
Saat sore hari, Diani tiba lebih dulu. Dia mencari resep di ponsel miliknya, mencari sesuatu makanan yang spesial yang menggugah selera untuk menyambut kedatangan suaminya.
Arin sampai setelah Diani, dia menatap kakak iparnya dengan heran. "Teh, lagi ngapain?" Tanya Arin sambil mendekati Diani.
"Masak Rin, sepertinya makanan ini enak. Teteh liat di internet, jadi coba masak aja. Tadi juga mampir dulu buat beli bahan-bahannya di toko sayur depan," jawab Diani.
"Tumben, hehehe…, apa teteh gak cape? Baru juga pulang kerja," tanya Arin.
"Gak Rin. Abis ini teteh mandi deh," jawab Diani sambil tersenyum. Kemudian bernyanyi sambil memasak.
"Orang kalau lagi jatuh cinta, ya begitu," gumam Arin pelan. Dia berlalu pergi karena tidak mau mengganggu suasana hati kakak iparnya yang sedang bahagia.
Diani mulai berani menghubungi Ujang, dia mengirimkan pesan. Menanyakan jam berapa suaminya itu akan pulang.
(Sepertinya Akang pulang malam Neng, ada kerjaan tambahan. Neng bisa tidur duluan kalau udah ngantuk..!) Ujang
(Oh, iya gapapa Kang. Aku tungguin deh, lagian ada yang perlu aku bicarakan sama Akang) Diani
(Ngomongin apa Neng? Akang jadi penasaran) Ujang
(Nanti aja di rumah Kang, hati-hati kerjanya..!) Diani
Diani bergegas mandi, dia menghabiskan waktu dikamar mandi lumayan lama. Dia ingin tampil cantik dan wangi hari ini. Masakan tadi pun sudah dihangatkan lagi, wanita itu sudah tidak sabar menyambut suaminya.
__ADS_1
***
Ujang pulang sesudah isya, dia tersenyum senang melihat perubahan Diani yang mulai perhatian padanya. Dia pamit untuk mandi dulu, lalu berniat makan bersama, ada Arin juga di sana ikut bergabung.
Akhirnya mereka pun makan bersama, "bagaimana rasanya Kang?" Tanya Diani.
"Enak Neng, Akang suka," jawab Ujang. Dia makan dengan lahap.
"Enak teh, meski bukan selera aku sih. Aku lebih suka manis pedas, hehe … tapi enak kok teh, ini selera A Ujang," jawab Arin.
Aku juga suka makanan pedas, tapi aku lebih menyesuaikan diri aja dengan Ujang yang gak bisa makan makanan pedas, batin Diani.
"Emm, nanti teteh buatin deh khusus buat kamu," jawab Diani.
"AA ih, nyebelin. Itu sih namanya cabe dijadikan lauk buat makan, ngeracun nih ceritanya?" Ucap Arin.
Ujang hanya tertawa senang melihat adiknya itu merasa kesal. Senang ketika adiknya marah karena ulahnya, seakan dia merasa puas. Makan malam itu terasa menyenangkan, Diani tak menyangka jika masakan dipuji suami bisa membuatnya sebahagia ini, seakan telah mendapatkan hadiah yang tak terduga dari lotre.
Arin pamit lebih dulu, dia memilih mengerjakan beberapa tugas kuliahnya. Membuat dua insan itu kini kembali canggung, jika tadi suasana mencair karena adanya Arin yang bisa dikerjain tapi sekarang mendadak suasananya berubah serius.
"Neng, soal pesan tadi. Neng mau ngomongin apa?" Tanya Ujang.
"Ini Kang, aku sepertinya tidak jadi berhenti bekerja. Setelah dipikir-pikir pasti jenuh jika dirumah sendirian tanpa kegiatan. Menurut Fani, aku sebaiknya resign saat hamil saja nanti, jadi aku bisa fokus ngurusin anak dan suami. Menjadi ibu rumah tangga saja yang selalu dirumah," jawab Diani. Wanita itu perlu keberanian ekstra saat ingin berbicara masalah ini.
__ADS_1
"Uhuk… uhuk… ," Ujang terbatuk lalu segera mengambil air minum dan meneguknya.
"Akang gakpapa?" Tanya Diani.
"Gapapa, Jika Neng udah siap mempunyai anak kenapa tidak. Tapi sebaiknya kita nikmati prosesnya dulu Neng, Akang tidak mau mengambil hak sebagai suami saat istrinya belum sepenuhnya yakin dengan hatinya," jawab Ujang.
Diani diam, apa yang membuatnya ragu? Apa dia pikir aku masih membencinya? Apa dia pikir aku tidak serius dengan pernikahan ini? Batin Diani.
"Iya Kang, kalau Akang tidak mempermasalahkannya, besok aku akan bekerja seperti biasanya," ucap Diani. Dia Sedikit kecewa dengan jawaban Ujang.
Ujang pun mengangguk, setelah selesai makan mereka membereskan meja makan bersama. Bahkan Ujang mengambil alih, dia kini sedang mencuci piring.
"Biar aku aja Kang," ucap Diani.
"Akang saja yang nyuci, Neng kan udah capek masak," jawab Ujang sambil tersenyum.
Diani hanya duduk melihat punggung suaminya yang sedang melakukan pekerjaannya. Lelaki itu tidak gengsi melakukan pekerjaan rumah, menurutnya pekerjaan rumah adalah tugas bersama.
Bagaimana bisa aku masih ragu Kang, jika setiap hari kamu selalu membuatku kagum? Sikap lemah lembutmu, perhatianmu, dan kamu selalu menghargai aku meski aku pernah melontarkan kata yang menyakiti hatimu. Justru aku yang kini meragukan hatimu Kang, apa hatimu itu masih untukku? Batin Diani.
Bahkan disaat Diani terbangun tengah malam, dia melihat Ujang yang sedang beribadah dengan khusyu dan mengangkat kedua tangannya. Entah doa apa yang suaminya itu panjatkan, Diani berharap ada namanya yang menjadi salah satu doa yang terselip.
Lagi-lagi aku menemukan sisi baiknya lagi, sekarang aku malah merasa jika aku tidak pantas. Ujang terlalu baik untukku, batin Diani.
__ADS_1
Bersambung ….