Kejutan Dari Emak (Perjodohan)

Kejutan Dari Emak (Perjodohan)
Seminggu


__ADS_3

Diam-diam Ujang mengikuti istrinya itu. Dengan berjalan kaki ternyata bisa sampai ke klinik yang memang berada tidak jauh dari kontrakan mereka.


Ujang memberi jarak agar Diani tidak menyadari kehadirannya, lelaki itu khawatir Diani pingsan karena pergi sendirian disaat sakit.


Saat ingin menebus obat, Diani lupa kalau dia tidak membawa dompet saking terburu-buru menghindari Ujang. Dari kejauhan Ujang melihat Diani yang seperti ada masalah karena lama berdiri, bahkan kini duduk tapi obatnya tidak diambil.


"Neng, kenapa obatnya gak diambil?" Tanya Ujang.


"Akang, kok ada disini?" Tanya Diani. Dia bangkit dari tempat duduk saking kagetnya.


"Takut neng kenapa-napa jadi Akang ikuti, ada apa Neng?" Tanya Ujang.


"Aku, a-aku lupa bawa dompet Kang," jawab Diani jujur. Dia juga berniat pulang mengambil uangnya tadi, hanya saja ingin duduk sebentar karena merasa sedikit pusing.


Ujang pun membayar obat Diani, mereka pulang bersama-sama. Diani yang oleng karena pusing, membuat Ujang membantunya. Diani dipapah oleh Ujang sampai ke kontrakan.


"Padahal Akang gendong aja Neng, Akang kuat kok," ucap Ujang.


"Aku kuat Kang, gak usah digendong. Memangnya aku anak kecil apa," protes Diani.


Saat sakit aja neng Ani masih bisa marah, tapi setidaknya aku tidak terlalu khawatir karena sikap Neng Ani tidak ada yang berubah, batin Ujang.


Rasa pusing yang dirasakan Diani membuatnya tidak bisa melakukan apapun, dia membiarkan suaminya merawatnya karena tidak ada pilihan lain. Diani berusaha melupakan kejadian malam itu mengingat Ujang juga tidak membahasnya sama sekali.

__ADS_1


***


Empat hari berlalu, entah mengapa Diani merasa sudah nyaman dengan sikap suaminya. Disaat pagi dia akan disuapi sarapan pagi dan minum teh manis hangat. Saat adzan berkumandang Ujang akan berusaha mengantar Diani ke kamar mandi untuk berwudhu karena rasa pusing itu sudah tidak terlalu menyiksanya.


Siang hari, Ujang akan menemani Diani duduk santai di sofa sambil sesekali menonton televisi. Saat sore hari Ujang membuatkan bubur kacang untuknya. Dan malam hari Ujang akan tidur dikamar Diani, meski tidur di lantai dekat ranjang, tapi Diani merasa ditemani dan tidak ada rasa takut. Jika ingin sesuatu, dia bisa memanggil Ujang yang akan langsung bangun dan mengambilkannya.


Diani tersenyum mengingat itu semua, kini dia sedang sarapan, bersiap-siap pergi ke kantor. Sementara Ujang sudah pergi lebih dulu, dia pergi ke kampung karena masa panen tiba. Entah ladang sebelah mana dan tanaman apa yang dipanen, Diani tidak mau tahu.


***


Hari ini Diani senang bisa bekerja seperti biasanya karena sakit itu tidak enak bukan? Dia bisa berbincang, bercanda gurau dengan sahabat-sahabatnya. Bahan Indri sudah masuk kerja lagi karena hanya izin 3 hari saja.


"Diani kamu udah sembuh, kamu sakit apa?" Tanya Fani.


"Biasalah, demam, pusing, mual," jawab Diani.


"Gak lah, gak mungkin," jawab Diani dengan yakin. Itu membuat Rima sedikit merasa aneh, karena diam tidak tahu kalau hubungan Ujang dan Diani tidak senormal pasangan suami istri.


"Ko gak mungkin?" Tanya Rima mengerutkan dahinya.


"Gak lah, Diani kan baru selesai haid, iya kan?" Ucap Fani.


Diani pun mengangguk pelan, dia baru sadar kalau mengucapkan kalimat yang penuh tanda tanya untuk Rima yang memang anak baru di kantor.

__ADS_1


Mereka asyik menggoda Indri yang baru saja menikah, membuat wajah Indri tersipu malu. Diani jadi mengingat kejadian itu, dimana dia membuka semua bajunya didepan Ujang.


"Tidak, aku gak boleh ingat-ingat itu lagi!" Ucap Diani. Dia bahkan langsung berdiri, dia berbicara pada dirinya sendiri. Dia lupa kalau dia sedang bersama teman-temannya.


"Kamu kenapa Diani?" Tanya Indri.


Diani menggelengkan kepalanya, kemudian pergi menuju ruangannya. Dia ingin menenangkan pikirannya terlebih dahulu. Menghilangkan pikiran kotornya yang membuat dia malu sendiri. Membayangkan adegan selanjutnya jika dia mengulang aksi buka baju itu.


"Kenapa aku terus memikirkannya? Arrgghh…," keluh Diani.


***


Sore itu Diani pulang dengan wajah lelah, hari ini begitu banyak pekerjaan yang menyita waktunya. Dia membuka pintu, berjalan masuk dengan wajah lesu dan langsung menuju kamarnya. Menghempaskan tubuhnya diatas ranjang.


Diani tidur terlelap, hingga dia terbangun karena mendengar suara ketukan pintu. "Apa Ujang udah pulang? Biasanya lama," gumam Diani. Dia berjalan keluar kamar untuk membuka pintu.


"Bu Kartini, ada apa Bu? Masuk dulu Bu…!" Ucap Diani.


Bu Kartini pun duduk dan menyampaikan apa yang ingin dia katakan, ini memang serius. "Diani, ibu minta maaf sebelumnya, tapi ibu minta kontrakan ini dikosongkan Minggu depan. Ibu tidak lagi mengkontrakannya, karena anak ibu yang ada di luar kota akan menempati rumah ini."


"Kok mendadak sekali sih Bu? Semoga saja aku dapat kontrakan lain secepatnya Bu, mengingat di daerah sini sulit mendapatkan kontrakan nyaman dengan harga murah," jawab Diani.


"Ibu harap kamu bisa mengerti ya?" Ucap Bu Kartini.

__ADS_1


Diani mengangguk pelan, Bu Kartini juga sudah tidak ada dihadapannya lagi. Diani menatap langit-langit kamarnya. Dia bingung harus pindah kemana.


Bersambung …


__ADS_2