Kejutan Dari Emak (Perjodohan)

Kejutan Dari Emak (Perjodohan)
Tidak Sesuai Rencana


__ADS_3

Diani diam sesaat, dia galau antara mau memakai baju itu atau tidak. "Kang, apa sebaiknya aku kembalikan aja baju ini sama ibu?" Tanya Diani.


"Jangan dong Neng, ibu udah perhatian sama kamu Neng. Nanti ibu sedih kalau Neng nolak, coba aja dulu..!" Jawab Ujang dengan masih membalikan badannya.


"Yaudah aku coba. Tapi Akang jangan kaget ya!" Ucap Diani.


Kaget bagaimana, masa nyobain baju aja bisa bikin aku kaget? Batin Ujang bingung.


Ujang sudah berkali-kali menanyakan apakah Diani sudah selesai apa belum. Tapi sudah 20 menit Ujang menunggu membuatnya benar-benar merasa bosan.


"Neng udah belum?" Tanya Ujang, ini merupakan pertanyaan yang kesekian kalinya.


"Udah Kang," jawab Diani pelan.


Lelaki itu membalikkan badannya, dia menatap istrinya dari atas sampai bawah. "Loh, itu kan kimono. Neng mau mandi? Bukannya nyobain baju baru?."


"Bajunya di balik handuk kimono ini Kang," jawab Diani.


"Maksudnya gimana sih Neng? Akang pusing," tanya Ujang.


Sepertinya aku harus memperlihatkan baju pemberian ibu mertua, meski aku malu… tapi, kata Fani ini halal jadi gapapa dan gak boleh gengsi, batin Diani.


Perlahan Diani membuka tali simpul handuk itu, membuat Ujang sedikit panik, dia mengira Diani tidak memakai apapun di dalam handuknya. Hingga handuk itu tergeletak, tangan Diani refleks memegang asetnya, berusaha menutupinya karena bajunya memang menerawang.


Ujang menelan ludah, dia menatap Diani yang ada di depannya tanpa berkedip. "Neng, itu baju atau saringan sih Neng?" Tanya Ujang.


Diani diam, dia mengatur nafasnya agar lebih rileks, kemudian menyingkirkan tangannya sendiri yang sedari tadi menghalangi asetnya. Dia berjalan mendekati Ujang, dia berjalan layaknya model. Membuat Ujang semakin merasa gelisah tak karuan, lelaki itu memang normal dan tentu begitu tergoda. Tapi dia berusaha menyembunyikan perasaan itu, dia tahu Diani masih belum menyukainya, belum menginginkan kejadian malam yang bergairah.


"Neng…," panggil Ujang seakan ingin menyadarkan Diani.


"Gimana Kang, bajunya bagus gak?" Bisik Diani ditelinga Ujang.


"Ba-bagus Neng," jawab Ujang kemudian lari menuju kamar mandi. Menutup pintu dan tak lupa menguncinya.

__ADS_1


Diani merasa malu, merasa ditolak oleh suaminya. Dia bergegas mengganti pakaiannya lagi. Dia kemudian tidur dengan menyelimuti seluruh tubuhnya, mengutuk dirinya sendiri yang bertingkah bodoh.


Sementara Ujang masih ada didalam kamar mandi, jantungnya masih berdebar tak karuan. Untuk pertama kalinya dia melihat pemandangan tadi, sungguh menggoda iman. Tapi… entah mengapa dia salting dan malah melarikan diri.


"Kenapa aku malah lari?" Gumam Ujang. Dirinya merasa telah membuang kesempatan emas.


Tak berselang lama, Ujang pun keluar dari kamar mandi. Dia melihat istrinya sudah meringkuk dalam selimut, saat matanya melihat ke arah bawah, di lantai ternyata ada baju tadi yang dikenakan Diani. Ujang pun mengambil baju itu dan membentangkannya.


Dia membayangkan saat Diani memakainya, dia tersenyum senang. "Ibu ada-ada aja beliin Diani baju begini, Ujang kira ini saringan. Tipis begini sih kaya bukan baju," gumam Ujang pelan.


Dia memasukan baju itu kembali ke tempat asalnya. Kemudian menggoyangkan badan Diani agar bangun, tapi tidak ada jawaban. Ujang pun memilih tidur di karpet yang ada di kamar itu, karena mengira Diani telah tidur dan marah padanya.


Lima menit kemudian, Diani mengintip dari balik selimut. Ternyata dia tidur di karpet, Fani memang menyebalkan, dia bilang Ujang bakalan klepek-klepek. Tapi ternyata dia malah menolakku dan bahkan tidur di bawah karena tidak mau tidur denganku, apa Ujang udah gak suka ya sama aku? Apa ada wanita lain yang perhatian padanya? Batin Diani.


Diani menendang-nendang selimutnya, kemudian memilih tidur. Ya… lebih tepatnya memaksakan agar matanya terpejam.


***


Saat sarapan, Diani dan Ujang seakan canggung. Mereka sedikit berbicara dan lebih banyak saling diam. Mereka berpikir dengan pikiran mereka masing-masing.


Diani dan Ujang saling pandang, kemudian menatap Arin bersamaan. Membuat Arin kini menunduk dan menikmati makanannya dengan serius, gadis itu merasa ada aura aneh pagi ini.


Sementara Bu Edoh, hanya sedikit tersenyum kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya karena kelakuan anak gadisnya yang asal bicara itu.


Padahal Diani dan Ujang memang terbiasa mandi sebelum subuh. Itu sudah menjadi kebiasaan mereka. Dan pandangan Arin berbeda karena sebelumnya dia tahu kalau Ujang membawa baju lingerie yang dibelinya bersama ibunya di mall tadi siang.


Sesampainya di kantor, Diani memasang wajah bete. Saat Fani datang, dia langsung berdiri dan menatap Fani dengan tatapan tajam.


"Kamu kenapa Diani? Aku baru juga datang," tanya Fani.


"Karena ide konyol mu itu aku jadi malu sendiri fan," jawab Diani kesal.


"Ide yang mana sih?" Tanya Fani bingung.

__ADS_1


"Yang pake baju seksi itu loh, menggoda suami sendiri," jawab Diani.


"Oh itu, gimana… udah gol kan?" Tanya fani penasaran.


"Gol, gol. Emang lagi main bola. Ujang malah lari tahu. Apa aku aneh kalau pake baju begitu, apa aku jelek? Atau aku menakutkan?" Tanya Diani.


"Apa? Masa sih gak berhasil. Apa mungkin Ujang gak normal?" Tanya Fani.


"Hus, kalau ngomong sembarangan aja, dia suami aku tahu!" Jawab Diani membela Ujang.


"Yaelah, baru diakui nih? Kemarin kemana aja, hehehe… btw beneran semalam gagal?" Tanya Fani.


Diani pun menceritakan semuanya. Namun reaksi Fani malah tertawa puas, membuat Diani semakin kesal saja. Diani tidak mau menuruti nasehat sahabatnya itu lagi, dia pikir ide Fani itu salah besar mengingat wanita itu juga belum menikah.


***


Selama beberapa hari Ujang berada di kampung, Diani mengira lelaki itu sedang menghindar dari rasa canggung ketika malam itu. Padahal Ujang memang sedang memiliki keperluan penting. Hari ini, disaat Diani libur, Arin mengajaknya pergi ke salon. Meski Diani malas, tapi dia juga tidak ada aktivitas di rumah, tidak ada Ujang juga membuatnya merasa sepi.


Arin mengajak wanita itu membeli baju baru, bahkan baju pesta yang dibeli dan langsung dipakai hari itu juga. Setelah itu mereka ke salon dan Arin meminta kepada karyawan salon tersebut untuk memberikan pelayanan yang terbaik.


"Arin, apa ini tidak berlebihan? Memangnya kita mau datang ke pesta siapa?" Tanya Diani.


"Udah Teh, Teteh terima beres aja. Pokoknya hari ini harus tampil cantik," jawab Arin.


Meski Arin berasal dari kampung, tapi dia sering datang ke kota bersama ibu dan bapaknya. Apalagi sekarang dia kuliah di kota, tentu seleranya juga sudah modis dan tidak kampungan.


Diani menatap cermin, dia merasa pantulan di depan cermin itu bukan dirinya. Polesan make up yang sempurna, komplit dan baju pesta yang mewah membuatnya merasa jadi seorang putri.


"Bagaimana, cantik kan?" Tanya Arin.


"Emm, iya Rin. Selanjutnya kita akan pergi kemana?" Tanya Diani.


"Kita pulang lah Teh, nanti ibu marahin aku lagi kalau pulangnya malam, ayo teh ..!" Ajak Arin dengan memegang tangan Diani.

__ADS_1


Anak ini kenapa sih, buat apa aku dandan segitunya kalau pada akhirnya pulang ke rumah? Hanya merepotkan saja karena harus menghapus make up ini yang memakan waktu yang lama, batin Diani kesal. Tapi wanita itu sebisa mungkin bersikap biasa saja didepan adik iparnya.


Bersambung...


__ADS_2