Kejutan Dari Emak (Perjodohan)

Kejutan Dari Emak (Perjodohan)
Rumah Baru


__ADS_3

Setelah siap dengan jaket yang tebal karena memang hari sudah gelap, tiba-tiba Ujang menyuruhnya untuk membawa beberapa baju ganti yang nyaman. Baju untuk bekerja besok juga tak lupa dibawanya.


"Apa kita mau menginap Kang, tapi diamana?" Tanya Diani.


"Bisa dibilang begitu sih Neng, hmm...," jawab Ujang.


Apa Ujang akan membawaku menginap di hotel? Masa sih? Batin Diani.


"Memangnya kita akan menginap dimana Kang?" Tanya Diani lagi. Dia mulai gelisah, dia tidak mau dibawa ke tempat yang aneh-aneh bukan.


"Ikut aja Neng, nanti juga tahu," jawab Ujang.


"Malah main rahasia-rahasiaan lagi," ucap Diani kesal, tapi dia tetap membawa tasnya menuju mobil. Beberapa detik kemudian, Ujang mengambil barang bawaan Diani yang lumayan berat.


Nah gitu dong, sesekali peka, batin Diani. Wanita itu mengikuti Ujang dari belakang, tak lupa dia mengunci pintu kontrakannya. Dia bergegas mengejar Ujang yang sudah ada didalam mobil.


"Main tinggal aja, baru juga dipuji peka, hmm…" gumam Diani.


Perjalanan itu ternyata tak menghabiskan waktu lama, Diani begitu was-was, setiap melewati hotel maka dirinya akan menutup matanya berharap Ujang tak membawanya kesana. Wanita ini sepertinya belum siap mengingat hubunga mereka yang bahkan belum dimulai sama sekali. Meski status mereka sah sebagai suami istri, tapi nyatanya status mereka hanya cangkang saja, yang pasti hanya sekedar teman serumah saja.


Mobil Ujang memasuki rumah berpagar hitam. Ujang turun terlebih dahulu untuk membukakan gerbangnya. Diani yang masih penasaran sekaligus bingung, dia hanya diam didalam mobil sambil melihat sekeliling.


"Rumah siapa? Kok gak ada yang jaga. Ujang sampe buka gerbangnya sendiri," guamam Diani.


Tak lama Ujang kembali duduk dan mengemudikan mobilnya masuk ke dalam halaman rumah, melewati pagar yang sempat dibuka Ujang. "Kang, ini rumah siapa?" Tanya Diani.


"Rumah orang atuh Neng, masa rumah hantu," jawab Ujang menggoda Diani.

__ADS_1


"Yaelah Kang, aku nanyanya serius loh," ucap Diani kesal.


Namun Ujang tak menghiraukan istrinya yang mulai kesal, dia tidak mau berbicara banyak mengenai rumah ini. Dia ingin menjelaskannya setelah mereka masuk ke dalam dan melihat semuanya.


Ujang turun dengan membawa tas milik Diani, "neng ayo turun..! Akang mau tutup gerbangnya dulu ya," ucap Ujang.


Diani patuh, dia turun dan menunggu didepan mobil. Dia malas harusbertanya tapi tidakendapatkan jawban, Diani memilih diam.


Ceklek


Pintu rumah itu pun terbuka, terlihat didalam isinya lengkap. Sudah ada banyak barang-barang elektronik dan Furniture. Saat Diani memperhatikan foto yang menempel di dinding, dia begitu terkejut karena melihat foto pernikahannya disana.


Deg!


Apa Ujang membeli rumah ini? Batin Diani.


"Bagus Kang," jawab Diani.


"Neng suka gak? Kita akan tinggal disini untuk seterusnya," jawab Ujang.


"Apa? Jadi… Akang membeli rumah ini, kok gak bilang dulu sama aku?" Tanya Diani. Wanita itu akan merasa tidak enak, apalagi melihat rumah yang nyaman sekali dan besar. Jika dia ikut memilih, mungkin akan membeli yang lebih kecil dari yang sekarang dia lihat.


"Kan kejutan atuh Neng, sebenarnya sebelum pulang kampung. Akang ketemu Bu Kartini, beliau bilang kontrakannya mau dipakai saudaranya. Jadi Akang cari rumah aja sekalian, kemarin di kampung lebih lama karena mengurus ini dulu," jawab Ujang.


"Jangan bilang kalau Akang habis jual tanah? Gak usah maksain Kang, kita cari kontrakan aja lagi..!" Ucap Diani.


"Gak ko, ini tabungan Ajang digabung sama hasil panen kemarin. Hasil panen bapak juga dikasih ke Akang karena beliau tahu niat Akang ini," jawab Ujang.

__ADS_1


"Hmm … aku jadi ngerasa gak enak. Tapi, makasih ya Kang, rumahnya juga nyaman," jawab Diani dengan senyumannya.


Wanita itu tentu merasa spesial di mata Ujang, buktinya dibelikan rumah segala. Rumah yang tentunya mempertimbangkan rasa nyamannya.


"Sama-sama Neng," ucap Ujang kemudian berjalan didepan, memperlihatkan kamar utama. Kamar yang cukup besar untuk mereka berdua, itupun jika Diani sudah mengizinkan Ujang tidur disana.


"Neng tidur dikamar ini ya..! Akang tidur dikamar tamu aja. Gapapa kok, takutnya Neng masih belum nyaman dan terbiasa kalau ada Akang," ucap Ujang, kemudian dia berbalik menuju pintu.


Kenapa gak tidur disini aja sih? Apa aku harus mengatakan jika aku ingin ditemani tidur olehnya? Hmm… jangan Diani! Nanti Ujang berpikir yang aneh-aneh lagi, biarkan saja kalau dia ingin tidur dikamar lain, batin Diani.


Tangan Diani terulur ke depan, seakan ingin menghentikan Ujang, tapi dia urungkan niat itu. Dia bergegas ke kamar mandi yang ada dikamarnya dengan menghentak-hentakkan kakinya.


***


Keesokan harinya Diani izin tidak masuk kerja karena ingin membereskan barang lamanya di kontrakan sebelumnya. Ujang pun sama, hari ini dia tidak bekerja bersama Siska temannya itu.


"Neng ambil barang yang penting aja, disini kan udah komplit Neng..!" Ucap Ujang.


"Iya Kang, tapi sayang. Jual aja sebagian, kulkas sama mesin cuci juga kan lumayan kalau dijual Kang, uangnya kita bagikan aja sama orang yang membutuhkan," jawab Diani.


Ujang pun mengangguk setuju. Hari itu mereka sibuk mengeluarkan barang mereka, di sana sudah ada orang yang siap membeli barang Diani, membuat pekerjaan mereka semakin mudah dan akan cepat selesai.


Setelah barang selesai diangkut dan Diani menerima uangnya. Mereka dikagetkan dengan kedatangan dua orang yang mereka kenal.


"Loh, kok barangnya diangkutin gini sih Jang? Apa kamu kekurangan uang sampai menjual barang? Padahal kan kemarin habis panen," ucap wanita itu heran.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2