Kejutan Dari Emak (Perjodohan)

Kejutan Dari Emak (Perjodohan)
Siapa Dia?


__ADS_3

Pagi itu Diani melihat ibunya yang keluar dari kamar, dia menghampiri dan mencoba mengobrol, dia ingin mendapatkan maaf dari sang ibu. "Mak, kita bikin pisang goreng yuk..! Nanti kita berikan ke bapak, kita anterin ke ladang, kan enak tuh Mak," ucap Diani.


"Hayu Neng, emak juga lagi bosan gak ada kerjaan, kalau ke ladang untuk kerja dari pagi sampai sore takut sakit lagi, kalau cuma anterin makanan sepertinya Emak gak akan kenapa-kenapa," jawab Leha menyetujui apa yang diinginkan anak perempuannya itu.


Diani tampak diam sejenak, meski sedikit merasa bingung dengan sikap ibunya yang berubah drastis, tapi Diani lebih suka ibunya yang seperti ini, kembali seperti biasanya sehingga dia tidak mau bertanya lebih lanjut alasan apa yang membuat ibunya kemarin begitu marah padanya.


Setelah selesai menggoreng, pisang goreng itu malah dimakan oleh Mak Leha dan Diani berdua di teras rumah pagi itu ditemani teh manis hangat. Mak Leha sepertinya ingin menginterogasi anak perempuannya itu.


"Neng, ke Ladangnya nanti aja ya siang, kita bawa minuman segar, bawa rujak juga, enak tuh Neng..!" Ucap Leha.


"Iya, gimana Emak aja, aku ngikut deh…," jawab Diani, dia terus mengunyah pisang goreng yang masih hangat dan pisangnya juga manis karena memang pisang yang sudah matang.


"Neng gak balik lagi ke kota? Gimana kerjaan disana?" Tanya Leha.


"Emak gak usah khawatir, aku cuti selama seminggu, mau nemenin Emak aja biar cepet sembuh, hehe…," jawab Diani.


"Padahal Emak udah sembuh Neng, hmmm… masalah Ujang maafin Emak ya yang ternyata salah memilih suami, Emak kira kamu masih suka, tapi sepertinya ini sudah jodoh dari Allah Neng, sebaiknya Neng mencoba menjalaninya dulu dengan ikhlas, bukannya Ujang baik Neng? Jika memang pernikahan ini bikin Neng tersiksa, Neng bisa bicarakan baik-baik sama Ujang, jangan malah…," ucap Emak Leha yang tidak mau meneruskan ucapannya, dia tidak mau mengatai anaknya sendiri tukanh selingkuh atau semacamnya seperti hujatan orang lain di media sosial.


"Iya Emak, aku gak pernah nyalahin Emak, mungkin ini memang takdir, hanya aku saja yang belum bisa menerimanya, mungkin butuh waktu," jawab Diani.


Emak menganggukan kepalanya, dia berpesan untuk tidak melakukan hal yang akan membuat Diani berdosa, ibunya juga berpesan agar Diani melakukan kewajibannya sebagai istri, melayani suaminya dengan baik, menghargai Ujang, menghormatinya meski bukan suami pilihan diani.

__ADS_1


"Iya, Diani akan berusaha Mak," jawab Diani.


"Sebaiknya Neng beri waktu Ujang beberapa Minggu, kalau Neng masih tidak suka maka Neng bisa langsung terus terang dan meminta berpisah..!" Ucap Emak Leha memberi saran.


Diani seketika diam, dia sepertinya memang perlu waktu dan memberi batas waktu itu sampai kapan agar semuanya jelas. Dia tidak mau semakin membuat dirinya ataupun Ujang terluka dalam pernikahan ini.


***


Saat siang tiba, mereka pun pergi ke Ladang untuk memberikan minuman segar, mereka terlebih dahulu menuju ladang Pak Diman, mereka duduk di saung dekat ladang, tempat dimana para petani beristirahat. Saung itu terbuat dari kayu menyerupai rumah kecil atau gubug untuk berteduh. Suasana pedesaan memang sangatlah membuat mata Diani serasa dimanjakan, sepanjang mata memandang dia melihat hamparan padi berwarna hijau yang belum saatnya dipanen, dia juga melihat banyak Ladang dengan tanaman sayuran hijau.


"Neng, anterin ini ke Ladang Ujang dulu ya..!" Ucap Mak Leha.


"Iya Pak," jawab Diani berlalu pergi. Dia tahu dimana ladang Ujang karena dulu Ujang sempat menunjukkannya.


Padahal aku masih ingin bersantai di saung, eh malah disuruh nganterin ini, batin Diani.


Setelah sampai di Saung yang ada di dekat Ladang Ujang, dia menaruh minumannya disana. Diani melihat ke kanan dan kekiri mencari keberadaan suaminya, hingga dia melihat sosok lelaki yang sepertinya sedang berkumpul, Ujang seperti bos yang sedang membriefing beberapa karyawannya.


Diani melambaikan tangannya dan berteriak memanggil Ujang, hingga lelaki itu menoleh dan menghampiri Diani. Semakin dekat dan semakin dekat.


Kenapa Ujang terlihat lebih berwibawa ya saat bersama para pekerjanya? Penampilannya juga lebih baik, dia terlihat lebih tam… aish, apa yang kamu pikirkan Diani, batin Diani.

__ADS_1


"Neng, kok ada disini?" Tanya Ujang lalu ikut duduk disamping Diani.


"Ini, Emak nyuruh aku buat nganterin minuman ini," jawab Diani.


"Oh, banyak banget Neng, ini buat semua orang disini? Kirain spesial buat Akang aja, hehe... apa Neng alih profesi jadi tukang es campur banyak begini es minumannya? hehe…," jawab Ujang sambil tertawa.


"Ih mana ada tukang es cantik begini," keluh Diani.


"Hmm, iya… neng cantik kok, cantik banget malahan," jawab Ujang, sambil mengambil salah satu minuman dan menyeruputnya.


Wajah Diani tersipu, dia segera mengalihkan pembicaraan, entah mengapa dia senang dipuji oleh Ujang. "Aku juga haus Kang, aku mau satu dan yang lainnya bisa Akang bagikan..!" Jawab Diani lalu menyeruput es campur itu juga.


"Uhuk… uhuk…," Diani tersedak.


"Kenapa Neng? Hati-hati atuh, pelan-pelan minumnya dan jangan lupa baca bismillah..!" Ucap Ujang mengingatkan.


Diani tidak menjawab, dia malah fokus dengan wanita yang kini ada dibelakang Ujang, wanita itu tersenyum sambil menaruh telunjuk di bibirnya, mengisyaratkan agar Diani diam dan tidak memberitahu Ujang. Wanita itu sepertinya ingin mengejutkan Ujang, Diani sungguh tidak menyukai wanita itu.


Siapa sih dia? Nempelin Ujang terus, batin Diani kesal.


Bersambung….

__ADS_1


__ADS_2