ujang yang tiba-tiba dibelakang Diani. Ujang bahkan ikut menengok ke arah cermin, membuat wajahnya sedikit menunduk, wajah itu kini berada diatas bahu Diani membuat wanita itu kaget bukan main.


"Astaghfirullohhal Adzim…, akang kebiasaan deh. Ngagetin aja," keluh Diani yang memang benar-benar kaget.


"Maaf Neng, oh iya Neng… akang mau bilang sesuatu," ucap Ujang.


"Bilang aja Kang..!" Jawab Diani.


"Akang malu, Akang bisikkan ya?" Tanya Ujang.

__ADS_1


Sontak Diani kaget, apa Ujang mau mengatakan cintanya disini? Oh astaga… batin Diani.


Diani tidak menjawab dan malah melamun, Ujang pun membisikan sesuatu ditelinga Diani tanpa mendengar jawaban dari istrinya itu.


"Akang lapar Neng…," keluh Ujang.


Seketika Diani merasa kecewa, dia juga merasa bodoh karena menganggap Ujang mau menyatakan perasaannya, padahal Diani sudah menyiapkan jawabannya. Dulu memang Ujang terangan-terangan mengatakan cinta pada Diani, memohon Diani mau berusaha menerimanya , tapi itu sebelum Ujang menguping pembicaraan nya dengan Fani.


Diani mengambil nafas panjang dan membuangnya perlahan, "yaudah ayo Kang..!" Ajak Diani dengan lembut dan tersenyum, padahal hatinya sedang kesal.


***


Diperjalanan pulang, Diani diam membayangkan kejadian sebelum mereka pulang. Ya… ternyata banyak teman Diani yang memuji Ujang, mengatakan jika Ujang memiliki badan yang bagus dan wajahnya juga manis dengan dua lesung pipi.


Sikapnya yang ramah dan lembut menambah nilai plus untuk Ujang. Diani hanya menyesal baru menyadari itu semua setelah dia dengan lantang mengatakan kalau Ujang itu kuno dan bukan tipenya.


Diani terlampau malu jika dia mengatakan lebih dulu perasaan yang kini mulai bersemi untuk Ujang. Diani hanya menunggu kesempatan kedua, dimana Ujang mau memperjuangkannya lagi dan mengungkapkan perasaanya.


"Neng Ani kenapa? Apa Akang bikin salah lagi? Apa Neng malu udah ngajakin Akang ke acara nikahan temen Neng?" Tanya Ujang.


"Hmm… gak ko Kang, masih lama gak Kang, aku udah ngantuk?" Tanya Diani.


"Tidur aja Neng, nanti Akang bangunin..!" Jawab Ujang.


Diani pun memejamkan matanya, meski dia tidak mengantuk. Dia ingin merenungi kesalahannya selama ini, dimana dia sangat tidak menghargai Ujang. Mungkin inilah hukuman untuknya, merasakan cinta yang datang terlambat.


Sepertinya kali ini aku yang harus berjuang, seperti dulu Ujang yang memperjuangkan aku, tapi aku malah … ,batin Diani


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2