Kejutan Dari Emak (Perjodohan)

Kejutan Dari Emak (Perjodohan)
Sangat Malu


__ADS_3

Mereka pulang dan hari ternyata sudah gelap, sesampainya di kontrakan Diani masuk ke dalam kamarnya, sementara Ujang pergi ke masjid untuk melaksanakan solat.


Ujang kembali ke kontrakan saat jam menunjukan pukul 8 malam. Dia sempat berbincang-bincang sebentar dengan warga desa di pos kamling. Ujang mengecek ke dalam kamar Diani, dipanggil beberapa kali tidak ada sahutan dari dalam. Lelaki itu pun membuka pintu perlahan, memamstikan istrinya itu tidak apa-apa.


Dilihatnya Diani yang berbaring ditempat tidur, dengan memeluk guling. Bajunya masih sama, dia masih menggunakan baju batik saat pergi ke Acra pernikahan temannya.


"Sepertinya neng Ani kelelahan, bajunya saja belum sempat diganti," gumam Ujang.


Lelaki itu membalikkan badannya, baru saja melangkah dua langkah, terdengar Diani mengigau memanggil ibunya. Ujang yang penasaran, dia mendekati Diani lebih dekat, wajah Diani berkeringat bahkan terlihat wajahnya memerah.


Ujang meletakkan telapak tangannya diatas kening istrinya. Terasa panas, "neng Ani demam, bagaimana ini?" Gumam Ujang.


Bergegas Ujang mengambil baskom dan air, dia berniat mengompres dahi Diani agar demamnya turun. "Neng jangan sakit atuh..!" Ucap Ujang.


"Emak… , emak…., Diani kangen," gumam Diani pelan.


"Neng bangun…! Makan dulu ya, terus minum obat?" Tanya Ujang.


Diani menggeleng, dia hanya meminta air teh manis hangat. Wanita itu bahkan menghabiskan dua gelas besar teh manis hangat, setidaknya bisa membuat badannya tidak terlalu lemas. Jika Diani sakit, dia memang tidak bisa makan, dia tidak nafsu makan dan lebih suka minum teh dan juga buah-buahan yang tidak membuatnya mual.


Setelah menghabiskan teh, Diani mulai tidur lagi. Ujang pun menunggu istrinya itu semalaman. Keringat istrinya membuat bajunya basah, ingin rasanya Ujang membantu mengganti pakaian Diani, tapi dia tidak berani. Dia takut Diani merasa dilecehkan atau sebagainya, Ujang belum bisa memperlakukan istrinya itu sebebas seorang suami.


"Gerah Kang," keluh Diani, dia bangkit dan kini duduk diatas ranjang. Tanpa sadar Diani yang memikirkan dirinya sendiri yang sakit, dia melepaskan pakaiannya di depan Ujang.

__ADS_1


"Neng, kalau mau buka baju kenapa gak bilang dulu?" Tanya Ujang sambil memalingkan wajahnya.


"Tolong kang ambilin baju ganti, baju tidurku yang pendek..!" Pinta Diani, bukan menjawab pertanyaan Ujang, dia malah menyuruh Ujang membantunya. Diani tidak merasa risih sama sekali, dia membuka semua pakaiannya tanpa sisa dan menggantinya disana.


Ujang malah malu sendiri, dia memalingkan mukanya dan sesekali menoleh karena rasa penasaran yang mengganjal di hatinya.


Diani memberikan baju yang sudah kotor pada Ujang, Ujang pun patuh menyimpannya ke kamar mandi, lelaki itu duduk di sofa dan mulai minum air putih sebanyak-banyaknya.


"Kalau neng Ani sakit lagi, aku gak boleh ninggalin dia sama orang lain, bisa bahaya," gumam Ujang.


Ujang kembali ke kamar Diani untuk mengecek, ternyata istrinya itu sudah tidur bahkan mendengkur. Lelaki itu kembali ke ruang tamu dan berusaha tidur di atas kasur lantai yang telah digelar dan di rapikan sebelumnya.


Alih-alih tidur, lelaki itu malah terbayang-bayang tubuh Diani yang polos. Ujang dibuat tak tenang malam itu, dia hanya berguling-guling tak jelas.


"Bukankah tidak berdosa jika membayangkan tubuh istri sendiri?" Gumam Ujang dengan sedikit tersenyum.


Keesokan paginya Diani bangun dengan badan yang lebih segar. Dia melihat sudah ada bubur ayam dimeja makan, karena lapar dia pun langsung menghabiskannya bahkan dua mangkuk sekaligus.


"Syukurlah neng Ani udah sehat," ucap Ujang yang baru saja datang dari dapur mengambil air minum.


"Akang kebiasaan deh, ngagetin orang aja," keluh Diani.


Dengan segera Diani menyambar air minum yang ada di tangan suaminya, saat dia melihat ke arah kakinya, dia menyadari kalau dia sudah berganti pakaian. Bukankah aku masih menggunakan baju batik kemarin? Kapan aku menggantinya? Batin Diani.

__ADS_1


Sejenak dia diam sambil memutar memorynya ke belakang, dia menikmati air teh hangat di tangannya. Air yang berada dalam mulut itu ketika dia semburkan ke sembarang arah, dia teringat kalau malam itu dia dengan santainya mengganti pakaian di depan Ujang. 


Bodoh, kenapa aku bisa bertindak sebodoh itu sih? Batin Diani.


"Neng kenapa malah disemburin gitu? Panas ya neng, maaf ya? Biar Akang ganti air minumnya?" Ucap Ujang. Lelaki itu bangkit dan mengambil cangkir yang ada di tangan istrinya, bergegas ke dapur untuk membuatkan minuman baru, sementara Diani masih mematung disana.


Diani merasa malu sekali jika mengingat kejadian itu, dia berharap Ujang tak pernah membahas kejadian memalukan itu dan Diani akan berpura-pura lupa. Dia akan bersikap senormal mungkin meski dia tidak tahu bisa atau tidak.


"Kenapa bisa aku mempertontonkan tubuhku padanya? Ujang pasti mengira kalau aku wanita gampangan? Haishh…, kenapa saat sakit aku bisa seceroboh itu sih?" Gumamnya pelan sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.


Pagi itu Diani seakan kehilangan muka dihadapan Ujang, rasanya dia ingin bersembunyi dan tidak bertemu Ujang selama beberapa hari.


Ujang datang dengan minuman baru, "ini neng diminum..! Oh iya neng udah izin kerja? Ini udah siang, tadi mau dibangunin tapi Akang gak tega. Apa neng mau diantar ke dokter?" Tanya Ujang.


"Belum, yaudah Kang aku ke kamar dulu mau nelpon Fani untuk izin sakit, aku juga mau ke dokter biar ada surat sakitnya meski badan aku udah enakkan," jawab Diani sebiasa mungkin. Dia mempercepat langkahnya menuju kamarnya.


Dikamar Diani malah bersembunyi dibalik selimut, dia malu, sangat malu dan tidak bisa menghadapi Ujang jika lelaki itu membahas masalah semalam. Diani takut Ujang mengingat dan mulai membahas kebodohannya.


Diani mengirim pesan pada Fani dan bersiap-siap pergi ke klinik, tentu klinik yang dekat dengan kontrakannya. Hari ini dia ingin pergi sendiri tanpa diantar Ujang karena itu lebih baik baginya.


"Akang bisa kok neng libur kerja hari ini, diantar sama Akang ya?" Bujuk Ujang.


"Deket kok Kang, aku bisa sendiri. Akang kerja aja, aku udah agak enakkan kok," ucap Diani berlalu pergi dengan langkah cepat. Dia ingin menghindari Ujang hari ini.

__ADS_1


Ujang menatap kepergian istrinya itu dengan rasa khawatir. Mana bisa aku membiarkan neng Ani pergi sendiri dalam keadaan sakit? batinnya.


Bersambung …


__ADS_2