Kejutan Dari Emak (Perjodohan)

Kejutan Dari Emak (Perjodohan)
Salting


__ADS_3

Diani yang sudah memakai baju, sore itu dia berniat mencari makanan untuk makan malam juga. Dia mencari lauk pauk karena jika bekerja, dia tidak sempat masak. Melihat ada Ujang membuatnya memaksakan diri mencari makanan lebih cepat, karena perut suaminya juga tanggung jawabnya.


"Kang, aku beli dulu lauk pauk buat makan ya," ucap Diani yang berada di ambang pintu. Dia sedang memakai sandalnya yang berwarna putih.


"Akang ikut Neng, biar bisa milih juga. Mau pake mobil?" Tanya Ujang.


"Mobil, aku gak lihat mobil Akang dari tadi," jawab Diani.


"Mobil Akang kan baru, neng mau nyobain gak? Kali ini mobil Akang gak akan bikin malu, wangi dan bersih, neng Ani pasti nyaman," jawab Ujang dengan senyumannya.


Kenapa aku merasa sedikit bersalah ya? aku seperti istri yang matre, batin Diani.


"Hmm, boleh Kang, kita cari tempat yang enak dan memang lumayan jauh," jawab Diani sedikit bingung. Antara senang dan sedikit terbebani dengan penampilan Ujang dan mobil barunya. Diani takut Ujang akan meminta pertanggung jawabannya karena dia telah rela berubah total demi Diani.


Mereka pun pergi berdua, tak lupa Diani mengunci pintunya. Diani sedikit ragu untuk menaiki mobil Ujang dia berdiri didepan pintu, Ujang mengira Diani ingin dirinya bersikap romantis. Ujang membukakan pintu mobilnya untuk Diani, tapi refleks Diani malah menutupnya kembali.


"Gak usah Kang, aku bisa sendiri kok," ucap Diani, dia kemudian membuka pintu itu dengan tangannya sendiri. 


Ujang yang sedikit bingung, dia berjalan perlahan menuju arah pintu mobil yang berlawanan. "Wanita memang sulit dimengerti, maunya neng Ani tuh apa ya? Gini salah, begitu juga salah," gumam Ujang.

__ADS_1


Mereka pergi sekitar sejam, karena memilih makan ditempat dan membawa pulang beberapa porsi untuk makan malam. Diani tidak malu lagi jika mereka terlihat berduaan, Diani sudah tidak risih hanya saja masih suka marah-marah, Diani pun tidak mengerti kenapa dia selalu saja emosi jika berhadapan dengan Ujang.


"Kang, biar aku yang bayar, uang bulanan dari Akang kan masih banyak," ucap Diani.


"Gapapa, biar Akang yang bayar. Uang itu kamu simpan aja, suatu saat neng Ani butuh, kalau ada yang simpanan kan jadi enak," jawab Ujang.


Diani yang gengsi terus saja diberi uang, dia mengeluarkan uang dan langsung menyerahkan uang itu ke mbak kasir sebelum Ujang melakukannya. "Udah aku bayar Kang," ucap Diani kemudian berlalu pergi terlebih dahulu menuju parkiran.


"Apa aku salah lagi?" Gumam Ujang, dia pun berjalan dengan lesu mengikuti istrinya.


Hari sudah mulai gelap, Diani dan Ujang sampai dikontrakan bertepatan dengan suara adzan magrib. "Alhamdulillah udah sampe," ucap Ujang. Mereka pun turun dari mobil dan betapa kagetnya melihat Siska berdiri di dekat pintu dengan tatapan kesal pada Ujang.


"Kenapa dia kesini Kang, sepertinya dia juga marah. Apa dia pacar kamu Kang?" Tanya Diani.


Mereka berjalan semakin mendekati Siska, "udah lama Sis? Maaf ya, aku lupa…, hape aku juga di dalam, hehe…," Ucap Ujang.


"Aku menunggu disini sampe jamuran, tau gak sih?" Protes Siska. Dia mengalihkan pandangannya pada Diani dan langsung mengatakan apa yang ingin disampaikan agar dia bisa cepat pulang serta mendapatkan uang transferan dari Ujang.


"Perkenalkan aku Siska, temen Ujang dari kampung. Aku cuma nemenin dia belanja tadi, karena Ujang memang tidak tahu merk baju dan model baju yang bagus. Aku harap kamu tidak salah paham dan cemburu sama aku," ucap Siska mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Dia bilang aku cemburu? Ish… aku cuma tidak mau Ujang salah jalan dengan berselingkuh disaat masih menjadi suamiku, batin Diani.


"Ya, salam kenal, aku Diani. Gapapa kok aku mengerti. Kalau begitu, mari masuk dulu..!" Diani menyambut uluran tangan Siska. Diani percaya bahwa Siska memang hanya teman Ujang. Terlalu aneh jika suaminya yang dari kampung dan polos bisa berselingkuh.


Siska menolak, dia terburu-buru sekali. Dia memang tidak ingin lama-lama disana. Ujang memilih pergi ke masjid, sementara Diani masuk berniat shalat di kontrakannya.


***


Saat malam datang, Ujang seperti biasa tidur di ruang televisi. Suara televisi membuat Ujang merasa nyenyak untuk tertidur. Dia akan menyalakan timer off pada televisi itu, agar tidak menyala sampai pagi karena itu pemborosan listrik.


Malam itu Ujang bermimpi indah. Dia bahkan tersenyum sambil menutup mata. Terlihat Diani berjalan mendekati Ujang, dia tidur menyamping di dekat suaminya dan melihat wajah Ujang lebih dekat.


Apa aku mulai menyukainya? Tapi dia tidak terlalu buruk, hidungnya juga gak pesek kok, bulu matanya lentik, dia terlihat tampan tapi manis. Oh lihatlah dia senyum dan lesung pipinya keluar, tambah manis, batin Diani.


Tanpa sadar, dia menekan lesung pipi itu dengan telunjuknya karena gemas. Kelopak mata Ujang terbuka, Diani kaget melihat Ujang yang kini memergokinya.


"Neng Ani…, " panggil Ujang.


Ingin rasanya Diani menghilang, tapi dia bahkan tidak punya jurus itu. Malu sekaligus kaget, membuatnya tidak bisa berpikir alasan yang tepat untuk mengelak. Diani bangkit dan langsung berlari menuju kamarnya.

__ADS_1


Ujang tersenyum melihat tingkah istrinya, "neng Ani memang lucu."


Bersambung …


__ADS_2