Kejutan Dari Emak (Perjodohan)

Kejutan Dari Emak (Perjodohan)
Ada Apa Dengan Mereka?


__ADS_3

Sore itu Diani pergi ke mall bersama Fani sahabatnya. Sahabatnya itu memaksa Diani untuk ikut padahal dia sedang lelah dan ingin cepat sampai rumah. Apalagi teringat ibu mertuanya ada di rumah, wanita itu takut jika mendapatkan masalah dan sindiran-sindiran pedas lagi.


"Ayo…, cepetan Diani!" Panggil Fani yang berada di depan.


"Tapi jangan lama ya? Aku gak mau pulang malam. Ada ibu mertuaku dirumah," keluh Diani.


"Iya, kalau udah ketemu, ya kita beli, terus pulang lah. Makanya cepetan!" Jawab Fani. Dia langsung menyeret sahabatnya itu, menarik lengan Diani begitu kuat.


Diani hanya pasrah, dia juga tidak tahu apa yang ingin dibeli Fani sampai memaksanya begitu. Dia hanya berharap bisa segera pulang, dia juga belum sempat menghubungi Ujang. Dia benar-benar terburu-buru hingga tidak ingat sama sekali.


Bukannya itu ibu mertuaku? Batin Diani.


"Ada apa lagi sih Diani? Katanya mau cepet pulang, tapi malah diem aja. Ayo bantu aku mencari sesuatu!" Ajak Fani.


"Itu ibu mertuaku Fan, kita harus berusaha tak terlihat oleh mereka..!" Ucap Diani.


"Oke, oke. Lagipula mereka sepertinya akan pulang. Ayo kita ambil jalan lain aja!" Ajak Fani dengan menarik lengan sahabatnya.


Akhirnya mereka sampai di sebuah toko. Fani memilih baju untuk Diani. "Yang ini sepertinya bagus, kamu suka gak?" Tanya Fani.


"Aku gak suka, aku geli liatnya Fan. Ngapain sih kamu beli yang gituan?" Jawab Diani.


"Yaelah, ini buat kamu, masa buat aku. Aku kan belum menikah. Tapi anehnya, aku lebih pintar dari kamu yang sudah beberapa bulan menikah, hehe…," ucap Fani, dia merasa bangga.

__ADS_1


"Pintar apanya, yang ada kamu itu omes melulu," jawab Diani kesal.


"Hahaha…," Fani tertawa. Gadis itu tertawa karena mengakui apa yang dikatakan sahabatnya itu.


Fani memilihkan baju yang menurutnya cocok untuk Diani. Meski wanita itu menolak, tapi Fani menakuti Diani jika Ujang bisa saja tertarik pada wanita lain karena terus merasa diacuhkan oleh Diani. Menyuruh Diani untuk melakukan aksi menggoda suaminya.


Diani membenarkan hal itu, dia akan mencoba berubah sedikit demi sedikit. Tapi untuk menggoda suaminya Ujang, dia masih memikirkan hal itu sepanjang perjalanan pulang. Dia masih ragu dan takut kalau Ujang menolak, itu pasti sangat menyakitkan hatinya. Padahal selama ini Diani juga sering menolak Ujang dengan terang-terangan.


Wanita itu turun dari taksi dan masuk ke rumah yang baru dibeli Ujang. Saat masuk, untunglah yang menyambut adalah Ujang, lelaki itu tersenyum. Diani nyaris tak pernah melihat Ujang marah, Ujang selalu bersikap lemah lembut padanya.


"Dari mana saja?" Tanya Bu Edoh sedikit kesal.


"Diani lembur, iya kan sayang?" Jawab Ujang. Dia menatap Diani dan mengedipkan sebelah matanya, dia ingin Diani mengatakan iya.


"Oh, ya sudah sana…,Kamu mandi trus makan bareng disini! ibu dan Arin akan menunggu kamu sampai selesai mengganti baju," ucap Bu Edoh.


"Baik Bu," jawab Diani.


Diani bergegas pergi ke kamar, dia mandi secepat kilat karena tidak mau membuat mereka menunggu. Dia tidak mau ada sindiran-sindiran halus apalagi sampai keluar sindiran kasar dari ibu mertuanya. Dia harus berusaha menjadi menantu yang baik.


"Ah, aku sampai lupa menggosok gigi. Kalau kembali ke kamar mandi nanti lama. Sebaiknya aku bergegas memakai baju," gumam Diani.


Syukurlah makan malam itu berjalan lebih baik. Diani merasa ada yang berbeda dengan ibu mertua dan juga adik iparnya. Mereka bersikap lebih manis, Arin malah lebih mengakrabkan diri dengannya. Biasanya gadis itu hanya bertanya tentang Ujang dan pekerjaannya. Tapi malam itu, Arin bertanya tentang segala hal, sampai makanan dan warna yang disukai Diani.

__ADS_1


Tapi wanita itu tidak mau berpikir aneh-aneh. Dia harus mensyukuri apa yang terjadi malam ini, berharap ini awal yang baik untuknya.


"Oh iya Teh, A Ujang itu suka cewek yang dikuncir kuda loh. Dia bilang lucu katanya, dulu Teh Diani suka mengikat rambut ke belakang seperti itu," ucap Arin.


"Masa sih Rin?" Tanya Diani. Wanita itu merasa tersanjung karena Ujang menyukainya sejak dulu dan sampai sekarang. Diani berpikir jika hati Ujang itu setia, perasaan padanya itu kuat karena tertanam sejak lama.


"Iya Teh. Coba deh Teteh rambutnya digituin. Jangan digerai terus..!" Ucap Arin.


"Emmh…, oke deh. Kalau makanan kesukaan AA Ujang apa?" Tanya Diani.


Terus saja Diani mengorek semua tentang Ujang. Membuat Arin merasa aneh, Sepertinya ibu salah, buktinya Teh Diani antusias kok membahas A Ujang, batin Arin.


Setelah puas berbincang-bincang dan memang hari sudah malam. Diani bergegas pergi ke kamar, disusul Ujang yang baru saja masuk.


Ceklek


"Neng, ini kata ibu dicoba dulu..! Dan Akang disuruh liat baju ini bagus apa enggak. Neng coba dulu ya, Akang membalikan badan aja, kalau udah beres bilang udah ya?" Ucap Ujang.


"Emmh, iya Kang. Yaudah kalau mau balik badan, balik aja sekarang..!" Ucap Diani. Dia merasa Ujang memang tidak tertarik padanya.


Jika dia suka, dia pasti akan mencuri-curi kesempatan. Tapi selama ini Ujang tidak perna begitu. Apa dia menjaga batasannya gara-gara sikap aku? Entahlah aku pusing, aku tak bisa menebak pemikirannya. batin Diani.


Ujang berbalik, Diani membuka bungkusan yang dibawa Ujang. Matanya melotot, dia begitu kaget melihat isinya. Ini sih model baju yang sama yang dibelikan Fani, cuma beda warna aja. Ada apa sih dengan mereka semua? Batin Diani.

__ADS_1


Bersambung…..


__ADS_2