
Diani terkejut melihat rumah Ujang yang berubah, dulu terakhir kali dia saat masih sekolah SMA dia memang pernah beberapa kali melewati rumah Ujang, tapi rumah yang dilihat hanya rumah sederhana. Kini Diani melihat jika rumah ini lumayan mewah, karena ini kampung sepertinya rumah Ujang adalah rumah termewah disini.
Jika Ujang memang memiliki banyak Uang, kenapa penampilannya masih sesederhana itu? Bahkan dia masih terlihat kampungan, batin Diani.
"Ko malah bengong Neng, ayo masuk..!" Ajak Ujang.
"Eh, iya Kang," jawab Diani.
Diani berjalan di samping Ujang, dia sangat gugup karena belum pernah dibawa ke rumah itu. Dulu pun dia hanya pernah bertemu orang tua Ujang beberapa kali saja saat ada acara disekolah.
Ujang mengucapkan salam dan disambut oleh gadis remaja cantik, Diani tidak mengenali dia. Apa mungkin itu adiknya Ujang, tapi setahuku dia tidak punya adik, batin Diani.
"A Ujang sama siapa?" Tanya Naima.
"Oh ini kenalin istri AA, kamu belum sempet ketemu ya karena pas acara nikahan dadakan itu kamu lagi ada acara kemping di sekolah," Ucap Ujang.
"Oh iya ya, lagian sih dadakan segala, kebelet ya? hehe...," jawab Naima, kemudian dia menoleh ke arah Diani dan mengulurkan tangannya. "Kenalin aku Naima teh, adik A Ujang yang cantik, hehe…," ucap Naima dengan sedikit centil.
Diani tersenyum, dia suka dengan anak remaja yang ceria seperti Naima. "Nama yang cantik, kenalin aku Diani," jawab Diani menjabat tangan Naima.
"Iya, panggil aja teh Ani..!" Ucap Ujang.
"Ih Akang," protes Diani.
"Hehe…, Neng Ani juga nama yang cantik, iya akan Ima?" Tanya Ujang pada adiknya itu.
"Hemm, lebih cantik nama Diani sih A," ucap Naima yang mampu membuat Diani tersenyum lagi, kini dia merasa kalau ada yang sefrekuensi dengannya. Entah mengapa Diani dan Naima begitu mudah sekali akrab. Mereka masuk ke kamar yang telah disediakan untuk sepasang pengantin itu, Naima juga ikut membereskan baju-baju Diani.
__ADS_1
***
Saat siang hari terdengar ada orang yang baru datang, Diani yang bermalas-malasan di kamar pun bangkit karena rasa penasaran. Ternyata yang datang adalah bapak Ujang tapi dengan wanita yang tidak dia kenal.
Diani diajak Ujang bergabung untuk menikmati makanan yang ibu dan bapaknya beli dari kota. Mereka memang habis mengecek toko mereka di kota, mereka berniat makan bersama.
"Diani, ini ibu Akang," ucap Ujang sedikit ragu.
Di kampung ini memang biasanya akan ada panggilan emak dan bapak, jarang sekali ada yang dipanggil ibu. Terlihat ibu ini wajahnya lebih muda, apa benar ini ibunya Ujang, aku rasa bukan yang ini deh? Di pernikahan juga tidak hadir, aneh…, batin Diani.
Meski Diani masih bertanya-tanya, tapi dia tetap tersenyum dan mencium punggung tangan kedua mertuanya. Setelah acara berbincang yang sedikit canggung itu selesai, Diani memilih pergi mandi dan berganti pakaian karena hari mulai sore.
Ujang masuk ke dalam kamar, Diani yang baru saja selesai memakai bajunya itu tampak kaget. "Akang…," ucap Diani.
"Eh, maaf Neng, ini Akang bawain makanan. Disini sudah ada yang bertugas memasak, kamu tidak perlu repot lagi mengerjakan pekerjaan rumah ya Neng..!" Ucap Ujang.
"Iya Neng, itu ibu sambung Akang, emak meninggal sekitar 4 tahun yang lalu," jawab Ujang, mata lelaki itu mulai berkaca-kaca.
"Maaf Kang, bukan maksud aku membuat Akang sedih, yaudah kita makan sama-sama ya, ini kan cemilan gak bikin kenyang, hehe...!" Ajak Diani mengalihkan perhatian Ujang yang mulai sedih itu.
***
Selama dua hari itu ternyata ibu tiri Ujang jarang sekali ada di rumah, selalu ikut pergi mendampingi bapak Ujang kesana dan kemari. Diani sempat bertemu dan makan bersama, tapi sepertinya ibu tiri Ujang hanya berbicara seperlunya membuat Diani semakin tidak nyaman.
"Kang…, aku kangen emak," ucap Diani.
"Yaudah Akang anterin pulang ya?" Tanya Ujang.
__ADS_1
Diani mengangguk senang, tapi saat mereka akan pergi tiba-tiba orang tua Ujang pulang. "Loh, mau kemana Jang?" Tanya Pak Kasim.
"Mau anterin neng Ani Pak," jawab Ujang.
"Memangnya istri kamu gak betah tinggal disini? Bukannya enak udah ada pembantu gak perlu capek-capek lagi?" Tanya Ibu Irma datar.
Diani merasa terkejut dengan pertanyaan itu, dia merasa ibu tiri memang semuanya sama. Sama-sama jahat, dia tidak berani menjawab, tapi untunglah Ujang membantu mencari alasan agar Diani bisa pulang. Ujang tahu kalau Diani tidak nyaman dan merasa asing tinggal dirumah orang tuanya.
***
Setibanya dirumah, Diani langsung memeluk ibunya. "Emak, aku kangen banget deh sama emak," ucap Diani.
"Neng, baru juga dua hari, biasanya juga ditinggal berbulan-bulan ke kota, dan pulangnya susah banget," sindir emak Leha.
"Hehe, emak mah gitu, aku mau ke kamar ya Mak, kangen kasur kesayangan," jawab Diani berlalu pergi meninggalkan Ujang yang masih berdiri disana.
"Diani kenapa Jang? Emmhh…, gimana apakah ada kemajuan?" Tanya emak.
"Doain aja Mak..! Hehe…," Jawab Ujang sambil tersenyum, dia pergi menyusul istrinya ke kamar. Ujang membuka pintu itu perlahan karena takut mengganggu Diani. Tapi terdengar Diani sedang berbicara lewat telepon.
"Aku gak betah Fan, malesin deh pokoknya. Apa emang semua ibu tiri gitu ya judes, cuek, dan jahat?" Tanya Diani.
"Aku kan sudah bilang kalau Ujang itu bukan tife aku Fan, dia bahkan tidak bisa merawat badannya sendiri, aku tidak suka melihat penampilannya yang begitu, apa sebaiknya aku bercerai saja? Toh pernikahan kami belum ke jenjang yang lebih jauh, dan pasti semakin rumit jika ada kehadiran mertua tiri, aku juga masih bisa bekerja di kota," ucap Diani lagi.
Ujang melangkah mundur, dia menutup pintu itu dengan perlahan.
Bersambung…
__ADS_1