
Diani begitu kaget saat Fani menyebutkan nama suaminya, dia tidak menyangka jika Ujang akan datang menjemput dirinya. Dia langsung menoleh ke arah telunjuk Fani.
Benar itu Ujang dan buket bunga ditangannya. Batin Diani.
"Hus, kamu ini. Yaudah aku duluan ya Fan, udah dijemput ayang tuh, hehe…," ucap Diani.
Fani hanya menggeleng-gelengkan kepalanya menyaksikan sahabatnya yang kini sombong memamerkan suaminya yang dulu bahkan sangat dibencinya. Dia sepertinya sedang dimabuk cinta, benci dan cinta memang beda tipis, batin Fani.
Diani berjalan dengan cepat, tapi sesekali dia akan menunduk. Dia tidak berani menatap lurus dan langsung tertuju pada mata Ujang. Rasanya begitu malu dan membuat jantung Diani berdetak tak karuan, hari ini memang hari bahagia bagi mereka, awal bahagia dan berharap selamanya akan seperti itu.
Ujang membukakan pintu mobil untuk istrinya, memberikan buket bunga itu sambil tersenyum. "Bunga cantik untuk istriku yang juga cantik," ucap Ujang.
Dibilang cantik oleh Ujang membuat Diani senang, ada rasa bangga di dalam hatinya. Dia yakin kalau Ujang pasti sangat mencintainya. "Makasih kang," jawab Diani, dia menerima bunga itu lalu masuk ke dalam mobil.
Saat Diani melihat ke arah luar jendela mobil, ternyata banyak karyawan yang memperhatikan mereka dari tadi. Diani memalingkan wajahnya karena malu, dia juga tidak mau menjadi bahan gosip besok.
"jalan sekarang aja Kang..!" pinta diani. "Kok tumben ngejemput aku Kang?" Tanya Diani.
"Pengen aja Neng, takut Neng diambil orang, hehe…," jawab Ujang.
"Si Akang bisa aja," ucap Diani. Jauh dilubuk hatinya, dia sedang merasakan melayang tinggi karena pujian Ujang. Tapi dia berusaha bersikap biasa karena tidak mau salah tingkah disaat bersama suaminya itu. Jika salting Diani akan mengacaukan semuanya, itulah yang dipikirkan Diani.
***
__ADS_1
Malam pun tiba, sekitar pukul 19.30, Arin mengajak semua orang yang ada dirumah untuk pergi ke pasar malam. Ujang mengangguk setuju, Bu Edoh aplagi, dia ingin berbelanja makanan dan pakaian. Sementara Arin ingin mencoba beberapa permainan, mereka sangat semangat sekali.
"Neng, siap-siap ya..! Kita akan pergi ke pasar malam," ucap Ujang menghampiri Diani yang sedang sibuk dengan laptopnya.
"Sekarang Kang?" Tanya Diani.
"Iya, kalau Neng gak ikut nanti kesepian dirumah sendirian," ucap Ujang.
Diani pun bergegas mengganti pakaiannya, dia memilih beberapa baju dan menjejerkannya diatas ranjang.
"Baju mana ya yang cocok? Aku harus terlihat cantik agar Ujang tidak melirik wanita lain," gumam Diani.
Wanita itu mencoba beberapa baju cukup lama, hingga suara Ujang membuatnya berhenti mencoba karena itu hanya akan membuang-buang waktu. Diani bergegas memoles bedak tipis dan lipstik berwarna soft.
Sesampainya di pasar malam, mereka berpisah. Bu Edoh dan Arin beralasan ingin berbelanja dulu dan membiarkan Ujang berduaan dengan istrinya. Itu bukan hanya kebetulan tapi itu sebagian rencana mereka untuk membuat pasangan muda itu lebih saling mengenal.
"Itu kan kora-kora Neng, beneran mau naik yang itu? Naik komedi putar aja Neng..!" Jawab Ujang.
"Gak mau, kayak anak kecil tau Kang, naik kuda-kudaan gitu," protes Diani.
"Hmm… yaudah Akang beli tiketnya dulu. Satu aja?" Tanya Ujang. Lelaki itu berharap Diani berani naik wahana mengerikan itu sendirian.
"Dua Kang, masa aku naik sendirian, temenin ya?" Ucap Diani sambil mengedip-ngedipkan matanya.
__ADS_1
"Neng Ani sedang merayu Akang nih?" Tanya Ujang.
"Enggak kok, yaudah Kang cepetan!" Ucap Diani mengalihkan pembicaraan.
Kasian juga Neng Ani pengen ditemenin, masa aku tega cuman liatin aja, yaudah beli dua tiket. Bismillah…, batin Ujang.
Ujang memesan dua tiket, saat ingin memberikan uangnya, tangan Ujang bergetar seperti sedang cemas akan sesuatu hal. Ujang berjalan perlahan, dia seakan ingin menghentikan waktu, atau memutar ulang ke waktu sebelumnya dan tidak akan berangkat kesini. Ujang seakan menyesal karena memutuskan datang ke sini.
"Mana tiketnya Kang, aku udah gak sabar?" Tanya Diani.
"Ini Neng, dua kan?" Jawab Ujang.
Diani menerima dua tiket itu, wanita itu menarik lengan Ujang untuk antri karena permainan kora-kora akan berhenti dan dilanjutkan oleh penumpang lain.
"Neng, kita beli minuman dulu aja yuk!" Ajak Ujang. Tangannya mulai berkeringat dingin.
"Masa mau naik ini bawa minuman sih Kang, naik dulu aja Kang, nanti kita beli minuman sama makanan setelah selesai," jawab Diani menolak usul Ujang.
Ya Robb… tolonglah hambamu ini, batin Ujang.
Mereka kini duduk berdampingan, "Kang pegangin tangan aku, aku takut!" Ucap Diani berbohong. Padahal dia sering menaiki wahana yang sedikit menyeramkan ini.
"Iya Neng, Akang disini kok," jawab Ujang so romantis, padahal jantungnya sedang berdetak tak beraturan. Bukan karena berpegangan tangan dengan wanita yang dia cintai melainkan ada alasan lain.
__ADS_1
Mereka berpegangan tangan, Diani merasakan keringat dingin pada tangan Ujang. Apa dia sedang merasa takut atau grogi? Batin Diani. Diani menatap wajah Ujang begitu serius.
Bersambung …